Di Atas Pelana, Fauzan Berangkat Sekolah ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Di Atas Pelana, Fauzan Berangkat Sekolah

-

Baca Juga




Ketika anak-anak seusianya menekan gas sepeda motor atau duduk manis di kursi mobil, seorang siswa SMK di Karanganyar memilih menggenggam tali kekang. Di atas seekor kuda muda, ia menempuh jalan yang sama, namun dengan cara yang jauh berbeda.


Pagi di Kabupaten Karanganyar biasanya bergerak cepat. Deru sepeda motor para pelajar, klakson bersahutan, dan kendaraan orang tua yang berlomba mengantar anaknya tepat waktu. Namun suatu pagi, ritme itu seolah melambat ketika seekor kuda cokelat melangkah mantap di tepi jalan.

Di atasnya duduk Fauzan, siswa kelas XII SMK Muhammadiyah Karanganyar. Seragam sekolah melekat rapi, tas punggung tersampir di bahu, wajahnya tenang. Ia tidak terburu-buru. Tidak pula menoleh ke kanan-kiri mencari perhatian. Bagi Fauzan, ini hanyalah perjalanan rutin menuju sekolah.

Bedanya, ia tidak menyalakan mesin. Ia menunggang kuda.


Pilihan yang Tidak Biasa

Di tengah generasi yang akrab dengan knalpot dan layar ponsel, pilihan Fauzan terasa ganjil namun justru itulah yang membuatnya istimewa. Kuda yang ia tunggangi tampak masih muda, bertubuh atletis, dan terawat. Geraknya lincah namun terkendali, seolah paham bahwa pagi ini ia membawa amanah seorang pelajar.

Sejumlah warga menduga, kuda itu adalah calon kuda pacu, atau setidaknya disiapkan sebagai kuda andong transportasi tradisional yang masih hidup di denyut budaya Jawa. Bagi Fauzan, apa pun masa depan kudanya, hari ini ia adalah teman seperjalanan.


Viral Tanpa Rekayasa

Momen Fauzan berangkat sekolah menunggang kuda terekam kamera warga dan diunggah ke media sosial oleh akun Nugroho Sanjaya 7. Video dan foto itu cepat menyebar. Ribuan warganet tertegun sebagian tersenyum, sebagian terharu, sebagian lagi bernostalgia.

Di kolom komentar, orang-orang menulis tentang masa kecil, tentang desa, tentang kuda yang dulu menjadi bagian hidup. Ada pula yang menyebut Fauzan sebagai simbol “anak muda yang tidak tercerabut dari akar”.


Bukan Sensasi, Tapi Tanggung Jawab

Yang luput dari sorotan viral adalah tanggung jawab di balik pilihan Fauzan. Menunggang kuda bukan perkara mudah. Ia menuntut kesabaran, kedisiplinan, dan perawatan yang konsisten. Kuda bukan benda mati; ia punya perasaan, stamina, dan batas kemampuan.

Fauzan memahami itu. Ia merawat kudanya, mengenal karakternya, dan menjalin ikatan yang tak bisa dibentuk secara instan. Di situlah letak pendidikan sejati yang sering kali tidak tertulis di buku pelajaran.


Sekolah Karakter di Jalan Raya

Di atas pelana, Fauzan belajar tentang kendali diri, empati, dan keselarasan. Ia belajar bahwa melaju cepat bukan selalu tujuan. Bahwa sampai dengan selamat lebih penting daripada sampai lebih dulu.

Ketika pelajar lain menekan gas, Fauzan menyesuaikan langkah. Ketika jalan ramai, ia bersabar. Ketika orang memandang heran, ia tetap melaju. Diam-diam, ia sedang mengikuti kurikulum yang lebih luas: pendidikan karakter dalam kehidupan nyata.


Tradisi yang Tidak Kuno

Kuda sering dianggap simbol masa lalu. Namun di tangan Fauzan, tradisi itu tidak tampak usang. Justru sebaliknya ia tampil segar, relevan, dan penuh makna. Pilihannya membuktikan bahwa modernitas tidak harus menyingkirkan budaya.

Di Karanganyar, pagi itu, seekor kuda dan seorang siswa berjalan berdampingan dengan zaman. Tanpa slogan. Tanpa kampanye. Tanpa pidato.


Lebih dari Sekadar Berangkat Sekolah

Apa yang dilakukan Fauzan bukan sekadar cara menuju ruang kelas. Ia adalah pernyataan sunyi: bahwa menjadi berbeda bukanlah dosa, bahwa mencintai tradisi adalah bentuk keberanian, dan bahwa masa depan bisa dibangun tanpa melupakan jejak langkah masa lalu.

Ketika lonceng sekolah berbunyi, Fauzan turun dari pelana. Kudanya menunggu dengan sabar. Di antara deretan motor yang terparkir, kehadiran seekor kuda menjadi pemandangan langka sekaligus harapan kecil bahwa nilai-nilai lama belum sepenuhnya pergi.


Dari Karanganyar untuk Indonesia

Kisah Fauzan mungkin sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah inspirasi lahir. Ia tidak mengubah dunia. Ia hanya memilih jalannya sendiri dan dari sana, dunia menoleh.

Karanganyar hari itu tidak hanya menyaksikan seorang siswa berangkat sekolah.
Ia menyaksikan pertemuan antara masa lalu dan masa depan di atas pelana, di jalan yang sama.






Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode