Insiden Pesawat Latih TNI AL di Runway Juanda ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Insiden Pesawat Latih TNI AL di Runway Juanda

-

Baca Juga






Pagi itu, Jumat (30/1), landasan pacu Bandara Internasional Juanda mendadak senyap. Bukan karena cuaca, melainkan karena sebuah pesawat latih milik TNI Angkatan Laut jenis G36 Bonanza, bernomor penerbangan T-2507, berhenti tak pada tempatnya. Di atas aspal runway, pesawat itu menjadi pusat perhatian dan pusat pertanyaan.

Insiden terjadi pukul 02.53 UTC atau 09.53 WIB, saat pesawat tengah menjalani latihan rutin. Tidak ada ledakan. Tidak pula kepanikan massal. Namun runway ditutup, sembilan penerbangan dialihkan, dan roda industri penerbangan sipil terbesar di Jawa Timur itu sempat tersendat.

Latihan militer dan bandara sipil kembali bersinggungan.


Empat Kali Touch-and-Go, Lalu Simulasi Darurat

Menurut informasi yang diterima DETAK INSPIRATIF, pesawat latih tersebut tengah menjalani latihan Touch and Go (T/G) manuver standar dalam pendidikan pilot, terutama untuk melatih presisi pendaratan. Manuver ini telah dilakukan empat kali.

Setelah itu, pilot melaporkan akan melakukan simulasi kondisi darurat (emergency exercise) disertai short approach upendekatan pendaratan jarak pendek yang menuntut perhitungan matang, ketepatan kecepatan, dan margin keselamatan yang sempit.

Tak lama berselang, pesawat mengalami kecelakaan di area landasan pacu.

Apa yang sebenarnya terjadi di fase kritis itu, masih menjadi domain penyelidikan internal. Namun satu hal pasti: latihan berisiko tinggi dilakukan di bandara sipil tersibuk kedua di Indonesia.



Runway Ditutup, Penerbangan Dialihkan

General Manager Bandara Internasional Juanda, Muhammad Tohir, membenarkan insiden tersebut. Dalam rilis resmi, ia menyebut landasan pacu ditutup sekitar satu jam.

“Penutupan dilakukan untuk proses evakuasi pesawat dan inspeksi menyeluruh, guna memastikan tidak terdapat Foreign Object Debris (FOD) maupun potensi risiko lain yang dapat mengganggu keselamatan operasional penerbangan,” ujarnya.

Dampaknya nyata. Sembilan penerbangan terpaksa dialihkan (divert) ke bandara lain. Bagi penumpang, itu berarti keterlambatan. Bagi maskapai, tambahan biaya. Bagi otoritas penerbangan, ini adalah alarm tentang ruang pertemuan kepentingan militer dan sipil.


Bandara Sipil, Latihan Militer

Juanda bukan sekadar bandara internasional. Ia adalah hub strategis penerbangan sipil, melayani puluhan ribu penumpang per hari. Namun di saat yang sama, bandara ini juga memiliki fungsi strategis pertahanan.

Di sinilah persoalan klasik muncul kembali:
sejauh mana latihan militer berisiko tinggi ideal dilakukan di ruang sipil aktif?

Touch-and-Go dan emergency exercise adalah bagian penting pendidikan pilot militer. Namun praktik ini lazim dilakukan di bandara khusus militer atau slot waktu dengan pembatasan ketat, untuk meminimalkan dampak terhadap penerbangan sipil.

Insiden T-2507 membuka kembali diskusi lama yang kerap muncul setiap kali terjadi gangguan di bandara campuran.


Keselamatan, Bukan Sensasi

Hingga laporan ini diturunkan, tidak ada korban jiwa. Operasional Bandara Internasional Juanda telah kembali normal setelah seluruh tahapan penanganan dinyatakan aman dan sesuai regulasi keselamatan penerbangan.

Namun bagi dunia aviasi, ketiadaan korban bukan akhir cerita. Dalam setiap insiden penerbangan, pertanyaan terpenting bukan hanya apa yang terjadi, tetapi mengapa bisa terjadi dan apa yang harus diubah.

