“Ruang Baru, Nafas Baru”Dari Sooko, Jurnalis MEDIA CENTER Mojokerto Menyulam Ulang Peran di Tengah Zaman yang Berubah
-Baca Juga
Di sudut ruangan, seorang jurnalis membuka laptopnya. Tidak ada tekanan deadline yang terlihat. Tidak ada suara gaduh ruang redaksi besar.
Hanya bunyi ketikan pelan… dan sesekali tawa kecil.
Di tempat seperti inilah, jurnalisme lokal menemukan bentuknya yang paling jujur.
Bukan karena fasilitas canggih.
Bukan karena anggaran besar.
Mereka menulis tentang jalan rusak yang mereka lewati sendiri.
Mereka meliput kebijakan yang dampaknya dirasakan tetangga mereka.
Dan di antara gelas kopi dan diskusi ringan, lahir ide-ide yang sering kali lebih tajam daripada ruang redaksi besar di ibu kota.
MOJOKERTO — Pagi itu tidak ada seremoni yang berlebihan. Tidak ada karpet merah, tidak ada protokoler yang kaku. Hanya langkah-langkah ringan para jurnalis yang masuk ke sebuah gedung di kawasan Sooko, membawa tas, laptop, telepon seluler gendroid dan satu hal yang tak kasat mata, harapan.
Di sanalah, sebuah babak baru dimulai.
Para jurnalis yang tergabung dalam Media Center Jurnalis Mojokerto kini menempati ruang baru di UPT Wilayah Kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Sebuah tempat yang, secara fisik, mungkin sederhana. Namun secara makna, ia adalah simbol tentang bertahan, beradaptasi, dan menyusun ulang arah.
Di tengah lanskap media yang terus berubah, ruang ini bukan sekadar tempat duduk dan mengetik. Ia adalah ruang tafsir, tempat di mana realitas dipilah, dikaji, lalu disampaikan kepada publik dengan tanggung jawab.
Tidak banyak yang tahu, perjalanan menuju titik ini tidak sepenuhnya mulus. Gedung lama yang berada di sekitar kantor KPU Kabupaten Mojokerto mengalami kerusakan berat. Aktivitas terhenti. Ritme terputus.
Namun seperti bambu, lentur, tapi tidak mudah patah, komunitas ini tidak runtuh.
Mereka tetap berkomunikasi. Tetap saling menyapa dalam grup-grup kecil. Tetap menulis, meski tanpa ruang bersama.
Dan hari ini, ruang itu kembali ada.
Bukan sekadar pengganti, tapi pembaruan.
Sekretaris Media Center Jurnalis, Yudi Eko Purnomo, menyebut ruang ini sebagai wadah ekspresi. Tapi lebih dari itu, ia adalah simpul energi.
“Kita butuh tempat untuk berkembang dan saling mensupport,” ujarnya.
Dalam dunia jurnalistik, ruang fisik memang sering dianggap sekunder. Yang utama adalah akses informasi, kecepatan, dan ketajaman analisis. Namun dalam praktiknya, ruang seperti ini menciptakan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, interaksi manusia.
Di meja-meja sederhana itu, ide bisa lahir dari obrolan ringan. Kritik bisa tumbuh dari perdebatan sehat. Dan solidaritas terbentuk bukan dari teori, tapi dari kebersamaan.
Kepala OPD Disperindag Kota Mojokerto. H. M. Amin Wachid & Kabid Perdagangan Hasta
Kepala OPD Dispendik Kabupaten Mojokerto, Amsar Azhari didampingi Kabid Pendidikan Dasar Mujiwati
Kehadiran sejumlah pejabat dari Disperindag Kota Mojokerto, the bos Amin Wachid didampingi Hasta Kabid Perdagangan. Kepala Dinas Pendidikan Amsar Azhari didampingi Kabid Pendidikan Dasar Mujiwati memberi sinyal, bahwa negara tidak sepenuhnya absen dalam dinamika pers lokal.
Dalam pernyataannya, Yudi menegaskan bahwa pembangunan tidak selalu tentang fisik. Ada dimensi lain yang lebih mendasar, peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Di sinilah peran jurnalis menjadi krusial.
Pers bukan hanya penyampai informasi. Ia adalah penggerak literasi, pembentuk opini, sekaligus penjaga nalar publik. Dalam konteks lokal seperti Mojokerto, peran ini bahkan lebih strategis, karena kedekatan dengan realitas masyarakat.
Jika ruang ini mampu melahirkan karya-karya yang mencerahkan, maka ia telah melampaui fungsi bangunan.
Ia menjadi ruang peradaban kecil.
Pekan depan, Media Center Jurnalis akan menggelar kegiatan doa bersama, untuk penempatan ruang baru. Di sanalah gagasan akan diuji, program akan dipaparkan, dan arah gerakan akan ditentukan.
Tidak muluk-muluk. Tidak rumit.
Seperti yang dikatakan Yudi.
“Tidak perlu ribet. Yang penting komunikasi yang baik.”
Namun dalam kesederhanaan itulah, sering kali tersimpan kekuatan terbesar.
Di sebuah kota yang tidak selalu menjadi pusat perhatian nasional, denyut jurnalistik tetap hidup, pelan, tapi pasti.
Gedung di Sooko itu mungkin tidak megah. Tapi dari sanalah, narasi-narasi tentang rakyat, tentang kebijakan, tentang keadilan, akan terus lahir.
Dan pada akhirnya, yang menentukan bukanlah seberapa besar ruangnya.
Melainkan seberapa jernih nurani mereka yang mengisinya.
Pers tidak pernah benar-benar mati.
Ia hanya berpindah ruang dari gedung yang runtuh, ke meja sederhana di sudut kota.
Dan di Mojokerto hari ini, kita melihat satu hal yang pasti.
Bahwa selama masih ada yang berani menulis dengan jujur,
maka ruang sekecil apa pun…
bisa menjadi pusat peradaban.
Writer. : Damar Wijaya Tungga Dewa
