NAPAK TILAS KH.NAWAWI KE VIII ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

NAPAK TILAS KH.NAWAWI KE VIII

-

Baca Juga

Almaghfirlah KH Nawawi Pejuang Kemerdekaan Syuhada'

Ribuan orang peserta mengikuti " Napak Tilas Pejuang Syuhada' Kemerdekaan KH. Nawawi dari Mojokerto dan Sidoarjo Jawa Timur, Sabtu (9/11) malam. 

Start napak tilas dimulai dari dusun Sumantoro desa Plumbungan Sukodono Sidoarjo finish di Ponpes Tarbiyah Tahfidhul Qur'an An-Nawawy di Kota Mojokerto. 

Peserta napak tilas yang dari Mojokerto diberangkatkan dari depan kantor Pemkot Mojokerto dengan kendaraan bis dan kendaraan pribadi lainnya.

Almaghfirlah KH Nawawi semasa hidupnya dalam memimpin perjuangan dikenal kebal senjata api atau tidak tembus peluru.

Beliau gugur dalam pertempuran setelah dikepung oleh Pasukan Belanda. Beliau dihujani dengan bayonet dan gugur. Ada empat luka tusukan bayonet tentara Belanda di leher beliau. Pertempuran di Dusun Sumantoro Desa Plumbungan Sukodono Sidoarjo Jawa Timur itulah, tempat gugurnya beliau dan didirikan monumen KH Nawawi pada tanggal 22 Agustus 1946 untuk mengenang jasa dan semangat beliau untuk generasi saat ini.

Selain itu untuk mengenang beliau. Namanya digunakan sebagai jalan di Kota Mojokerto Jawa Timur. Tepatnya di dekat pasar besar Tanjung Anyar Kota Mojokerto Jawa Timur.

Dalam sejarah perjuangannya Almaghfirlah KH Nawawi pernah menjabat sebagai komandan Laskar Sabilillah, resimen pejuang kemerdekaan akar rumput, yang sumbernya langsung dari pondok pesantren. Bersama dengan santri-santrinya, beliau menjadi most wantednya Belanda di area Mojokerto, Sidoarjo dan Gresik, tempat laskar perjuangan itu dulu beroperasi.

Dari kisah riwayat perjuangan beliau yang di ceritakan cucunya, Almaghfirlah KH. Nawawi di acara napak tilas, sang  Kyai tak mempan peluru. Semuanya karena karomah Allah SWT kepada hamba yang dicintainya. Selebihnya, hanya Allah yang tahu.

Haul Kyai Nawawi diperingati setiap tahun. Serangkaian kegiatan untuk mengenang hari wafat dan perjuangannya beliau digelar secara rutin. Ada pengajian  umum, ziarah bersama Walikota, dan puncaknya adalah Napak Tilas sejauh 40 kilometer dari Sidoarjo-Mojokerto, mengenang perjalanan malam hari diusungnya jenazah Kyai Nawawi dri Sidoarjo ke Mojokerto. Almaghfirlah KH. Nawawi dimakamkan di TPU Dusun Mangunrejo Desa Sidoharjo Kecamatan Gedeg Kabupaten Mojokerto, yang lebih dikenal dengan Makam Panjang Losari.

Umat Islam Mojokerto, khususnya warga NU, harus banyak berterima kasih kepada beliau. Karena beliau adalah pendiri NU pertamakali di Mojokerto pada Tahun 1928.

Semasa hidupnya, beliau pernah berguru kepada Hadratus Syaikh (Tuan Guru Besar) Hasyim Asy’ari di pondok pesantren Tebuireng Jombang. Beliau juga pernah nyantri di Syaikhuna (Guru Kami) Kholil di Bangkalan, Madura yang juga banyak memiliki karomahnya. Mbah Kholil juga guru dari Mbah Hasyim dan guru dari banyak sekali ulama-ulama masyhur pimpinan pondok pesantren, waktu itu.

Riwayat-riwayat lain mengenai perjuangan kyai Nawawi bisa dicari di pondok pesantren Tarbiyah Tahfidhul Qur’an An-Nawawy Kota Mojokerto. Bisa juga melalui pondok pesantren Al Multazam pimpinan Gus Makin di desa Kepuhanyar, Kab Mojokerto. Atau lewat IKEBANA (Ikatan Keluarga Besar Bani Nawawi). (*/WIB)


Artikel ini diambil dari berbagai sumber.



Mungkin Juga Menarik × +
VIDEOS
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode