Perjalanan Membara di Tanah Majapahit
-Baca Juga
Langkah kakinya berat namun mantap. Setiap tapak kakinya seolah menancapkan tekad yang tak tergoyahkan. Hari itu, 8 Mei tahun 2026, ia melintasi desa-desa, mendaki bukit-bukit rendah, dan singgah di pasar-pasar rakyat, menyaksikan langsung apa yang tersembunyi di balik gemerlap pembangunan yang kerap terdengar di telinga para pejabat. Besok, tanah ini akan genap berusia 733 tahun sejak diangkat menjadi kabupaten, sebuah usia yang panjang, seolah menjadi saksi bisu dari jatuh bangunnya peradaban besar yang dulu pernah menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara.
"Apakah pembangunan ini sudah sampai ke pelosok desa? Apakah rakyat di sini sudah merasakan nikmatnya kemajuan?" gumam Gus Makruf pelan, matanya menatap sebuah jembatan kayu yang rapuh yang menjadi satu-satunya penghubung warga desa ke pasar utama.
Ia berhenti sejenak, mendekati sekelompok petani yang sedang duduk beristirahat di bawah pohon beringin tua. Wajah-wajah mereka kuyu, kulit mereka terbakar matahari, namun senyum mereka tetap terulas ketika melihat sosok pendekar yang dikenal sebagai pelindung rakyat itu datang. Gus Makruf duduk di samping mereka, mendengarkan keluh kesah yang mengalir deras bagaikan sungai yang meluap.
"Pembangunan jalan raya memang bagus, Pendekar, tapi di sini, di pelosok ini, jalanan masih berlumpur bila hujan turun," kata seorang petani tua sambil menghela napas panjang. "Harga hasil bumi kami murah sekali, tapi kebutuhan hidup makin mahal. Anak-anak kami ingin bersekolah tinggi, tapi biayanya berat. Bila sakit, kami harus berjalan jauh hanya untuk mendapatkan obat sederhana."
Hati Gus Makruf teriris mendengarnya. Inilah kenyataan yang seringkali tertutup laporan indah di atas kertas. Kesejahteraan yang belum merata, lapangan pekerjaan yang langka, layanan kesehatan dan pendidikan yang masih jauh dari jangkauan banyak warga. Padahal tanah ini adalah tanah pusaka Majapahit, tanah yang pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan, perdagangan, dan kekuasaan besar. Harapannya sederhana, agar rakyat di sini hidup sejahtera, toto tentrem kertoraharjo, damai, aman, makmur lahir dan batin, sebagaimana cita-cita luhur nenek moyang dulu.
Namun ia tahu betul, mengubah keadaan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sejak ia mulai mengemban amanat memperjuangkan nasib rakyat, ia telah berhadapan dengan banyak rintangan. Ada kekuatan gelap yang tidak senang melihat perubahan, ada kepentingan-kepentingan yang saling bertabrakan, ada hambatan birokrasi yang berbelit-belit, hingga ada bahaya yang mengancam nyawa sendiri.
Di ujung senja itu, Gus Makruf berdiri kembali, menatap ke arah timur, ke arah bekas-bekas reruntuhan candi dan situs peninggalan Majapahit yang masih berdiri kokoh meski dimakan zaman. Pusaka di punggungnya ia raba sekilas, seolah mendapatkan kekuatan baru dari senjata pusaka itu.
Gus Makruf Pimpinan Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa Juga Anggota DPRD Kabupaten Mojokerto
"Besok, saat hari jadi tanah ini diperingati, bukan sekadar perayaan semata yang harus ada," ucapnya tegas, suaranya bergema di antara pepohonan. "Tapi janji untuk membangun kembali kejayaan itu, bukan dengan pedang dan perang seperti dulu, melainkan dengan kesejahteraan rakyat, keadilan, dan kemajuan yang sampai ke setiap sudut desa."
Langkahnya kembali berlanjut ke desa berikutnya. Di matanya terlihat nyala api semangat yang tak akan pernah padam. Sebagai pendekar Pagar Nusa, ia bersumpah akan terus berjalan, berjuang, dan menegakkan kebenaran, meski rintangan setinggi gunung dan seberat langit menghadang di depan. Karena baginya, menjadi pendekar bukan hanya soal keahlian ilmu kanuragan, tapi soal memegang teguh amanat dan menjaga kesejahteraan orang banyak di tanah yang dicintainya ini.
Malam mulai menyelimuti Mojokerto, namun api harapan di dada Gus Makruf justru semakin berkobar, siap menyinari jalan bagi ribuan rakyat yang menanti perubahan.
Di Balik Dinding RS Islam Sakinah
Sore itu, mentari mulai merunduk ke barat, memancarkan sinar keemasan yang menyelinap lewat celah-celah jendela bangunan bersih dan tenang itu. Rumah Sakit Islam Sakinah berdiri kokoh di tengah kota Mojokerto, menjadi tempat harapan bagi banyak orang yang mencari kesembuhan. Hanya sehari menjelang peringatan Hari Jadi Kabupaten ke-733, Gus Makruf menyempatkan langkahnya singgah di sini, meninggalkan sejenak hiruk-pikuk persiapan seremonial, demi membesuk kerabat tercinta yang sedang berbaring menjalani perawatan.
Kedatangannya disambut hangat. Di ruang perawatan dan ruang tamu rumah sakit itu, telah berkumpul sejumlah rekan sejawat, para pendekar Pagar Nusa yang senasib sepenanggungan dalam menjaga nilai luhur, serta para pemimpin dan tokoh pengelola RS Islam Sakinah. Wajah-wajah yang hadir adalah wajah-wajah yang paham betul seluk-beluk kehidupan di tanah Majapahit ini, mereka yang dekat dengan rakyat, yang mendengar keluh kesah, dan yang melihat langsung apa yang tersembunyi di balik laporan-laporan indah di atas kertas.
Setelah bertanya kabar dan mendoakan kesembuhan kerabatnya, percakapan pun mengalir, makin dalam dan makin serius. Suasana yang awalnya hangat berubah menjadi berat, seolah udara di ruangan itu dipenuhi beban sejarah dan tanggung jawab besar. Di sana, di antara deretan kursi dan dinding putih rumah sakit, Gus Makruf membuka suara, menyampaikan apa yang telah ia saksikan dan dengar dalam perjalanan membaranya menyusuri setiap jengkal tanah Mojokerto, dari pinggir kota hingga ke pelosok desa yang terpencil.
"Saya berkeliling, menyusuri jalanan, turun ke sawah, berhenti di tepi sungai, duduk beralaskan tikar bersama rakyat kecil," suara Gus Makruf berat dan rendah, namun bergetar menembus hati setiap pendengar. "Mereka berbicara. Bukan sekadar keluh kesah lapar atau miskin, tapi sesuatu yang jauh lebih berbahaya, yang mengancam nyawa dan masa depan tanah ini."
Ia berhenti sejenak, matanya menatap tajam ke luar jendela, ke arah hamparan tanah yang dulunya subur dan hijau, warisan leluhur yang agung.
"Kondisi politik dan pemerintahan negeri ini, saudaraku... memerlukan perhatian serius, sangat serius," lanjutnya tegas. "Di banyak tempat, kebijakan tidak lagi berpihak pada rakyat, melainkan pada kepentingan segelintir orang yang haus keuntungan. Aturan seringkali diabaikan, hukum terasa tumpul bila menyentuh kekuasaan dan kekayaan. Dan di tanah Majapahit ini, ada satu masalah yang sudah sampai di ambang bencana, sudah di titik kritis yang tak boleh dibiarkan lagi."
Para pendekar dan tokoh yang hadir mencondongkan badan, napas mereka tertahan. Mereka tahu apa yang akan disampaikan.
"Galian C," ucap Gus Makruf lantang, satu kata yang membawa dampak dahsyat. "Pertambangan bahan galian C, pasir, batu, tanah liat yang bertebaran di mana-mana, tak terkontrol, tak terkendali. Rakyat bercerita pada saya, bukit-bukit hijau digunduli habis, lereng-lereng dibongkar hingga gundul tak berpenutup. Sungai-sungai yang dulu jernih tempat mereka mengambil air minum dan mengairi sawah, kini keruh pekat penuh lumpur dan limbah. Jalanan desa hancur lebur tergerus roda truk-truk raksasa yang hilir mudik siang malam, membawa kekayaan alam pergi, meninggalkan debu, kebisingan, dan kerusakan parah."
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, urat-urat di lengannya menonjol, sama tebal dengan tekad yang ada di dadanya.
"Tanah ini berdarah, saudaraku. Lingkungan hidup kita sedang dijarah dan dirusak habis-habisan. Bencana longsor, banjir yang makin sering datang, kekeringan yang makin panjang semua itu bukan sekadar kemar alam, tapi akibat ulah tangan manusia yang serakah, yang tidak peduli nasib generasi mendatang. Mojokerto genap berusia 733 tahun besok, usia yang sangat tua dan mulia. Tapi apa gunanya sejarah panjang, apa gunanya kejayaan masa lalu, jika tanah tempat kita berpijak kini rusak, rusak tak bisa kembali pulih?"
Seorang pendekar tua dari Pagar Nusa mengangguk berat, matanya berkaca-kaca. "Kami pun mendengar hal yang sama, Gus. Rakyat takut bicara, takut ditekan, takut dibungkam kekuatan besar di balik usaha-usaha galian itu.
Pertemuan sore itu di RS Islam Sakinah bukan sekadar kunjungan biasa. Di sana, para pendekar dan tokoh itu bersatu hati, menguatkan tekad. Gus Makruf sadar betul, rintangan ke depan akan makin berat. Di balik usaha pertambangan liar itu ada kekuatan besar, ada uang banyak, ada kekuasaan yang siap membungkam siapa saja yang berani melawan. Namun baginya, sebagai penerus ajaran Gus Maksum Lirboyo, sebagai pendekar rakyat, mundur selangkah sama artinya mengkhianati amanat rakyat dan sejarah Majapahit.
Saat ia melangkah keluar meninggalkan rumah sakit itu, langkahnya makin mantap, makin berisi tekad baja. Besok, saat matahari terbit menandai ulang tahun ke-733 tanah ini, ia tidak hanya akan datang sebagai tamu kehormatan. Ia akan datang sebagai suara rakyat yang terpinggirkan, sebagai pelindung alam yang sedang dirusak, dan sebagai pendekar yang berjanji akan terus berjuang, meski harus menempuh jalan berduri, meski harus berhadapan dengan kekuatan apa pun, demi menyelamatkan tanah Majapahit agar tetap lestari, subur, dan aman bagi anak cucu di masa depan.
Writer. : Dara jingga
