BANARAN DALAM PELUKAN LERENG: Trenggalek dan Luka yang Tak Pernah Kering
-Baca Juga
Trenggalek, Jawa Timur — Suara adzan Isya baru saja memudar di lembah Bendungan, ketika bunyi gemuruh dari perbukitan Dusun Banaran, Desa Depok, memecah kesunyian malam. Tanah yang jenuh oleh hujan deras mendadak longsor, menimbun rumah sederhana milik Sarip (60). Seketika, malam itu berubah menjadi duka panjang bagi satu keluarga dan seluruh warga lereng Trenggalek selatan.
Warga berlarian menembus gelap dan hujan. “Kami cuma dengar suara tanah seperti runtuh, lalu teriakan minta tolong,” tutur Sugiarto, tetangga korban, dengan suara parau. Tak lama, tim gabungan BPBD, Basarnas, TNI, dan Polri datang ke lokasi. Namun, waktu tak berpihak. Dua jasad ditemukan di bawah reruntuhan rumah: Sarip dan istrinya, Welas (53). Dua anak mereka, Fajar (17) dan Rohman (14), hingga pagi masih dalam pencarian. Seorang korban selamat, Wiji (37), kini menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Soedomo Trenggalek.
Lereng yang Selalu Rawan
Dusun Banaran bukan nama baru dalam daftar bencana. Desa Depok, Kecamatan Bendungan, berada di kawasan zona kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi, sebagaimana diklasifikasi oleh Badan Geologi Kementerian ESDM. Struktur tanah vulkanik tua dengan kemiringan lebih dari 35°, ditambah curah hujan tinggi dan tata air yang buruk, menjadikan wilayah ini “bom waktu” setiap kali musim hujan tiba.
BPBD Trenggalek mencatat sedikitnya 12,39% wilayah Kecamatan Bendungan masuk kategori “rawan tinggi” longsor. Sejak 2019, peristiwa serupa terjadi berulang kali di titik yang nyaris sama: Banaran, Kebonagung, hingga Tamanan. Dalam setiap musim penghujan, warga hidup di antara doa dan kekhawatiran.
Respons Cepat, Tapi Tantangan Tak Selesai
Bupati Trenggalek memerintahkan evakuasi penuh malam itu. Tim gabungan segera menyingkirkan material longsor, mengevakuasi korban ke RSUD dr. Soedomo, dan menyiapkan tenda darurat bagi warga terdampak. Dapur umum, relawan PMI, dan Tagana pun siaga.
Namun langkah darurat ini hanyalah pereda sementara. “Kami selalu diingatkan untuk waspada, tapi mau pindah ke mana? Semua keluarga kami di sini,” ujar Suparmi, warga RT 02 Dusun Banaran.
Di sisi lain, laporan Badan Geologi menegaskan perlunya relokasi permanen bagi warga di zona merah. Pemerintah Kabupaten sebenarnya telah menyiapkan lahan relokasi di kawasan lebih aman, namun terbatasnya anggaran dan lambannya proses pembebasan lahan membuat program itu jalan di tempat.
Solusi di Tengah Anomali Cuaca
BMKG memperingatkan, anomali cuaca dan peningkatan intensitas hujan akibat fenomena La Niña lemah masih berpotensi hingga awal tahun depan. Ini berarti ancaman longsor belum akan berakhir.
Pakar kebencanaan dari Universitas Brawijaya, Dr. Eko Budi Santoso, menyebut langkah mitigasi harus segera ditingkatkan:
“Solusi jangka pendek adalah penataan drainase dan vegetasi lereng. Tapi solusi jangka panjang tetap relokasi dan edukasi masyarakat berbasis risiko. Karena di wilayah ini, hujan tidak bisa dicegah, tapi bencana bisa diminimalkan.”
Selain relokasi, BPBD bersama warga kini mulai menghidupkan kembali “Siskamling Lereng”, semacam sistem kewaspadaan dini berbasis warga. Warga Banaran bergiliran berjaga di malam hari saat hujan deras, memantau retakan tanah, dan siap melakukan evakuasi mandiri bila ada tanda bahaya.
Menanam Harapan di Lereng Luka
Ketika pagi merekah di Banaran, aroma tanah basah dan asap dapur umum berpadu di udara. Di antara reruntuhan rumah Sarip, para relawan menggali dengan sabar. Tak hanya mencari tubuh, tapi juga mencari cara agar tragedi ini tak terus berulang.
Mungkin, sebagaimana kata orang tua Banaran, “tanah yang longsor bukan hanya karena hujan, tapi karena manusia terlalu lama menunda ikhtiar.”
Kini, Trenggalek bukan hanya harus berduka tapi juga belajar untuk menanam harapan baru di atas lereng yang retak.
INFO LAPANGAN
Lokasi: Dusun Banaran, Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Jatim
Korban meninggal: 2 orang (Sarip, Welas)
Korban luka: 1 orang (Wiji)
Korban hilang: 2 orang (Fajar, Rohman)
Dirawat di: RSUD dr. Soedomo Trenggalek
Lembaga penanganan: BPBD Trenggalek, Basarnas, Polri, TNI, Tagana, PMI
Status lokasi: Zona kerentanan gerakan tanah menengah tinggi (data Badan Geologi ESDM)
Solusi Mitigasi Bencana Longsor (Trenggalek dan Wilayah Rawan Lainnya)
🔹 Zona Risiko:
Kecamatan Bendungan, Kampak, Dongko, dan Munjungan (rawan tinggi).
Wilayah dengan kemiringan >40° dan jenis tanah latosol.
Titik Dusun Banaran, Desa Depok, masuk jalur potensi longsor menengah–tinggi (berdasarkan peta PVMBG).
🔹 Faktor Pemicu:
Curah hujan ekstrem >100 mm/hari.
Lereng curam dan kondisi tanah jenuh air.
Aktivitas penebangan pohon di hulu sungai.
Drainase yang tersumbat di jalur pemukiman.
🔹 Mitigasi Sebelum Longsor:
1. Tanam pohon berakar kuat seperti vetiver, bambu, dan sengon.
2. Pasang terasering dan drainase lereng.
3. Bangun dinding penahan tanah sederhana dari karung pasir.
4. Sosialisasi tanda-tanda awal: retakan tanah, pohon miring, atau air keruh keluar dari tanah.
5. Bentuk tim tanggap darurat desa (Destana).
🔹 Saat Longsor Terjadi:
Segera evakuasi ke titik aman (tanah lapang atau balai desa).
Hindari berada di tebing, jembatan, atau dekat sungai.
Catat dan laporkan korban ke posko BPBD.
🔹 Setelah Longsor:
Pembersihan material dilakukan bersama TNI–Polri & BPBD.
Relokasi warga ke rumah aman sementara.
Pemeriksaan geoteknik ulang sebelum pembangunan kembali.
🔹 Data Cepat (Update 2 November 2025):
1 keluarga terdampak di Dusun Banaran, Desa Depok, Kec. Bendungan.
Korban luka berat dirawat di RSUD dr. Soedomo Trenggalek.
BPBD Trenggalek membuka posko siaga darurat 24 jam.
“Musim hujan datang bukan untuk menakut-nakuti, tapi mengingatkan kita agar tak menunda kesiapsiagaan. Karena bencana hanya tampak besar bagi mereka yang tak siap.
