AIR PDAM TAK SELANCAR PERJALANAN KE TOKYO. Keran Kering di Magersari dan Sindiran Warga untuk Layanan Air Kota Mojokerto
-Baca Juga
Di Jalan Semeru, Kelurahan Magersari, Kota Mojokerto, air dari keran rumah warga tidak selalu mengalir.
Kadang hidup.
Kadang mati.
Kadang hanya menetes pelan seperti waktu yang berjalan lambat.
Sudah hampir sepekan, warga mengeluhkan distribusi air dari Perumdam Maja Tirta milik Pemerintah Kota Mojokerto yang tidak stabil.
Namun di tengah keresahan itu, warga justru menyampaikan keluhannya dengan cara khas, sindiran yang tajam namun jenaka.
“Air PDAM ini tidak selancar perjalanan wali kota ke Tokyo,” celetuk seorang warga sambil tertawa pahit.
Kalimat itu cepat menyebar di antara warga perumahan.
Bukan sekadar candaan.
Itu adalah cara masyarakat kecil menyampaikan kritik terhadap pelayanan publik.
Keran yang Hidup di Jam Tertentu
Menurut warga, air hanya mengalir pada waktu-waktu tertentu.
Sekitar pukul 03.00 hingga 08.00 pagi, lalu kembali hidup pada 14.00 sampai 18.30 sore.
Di luar jam tersebut, keran rumah hanya mengeluarkan udara.
Bagi sebagian orang, jadwal seperti ini berarti satu hal, operasi darurat menampung air.
Ember plastik, jeriken, dan drum air berjajar di halaman rumah seperti peralatan logistik.
Jika terlambat sedikit saja, air sudah kembali mati.
“Sudah satu minggu ini air PDAM tidak mengalir seperti biasanya,” ujar Caca, salah satu warga Jalan Semeru.
“Kayak kembali ke zaman kuno. Mau ambil air saja harus antre.”
Dapur yang Bergantung pada Keran
Dalam kehidupan rumah tangga, air adalah pusat aktivitas dapur.
Ketika alirannya tersendat, seluruh ritme rumah tangga ikut berubah.
Anak-anak harus menunggu giliran mandi.
Cucian menumpuk di sudut kamar mandi.
Memasak pun harus menunggu air tersedia.
Situasi ini membuat keluhan warga mulai terdengar dari teras rumah hingga warung kopi.
Di lingkungan perumahan, suara “ngedumel” para ibu rumah tangga menjadi penanda keresahan sosial yang paling nyata.
Dan di kota kecil seperti Mojokerto, suara itu sering menjadi indikator awal bahwa layanan publik sedang tidak berjalan semestinya.
Keluhan Lama yang Berulang
Gangguan distribusi air bukan pertama kali terjadi.
Sebelumnya, pelanggan di kawasan Suronatan, Kelurahan Magersari, juga pernah mengalami kondisi serupa. Saat itu air bahkan tidak mengalir hingga sepuluh hari.
Masalah ini menimbulkan pertanyaan yang lebih besar.
Apakah gangguan distribusi ini hanya masalah teknis sementara?
Atau ada persoalan mendasar dalam sistem distribusi air kota?
Sebagai perusahaan daerah, Perumdam Maja Tirta memegang peran penting dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.
Namun hingga laporan ini disusun, belum ada penjelasan resmi dari manajemen perusahaan terkait penyebab gangguan tersebut.
Di kota yang dikenal sebagai Kota Onde-Onde ini, krisis air selama beberapa hari saja sudah cukup mengubah ritme kehidupan warga.
Dan dari keran yang kering itu, lahirlah sindiran sederhana dari masyarakat.
Air PDAM, kata mereka, tidak selancar perjalanan pejabat ke luar negeri.
Kalimat itu mungkin terdengar seperti candaan.
Namun bagi warga yang harus bangun pukul tiga dini hari hanya untuk menampung air, kalimat itu adalah kritik sosial yang paling jujur.
Sebab dalam kehidupan sehari-hari, air bukan sekadar layanan publik.
Air adalah denyut kehidupan rumah tangga dan wira usaha.
Dan ketika keran berhenti mengalir, yang pertama merasakan dampaknya bukan pejabat kota.
Melainkan dapur rumah tangga warga dan para pelaku dunia usaha seperti salon kecantikan, pangkas rambut juga