Apakah prosedur latihan sudah ideal?
Apakah koordinasi sipil militer cukup ketat?
Apakah evaluasi risiko telah diperbarui seiring meningkatnya trafik penerbangan?

Pertanyaan-pertanyaan itu kini menunggu jawaban.

Insiden pesawat latih TNI AL di Juanda bukan peristiwa sensasional. Ini adalah peringatan sunyi bahwa keselamatan penerbangan sipil maupun militer harus selalu ditempatkan di atas segalanya. Transparansi, evaluasi, dan perbaikan sistemik jauh lebih penting daripada sekadar memastikan runway kembali dibuka.


Short Approach, Emergency Exercise, dan Margin Risiko di Bandara Sipil

Dalam dunia penerbangan, Touch and Go (T/G) adalah latihan dasar. Namun ketika dilanjutkan dengan short approach dan emergency exercise, statusnya naik menjadi latihan berisiko tinggi.

Short approach menuntut:

sudut pendaratan lebih curam,

kecepatan lebih rendah,

jarak reaksi lebih sempit,

toleransi kesalahan nyaris nol.

Sementara emergency exercise mensimulasikan kondisi darurat mulai dari kegagalan mesin, gangguan kontrol, hingga skenario pendaratan tidak normal.

Menurut praktisi aviasi, kombinasi short approach + simulasi darurat idealnya dilakukan:

di bandara militer khusus, atau

di waktu low traffic ekstrem, dengan buffer keselamatan maksimal.

Bandara Internasional Juanda, pada jam latihan tersebut, tetap berada dalam status bandara sipil aktif. Artinya, setiap deviasi kecil di runway berimplikasi langsung pada:

penerbangan komersial,

jadwal maskapai,

keselamatan pesawat sipil yang akan mendarat atau tinggal landas.

Insiden pesawat TNI AL T-2507 menandai titik kritis:
bukan soal kesalahan pilot, tetapi soal penempatan risiko.

Dalam investigasi penerbangan modern, ini disebut sebagai:

systemic risk placement  risiko tidak ditempatkan pada ruang yang tepat.


“INSIDEN T-2507: 60 MENIT YANG MENGHENTIKAN JUANDA”

02.30 UTC – Aktivitas penerbangan normal

02.53 UTC – Insiden pesawat latih TNI AL G36 Bonanza

02.55 UTC – Runway ditutup

03.00–04.00 UTC – Evakuasi & inspeksi FOD

04.05 UTC – Runway dibuka kembali

09.53 WIB – Operasional normal


Skema Manuver 

Touch and Go ×4

Short Approach

Emergency Exercise

Titik insiden di runway


 Dampak Langsung

✈️ 9 penerbangan dialihkan (divert)

⏱️ ± 60 menit penutupan runway

👥 Ratusan penumpang terdampak

💰 Kerugian operasional maskapai (estimatif)


Zona Risiko

Runway sipil aktif

Latihan militer berisiko tinggi

Lalu lintas penerbangan padat

Keselamatan penerbangan bukan soal siapa yang berlatih, tapi di mana risiko ditempatkan.


Runway Bukan Ruang Spekulasi

Tidak ada korban jiwa.
Tidak ada pesawat sipil yang jatuh.
Runway dibuka kembali.
Berita pun selesai.

Namun keselamatan penerbangan tidak bekerja dengan logika untung-untungan.

Setiap bandara sipil adalah ruang publik. Setiap latihan berisiko tinggi adalah keputusan strategis. Ketika keduanya bertemu tanpa jarak pengaman yang cukup, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar jadwal penerbangan melainkan kepercayaan publik terhadap sistem keselamatan negara.

Militer berhak berlatih.
Pilot wajib ditempa.
Namun risiko tidak boleh diuji di ruang yang salah.

Insiden T-2507 di Juanda harus dibaca bukan sebagai kecelakaan biasa, melainkan sebagai peringatan sunyi: bahwa keselamatan adalah hasil dari disiplin sistem, bukan sekadar keahlian individu.

Jika tidak dievaluasi secara terbuka, sejarah mencatat satu pola pasti:
insiden kecil yang diabaikan sering kali menjadi pendahulu tragedi besar.





Penulis: Uncle Sam owob 
Editor: Damar Wijaya Tungga Dewa 


Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode