Zaenal Abidin RELAWAN BIRUNYA CINTA MOJOKERTO JAWA TIMUR
Matahari Kamis 23 Juli 2026 baru saja melangit setinggi galah saat panggilan itu datang. Suara gemetar seorang ibu dari pelosok Sooko, Mojokerto, memecah kesibukan Zaenal Abidin.
"Mas... tolong... ada ular besar merayap di kolong tempat tidur... kami takut sekali..."
Tanpa ragu sedikitpun, Zaenal meraih perlengkapan. Bagi relawan "Birunya Cinta", permintaan pertolongan adalah perintah yang tak boleh ditunda. Di dadanya, selalu berkobar tekad apa yang bisa kulakukan untuk meringankan beban orang lain, akan kusegerakan.
Dua ekor ular kobra yang tubuhnya bergeliat penuh ancaman, berhasil dievakuasi dengan sigap. Zaenal menyimpannya ke dalam tas ransel biru yang selalu ia cangklong di punggung warna yang menjadi lambang pengabdiannya. Ia sengaja tak menutup rapat resleting tas itu, memberi celah agar hewan-hewan itu tetap mendapat udara. Biarlah mereka bernapas lega sebelum dipindahkan ke tempat aman, pikirnya polos, tak menyangka niat baik itu kelak menjadi jeratan.
Setelah lelah berjuang, perutnya terasa perih lapar. Ia mampir ke sebuah kedai bakso tak jauh dari sana. Kuah panas yang mengepul, harum daging yang menggugah selera, sejenak melupakan rasa lelah di pundaknya. Namun tiba-tiba...
"Aaaa! Ular! Ada ular lepas!"
Jeritan histeria memecah keramaian. Tamu kedai berlarian berhamburan, kursi meja terjungkal. Jantung Zaenal seakan berhenti berdetak. Resleting tas yang dibiarkan terbuka sedikit ternyata cukup bagi salah satu kobra untuk meloloskan diri. Dengan sigap namun hati-hati, ia kembali menahan leher ular yang sedang melayang mengancam siapa saja yang lewat.
Namun nasib berkata lain. Saat ular itu kembali didesak masuk ke dalam tas, kepala kobra berputar cepat. Sekali, dua kali taring tajamnya merobek kulit telapak tangan kanan dan kiri Zaenal sekaligus.
"Sial..." gerutunya pelan.
Dalam sekejap, rasa panas menyengat merambat dari bekas gigitan ke seluruh lengan. Kulit yang terkena taring itu perlahan berubah menjadi biru pekat, lalu bengkak besar seketika. Kekuatan lenyap begitu saja. Ia tak sanggup lagi menggenggam setang motor, apalagi mengendarainya. Dengan tangan yang sudah tak berbentuk, ia menekan tombol panggil rekan-rekannya di Damkar Mojokerto.
Sirine pemadam kebakaran segera menderu membelah jalan, membawa Zaenal tergesa ke tempat pertolongan pertama. Racun yang menyebar cepat membuat kesadarannya sempat terbayang-bayang, namun di telinganya terus bergema doa orang-orang yang pernah ia tolong.
Sabtu siang, 25 Juli 2026. Cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah jendela Ruang Kertabumi, RSU Dr. Wahidin Sudirohusodo Kota Mojokerto. Operasi pembersihan racun baru saja selesai dilaksanakan pagi tadi, namun rasa perih masih terasa merambat ke setiap sendi tubuhnya.
Barisan rekan-rekan relawan, influencer, hingga kreator konten kini memenuhi ruangan itu dengan penuh haru. Salah seorang dari mereka membawa kotak bekal berisi nasi hangat dengan lauk kesukaan Zaenal, berharap sahabatnya segera punya tenaga kembali.
Namun saat suapan pertama mendekat ke bibir, seketika rahangnya terasa berat sekali. Saat butiran nasi itu turun, kerongkongannya terasa perih menyengat. Seluruh badannya terasa ngilu, seolah tak ada satu pun bagian yang tak terasa sakit. Ia menggelan pelan, suara seraknya terdengar lemah.
"Maaf... sepertinya... belum sanggup menelan nasi... rasanya sakit semua..."
Matanya berkaca sedikit, lalu ia melanjutkan pelan.
"Mungkin... kalau ada bubur hangat... atau sup bening... itu lebih bisa masuk..."
Segera saja salah satu rekannya bergegas mengangguk. "Tenang Zee, sebentar kami carikan. Kamu istirahat saja dulu ya."
Di balik kain perban yang melilit kedua tangannya yang masih bengkak, Zaenal mencoba tersenyum tipis. Meski badannya terasa remuk, hatinya terasa hangat diselimuti perhatian mereka. Ia sadar, mengabdi pada sesama memang tak pernah lepas dari risiko. Namun melihat kasih sayang yang datang menyapa, ia tahu setiap tetes keringat dan rasa sakit yang ia rasakan, tak pernah sia-sia.
Dan kini, ribuan doa menyelimuti "Birunya Cinta" itu, berharap kebaikan yang ia tabur kini kembali menyembuhkan dirinya sepenuhnya.
Luka di Balik Niat Mulia
Mata sore menyelinap lembut lewat jendela Ruang Kertabumi. Di atas meja kecil di samping ranjang, piring berisi nasi hangat dan lauk kesukaannya masih utuh tak tersentuh. Rekan-rekan yang tadi bersorak gembira melihatnya sadar, kini menunduk haru saat mendengar permintaannya yang begitu lemah.
"Baik Zee, tenang saja. Kami segera cari bubur ayam hangat, biar mudah ditelan," ujar salah satu kreator konten yang sejak tadi merekam perjalanannya dengan penuh rasa hormat.
Tak lama kemudian, mangkuk berisi bubur hangat berkuah bening tersaji di hadapannya. Dengan hati-hati, seorang sahabat menyendok perlahan membawanya ke bibir. Begitu suapan pertama meluncur turun, rasa hangat itu seolah merawat kerongkongannya yang terasa perih. Meski masih terasa ngilu di persendian, setidaknya tak ada lagi rasa tertusuk saat ia menelan.
Zaenal tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca menatap kerumunan orang yang mengelilinginya orang-orang yang ia kenal, dan banyak pula yang baru pertama kali ia temui, namun datang membawa kasih sayang yang tulus.
"Terima kasih... terima kasih sudah datang," suaranya terdengar serak namun lembut. "Sebenarnya... tak perlu repot-repot begini. Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan. Kalau ada yang butuh tolong, ya kita bantu. Itu saja..."
Salah satu relawan menepuk pelan bahu sahabatnya. "Itulah kenapa kami semua ada di sini, Zee. Kamu tak pernah menghitung untung rugi saat menolong. Sekarang giliran kami yang menjagamu. Kamu istirahat dulu, pulihkan tenagamu. Masih banyak warga yang nantinya butuh bantuanmu."
Malam pun perlahan turun. Satu per satu orang berpamitan, namun tak ada yang pergi tanpa mendoakan. Di luar jendela rumah sakit, doa-doa mereka menyatu dengan doa ribuan orang yang melihat beritanya lewat layar gawai.
Zaenal kembali memejamkan mata, merasakan denyut nyeri di kedua tangannya yang masih dibalut perban. Namun di tengah rasa sakit itu, hatinya terasa damai. Ia tahu, jalan pengabdian tak selamanya mulus. Kadang ia harus merasakan pedih demi melindungi orang lain.
Namun selama napas masih berhembus, dan selama tangan masih bisa digerakkan ia tak akan pernah berhenti menjadi "Birunya Cinta" yang selalu siap sedia bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan.
Kisah ini terinspirasi dari keteguhan hati Zaenal Abidin, sosok relawan yang mengajarkan kita. kebaikan yang tulus tak pernah sia-sia, walau kadang harus dibayar dengan rasa sakit. Semoga beliau lekas pulih sepenuhnya dan kembali berkarya untuk masyarakat.
Penulis: Dara Jingga
Editor: Pamugas Bhayaraja Dharmapraja