DARI MEDAN BHAYANGKARA MENUJU MEDAN BAKTI. Tambakberas Menjaga Nyawa Muktamar NU ke 35 ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

DARI MEDAN BHAYANGKARA MENUJU MEDAN BAKTI. Tambakberas Menjaga Nyawa Muktamar NU ke 35

-

Baca Juga





Ketika Tiga Posko Kesehatan Bersiaga 24 Jam di Tanah Bersejarah yang Pernah Menjadi Arena Perang Majapahit

"Langit Tambakberas semakin sibuk. Siang dipenuhi suara kendaraan logistik, malam diterangi lampu-lampu pekerja yang nyaris tak pernah padam. Di sela hiruk-pikuk persiapan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, ada satu pasukan yang tidak membangun panggung, tidak memasang spanduk, dan tidak menyusun kursi sidang. Mereka menyiapkan sesuatu yang jauh lebih penting, menjaga keselamatan ribuan manusia."


Tambakberas hari ini bukan sekadar sebuah kawasan pesantren di Kabupaten Jombang. Ia adalah ruang yang mempertemukan sejarah, peradaban, dan masa depan.

Berabad-abad silam, kawasan di sekitar Sungai Tambakberas dikenal dalam kisah Kerajaan Majapahit sebagai tempat terjadinya pertempuran antara Laksamana Kebo Anabrang dan Ranggalawe. Dalam tradisi tutur Jawa, pertempuran itu menjadi simbol berakhirnya sebuah pemberontakan di awal berdirinya Majapahit. Kini, di kawasan yang sama, suara senjata telah lama berganti dengan lantunan ayat suci, kajian kitab, dan denyut kehidupan pesantren.

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, sejarah kembali bergerak. Namun kali ini, yang dipersiapkan bukan strategi perang, melainkan strategi pelayanan.

Di balik panggung utama, ruang sidang, dan gegap gempita kedatangan ribuan peserta, panitia menyiapkan lini pertahanan yang nyaris tak terlihat oleh publik, sistem layanan kesehatan terpadu yang akan bekerja tanpa henti selama 24 jam.


OPERASI KESEHATAN MUKTAMAR NU KE-35

Pelaksanaan 27–31 Agustus 2026

Perkiraan Peserta ±6.000 peserta resmi

Penggembira Diperkirakan ribuan Nahdliyin dari berbagai daerah, termasuk tamu luar negeri.

Sistem Pelayanan 24 jam nonstop

Jumlah Posko 3 Posko Kesehatan


TIGA TITIK PENJAGA KESELAMATAN

Bagi sebagian orang, posko kesehatan hanyalah tenda dengan beberapa tempat tidur pasien. Namun bagi panitia Muktamar, posko kesehatan adalah simpul pertama dalam sistem penyelamatan peserta.

Koordinator Bidang Kesehatan Panitia Muktamar ke-35 NU, dr. HM Zulfikar As'ad (Gus Ufik), memastikan tidak ada jeda pelayanan selama lima hari pelaksanaan. Tiga posko kesehatan ditempatkan di lokasi-lokasi strategis, yaitu: Universitas Wahab Hasbullah (Unwaha), MAN 3 Jombang, MTsN Bahrul Ulum Tambakberas.

Ketiga titik tersebut dipilih agar mampu menjangkau kawasan sidang, penginapan, dan konsentrasi massa dengan waktu respons yang cepat.

Setiap posko diperkuat dokter, perawat, ambulans, serta ruang tindakan awal. Fungsinya bukan sebagai rumah sakit lapangan, melainkan sebagai garda terdepan untuk melakukan asesmen medis, stabilisasi pasien, dan menentukan kebutuhan rujukan.


ALUR PENANGANAN MEDIS PESERTA

Peserta Mengalami Keluhan

Posko Kesehatan Terdekat

Pemeriksaan Dokter

Penanganan Awal

Stabil → Kembali mengikuti kegiatan

Memerlukan Perawatan Lanjutan → Rujukan ke RSUD Jombang atau RSUD Ploso


KOLABORASI MENJAGA KESELAMATAN

Persiapan kesehatan Muktamar tidak dibangun oleh satu institusi.

Panitia merajut kolaborasi antara unsur profesi, organisasi kesehatan NU, dan pemerintah.

Di antaranya, Persatuan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU), Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (ARSINU), Lembaga Kesehatan PCNU Jombang, PWNU Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Sejumlah rumah sakit swasta juga dijadwalkan mengisi jadwal pelayanan, sementara RSUD Jombang dan RSUD Ploso disiapkan sebagai rumah sakit rujukan utama.

Model kolaborasi ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dalam Muktamar tidak hanya mengandalkan sumber daya internal NU, tetapi juga menjadi kerja bersama lintas institusi.


SIAPA YANG BERJAGA? Dokter, Perawat, Ambulans, Relawan Kesehatan, Tim Rujukan, Rumah Sakit Mitra, Dinas Kesehatan


DIGITALISASI DI TENGAH TRADISI

Di tengah suasana pesantren yang lekat dengan tradisi, panitia menghadirkan pendekatan modern.

Seluruh rekam medis peserta dirancang menggunakan sistem digital melalui kerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jombang.

Artinya, setiap pasien yang datang ke posko kesehatan dapat dicatat secara real-time. Riwayat pemeriksaan, keluhan, tindakan medis, hingga kebutuhan rujukan terdokumentasi dalam satu sistem yang memudahkan koordinasi antar tim.

Langkah ini bukan sekadar efisiensi administrasi. Data yang terkumpul akan menjadi bahan evaluasi pasca-Muktamar untuk mengukur pola penyakit, jumlah kunjungan, efektivitas pelayanan, hingga penyusunan standar operasional pada kegiatan serupa di masa mendatang.


TIMELINE KESEHATAN MUKTAMAR

Pra-Muktamar

Koordinasi panitia pusat dan lokal.

Pemetaan risiko kesehatan.

Penentuan lokasi posko.

Pelaksanaan

Posko aktif 24 jam.

Layanan medis.

Ambulans siaga.

Sistem digital berjalan.

Rujukan

RSUD Jombang.

RSUD Ploso.

Pasca-Muktamar

Rekapitulasi data.

Evaluasi pelayanan.

Penyusunan laporan resmi.


CATATAN 

Di balik kesiapan yang telah dipaparkan panitia, terdapat sejumlah aspek yang layak menjadi perhatian publik selama pelaksanaan Muktamar nanti.

Pertama, efektivitas distribusi tenaga medis ketika terjadi lonjakan pasien secara bersamaan.

Kedua, kecepatan sistem rujukan menuju rumah sakit apabila terjadi kondisi gawat darurat.

Ketiga, keandalan sistem rekam medis digital, termasuk kesiapan jaringan komunikasi dan perlindungan data pasien.

Keempat, koordinasi antara posko kesehatan, ambulans, dan rumah sakit rujukan dalam menghadapi situasi yang membutuhkan respons cepat.

Keberhasilan layanan kesehatan tidak hanya diukur dari banyaknya pasien yang ditangani, tetapi juga dari kemampuan sistem mencegah keterlambatan penanganan serta menjaga keselamatan peserta.


Langit Tambakberas hari ini tidak lagi dipenuhi debu peperangan sebagaimana kisah masa Majapahit. Di tanah yang sama, semangat pengabdian mengambil bentuk yang berbeda. Dokter, perawat, relawan, dan para petugas kesehatan berdiri di garis depan, bukan untuk mengangkat senjata, melainkan mengulurkan tangan kepada siapa pun yang membutuhkan pertolongan.

Jika dahulu sejarah mencatat Tambakberas sebagai tempat pertarungan, maka Muktamar ke-35 berpeluang menghadirkan narasi baru, sebuah ruang di mana tradisi pesantren, profesionalisme pelayanan, dan kepedulian kemanusiaan berjalan beriringan.

Dan ketika ribuan peserta kembali ke daerah masing-masing, keberhasilan Muktamar tidak hanya diingat dari hasil sidang atau keputusan organisasi, tetapi juga dari satu hal yang sering luput dari sorotan, bahwa setiap orang dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan rasa aman karena ada sistem pelayanan kesehatan yang bekerja siang dan malam menjaga mereka.




Writer: Dara Jingga 

Editor : Pamugas Bhayaraja Dharmapraja 

Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode