Jati Sumber Tradisi Dusun di Tengah Zaman Digital & Majapahit yang Tak Pernah Runtuh
-Baca Juga
Ketika Desa Menjaga Ingatan, dari Jati Leluhur ke Cahaya Ramadhan
Di tanah yang pernah menjadi pusat peradaban besar, masyarakat desa masih merawat ingatan. Ruwatan di bulan Ruwah menjadi jembatan sunyi antara Majapahit dan Ramadhan.
Di bulan Sya’ban, atau Ruwah dalam kalender Jawa, waktu seperti melambat di tanah Trowulan. Di antara bata merah, pohon tua, dan jejak peradaban besar yang pernah bernama Majapahit, masyarakat desa masih menata hubungan mereka dengan Tuhan, alam, dan leluhur.
Di Dusun Jati Sumber, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, ruwatan desa bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah ritus ingatan sebuah cara sunyi masyarakat desa menyambut Ramadhan dengan membersihkan batin, menata harmoni, dan merawat warisan budaya Nusantara yang lahir jauh sebelum negara ini bernama Indonesia.
Selama dua hari terakhir, warga menggelar tasyakuran dan pawai budaya mengelilingi dusun. Di sana, budaya Nusantara hadir berdampingan: dari simbol-simbol Jawa hingga boneka Ogoh-ogoh dari Bali, bergerak perlahan di jalan desa. Sebuah pemandangan yang mungkin tampak sederhana, namun sesungguhnya menyimpan pesan besar tentang persaudaraan lintas budaya sebuah nilai yang juga menjadi roh Majapahit di masa lalu.
Jati dan Sumber Air : Nama yang Tumbuh dari Alam
Dusun ini dinamai Jati Sumber bukan tanpa sebab. Menurut cerita tutur para tetua, dahulu berdiri sebuah pohon jati raksasa usia ratusan tahun yang menaungi sumber air utama bagi warga. Dari sanalah kehidupan bermula: sawah tumbuh, ternak hidup, dan manusia bertahan.
Hari ini, pohon itu tak lagi serimbun masa lalu. Sumber air pun tak sederas dulu. Namun jejaknya dirawat, dijaga, dan ditempatkan sebagai simbol asal-usul. Bagi masyarakat Jati Sumber, alam bukan objek eksploitasi, melainkan penjaga kehidupan sebuah pandangan kosmologis Jawa yang telah hidup sejak era Hindu-Buddha hingga Islam datang dengan bahasa baru.
Ruwatan Desa, Wayang Kulit dan Bahasa Majapahit yang Berubah
Setiap ruwatan desa di Jati Sumber hampir selalu diiringi kesenian wayang kulit. Wayang di bulan Ruwah bukan hiburan, melainkan bahasa simbolik warisan Majapahit yang kemudian dijembatani oleh para Wali dalam proses Islamisasi Jawa.
Di sinilah sejarah berbicara lirih:
Islam di Jawa tidak memutus budaya lama, melainkan menyapanya dengan hikmah. Wayang, gamelan, sedekah bumi, dan ruwatan tidak dihapus, tetapi dimaknai ulang dari pemujaan menjadi doa, dari sesaji menjadi sedekah, dari ritual kosmis menjadi laku spiritual.
Ruwatan bukan lagi soal menolak bala semata, melainkan ikhtiar membersihkan diri menjelang Ramadhan. Sebuah kesinambungan nilai, bukan benturan peradaban.
Ogoh-ogoh melintas di jalan dusun Jati Sumber, Trowulan.
Bukan sebagai simbol pertentangan keyakinan, melainkan penanda bahwa budaya Nusantara tumbuh berdampingan. Di bulan Ruwah, masyarakat desa merayakan keberagaman sebagai warisan peradaban sebagaimana Majapahit dahulu mempersatukan pulau-pulau dengan etika, bukan sekadar kekuasaan
Ogoh-ogoh di Tanah Majapahit: Nusantara yang Tak Pernah Terpecah
Kehadiran Ogoh-ogoh, simbol budaya Bali, di pawai ruwatan desa Jati Sumber menjadi penanda penting. Ini bukan soal adopsi budaya asing, melainkan pengakuan akan satu rumah besar bernama Nusantara sebuah gagasan yang telah hidup sejak Majapahit mempersatukan pulau-pulau dengan sumpah dan etika, bukan paksaan semata.
Di desa kecil ini, warga tanpa sadar sedang mempraktikkan Bhineka Tunggal Ika dalam bentuk paling murni: budaya hadir berdampingan, tidak saling meniadakan.
Di tengah Gempuran Globalisasi Dan Digitalisasi
Di tengah globalisasi dan digitalisasi, sering kali desa dianggap tertinggal. Namun Jati Sumber justru membuktikan sebaliknya. Desa adalah penjaga memori bangsa, sementara kota sering lupa pada asal-usulnya.
Ruwatan desa di bulan Ruwah menjadi ruang kontemplasi: bahwa kemajuan tanpa ingatan hanya melahirkan kekosongan. Bahwa Ramadhan tidak hanya disambut dengan kalender dan baliho, tetapi dengan kesadaran sejarah dan kebersihan batin.
Di tanah yang pernah menjadi pusat peradaban besar, masyarakat desa hari ini sedang melakukan hal paling revolusioner: menjaga kesinambungan nilai.
Di baliknya, doa-doa dilangitkan, ingatan leluhur dirawat, dan tradisi disucikan menjelang Ramadhan. Bata merah bukan sekadar material, melainkan saksi bisu kesinambungan nilai dari era Majapahit hingga Islam Jawa hari ini.
Dari Bata Merah ke Doa yang Putih
Majapahit mungkin runtuh sebagai kerajaan, namun jiwanya belum pernah pergi. Ia hidup dalam desa-desa seperti Jati Sumber dalam pohon tua yang dirawat, dalam wayang yang dipentaskan, dalam ruwatan yang terus digelar menjelang Ramadhan.
Di bulan Ruwah, masyarakat tidak hanya mendoakan leluhur, tetapi juga mengingat siapa diri mereka.
Dan dari ingatan itulah, masa depan Jawa dan Nusantara ditata kembali.
Majapahit – Wali Songo – Ruwatan: Jalan Panjang Peradaban Jawa
Jauh sebelum Islam hadir di tanah Jawa, masyarakat telah mengenal kosmologi harmoni hubungan seimbang antara manusia, alam, dan kekuatan adikodrati. Pada masa Kerajaan Majapahit (abad XIII–XV), pandangan ini terwujud dalam ritual-ritual agraris, sedekah bumi, dan ruwatan sebagai upaya menjaga keseimbangan semesta.
Ketika Islam datang ke Jawa, para Wali Songo tidak serta-merta menghapus tradisi lama. Mereka memilih jalan kultural: menyerap, memaknai ulang, dan menuntun. Wayang kulit, gamelan, tembang, hingga ruwatan diberi ruh baru dari ritual kosmis menjadi sarana dakwah dan refleksi spiritual.
Bulan Ruwah menjadi titik temu penting. Dalam kalender Jawa-Islam, Ruwah adalah waktu mendoakan leluhur, membersihkan diri, dan menata batin menjelang Ramadhan. Ruwatan desa yang digelar pada bulan ini bukan lagi sekadar penolak bala, melainkan laku kolektif penyucian diri perpaduan nilai Majapahit dan Islam Jawa yang bertahan hingga hari ini.
Di desa-desa seperti Jati Sumber, Trowulan, kesinambungan sejarah itu masih hidup: tidak tertulis dalam prasasti, tetapi hadir dalam praktik, ingatan, dan kebersamaan warga.
Ruwatan dan Ingatan yang Menjaga Kita
Di tengah hiruk-pikuk zaman digital, desa sering diposisikan sebagai sisa masa lalu pelan, tradisional, dan tertinggal. Namun di bulan Ruwah, desa justru tampil sebagai penjaga ingatan peradaban.
Ruwatan desa di Jati Sumber, Trowulan, mengajarkan kita satu hal penting: bahwa modernitas tanpa akar sejarah hanya melahirkan kegamangan. Di tanah yang pernah menjadi pusat Majapahit, masyarakat tidak sedang bernostalgia. Mereka sedang merawat kesinambungan nilai antara alam dan manusia, leluhur dan generasi kini, tradisi dan iman.
Islamisasi Jawa tidak lahir dari pemutusan, tetapi dari perjumpaan. Para Wali memahami bahwa iman yang tumbuh dengan kearifan budaya akan berakar lebih kuat. Karena itu, ruwatan, sedekah bumi, wayang, dan tembang tidak dihapus, melainkan diarahkan dari laku simbolik menuju kesadaran spiritual.
Bulan Ruwah adalah ruang hening sebelum Ramadhan. Di sanalah masyarakat desa membersihkan bukan hanya lingkungan, tetapi juga ingatan dan niat. Sebuah praktik kebudayaan yang kerap luput dari sorotan, namun sesungguhnya menyimpan kebijaksanaan besar.
Redaksi memandang tradisi seperti ruwatan desa bukan sebagai sisa masa lalu, melainkan cermin masa depan. Di tengah dunia yang makin terfragmentasi, desa mengajarkan makna kebersamaan. Di tengah budaya instan, desa menawarkan kedalaman. Dan di tengah lupa kolektif, desa mengingatkan kita akan asal-usul.
Majapahit telah runtuh sebagai kerajaan, tetapi jiwanya hidup dalam laku budaya rakyat. Islam telah mengakar di Jawa bukan dengan penyeragaman, melainkan dengan kebijaksanaan.
Di bulan Ruwah, kita belajar bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak zaman, melainkan menjaga arah.
