SINGA GRESIK WANI JUARA Ketika Emosi, Disiplin, dan Keberanian Khas Arek Gresik Phonska. JUARA PUTARAN PERTAMA “PROLIGA 2026”
-Baca Juga
Di satu momen krusial, bola melayang tepat di atas net. Dua tangan lawan terangkat, rapat, mencoba menutup ruang. Namun dari sisi kanan lapangan, pemain Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia meloncat tanpa ragu. Ayunan tangannya tegas. Smash dilepaskan. Bola menghantam lantai. Poin.
Itulah wajah Gresik Phonska musim ini: tanpa kompromi.
Smash keras pemain Gresik Phonska menembus blok lawan menjadi simbol agresivitas dan keberanian yang mengantarkan tim asal Jawa Timur ini ke puncak putaran pertama Proliga 2026.
Putaran pertama Proliga 2026 menjadi panggung pembuktian. Enam pertandingan, enam kemenangan. Tak satu pun celah untuk ragu. Di hadapan publik sendiri di GOR Tri Dharma Petrokimia Gresik, kemenangan dramatis 3-2 (25-15, 21-25, 25-21, 22-25, 15-7) Jakarta Livin’ Mandiri menjadi penutup yang sempurna bukan karena skor, tetapi karena cara mereka menguasai set penentuan.
Di balik dominasi itu, berdiri seorang pelatih yang tak pernah sembunyi di balik papan taktik. Alessandro Lodi hidup di pinggir lapangan. Berteriak. Mengepalkan tangan. Melompat. Menggerakkan emosi pemainnya seperti konduktor mengatur orkestra.
Ia bukan tipe pelatih yang dingin dan pasif. Gayanya mengingatkan pada pelatih-pelatih Amerika Latin emosional, atraktif, penuh gestur namun tetap presisi. Setiap teriakan punya tujuan. Setiap ekspresi adalah pesan.
“Kami menang bukan karena sempurna, tapi karena berani tetap agresif saat tekanan datang.”
— Alessandro Lodi
Set kelima menjadi cermin karakter itu. Saat tim lain memilih aman, Gresik Phonska justru menaikkan tempo. Servis ditekan. Blok dipadatkan. Serangan diarahkan tanpa ragu. Skor 15-7 bukan sekadar angka ia adalah pernyataan mental juara.
Kemenangan ini mengunci Gresik Phonska sebagai juara putaran pertama Proliga 2026 dengan 17 poin dan hadiah pembinaan Rp30 juta. Namun lebih dari itu, mereka mengirim pesan ke seluruh liga: Gresik bukan sekadar kuda hitam.
“Di set penentuan, kami tidak bermain aman. Kami memilih menyerang.”
Jika Proliga adalah peta kekuatan voli nasional, maka selama bertahun-tahun pusatnya selalu berkisar pada klub-klub besar dari Jakarta dan Bandung. Nama-nama seperti Jakarta Electric PLN, Jakarta Popsivo Polwan, atau Bandung BJB Tandamata identik dengan tradisi, dana besar, dan pemain bintang.
Namun Gresik Phonska hadir dengan pendekatan berbeda.
Mereka tidak sekadar mengandalkan nama besar atau reputasi masa lalu. Mereka membangun identitas permainan cepat, agresif, dan emosional, tetapi tetap terstruktur. Di tangan Lodi, emosi bukan kelemahan, melainkan bahan bakar.
Bandingkan dengan Jakarta Livin’ Mandiri yang masih mencari ritme pasca pergantian pemain asing. Atau klub-klub mapan yang cenderung bermain aman demi konsistensi klasemen. Gresik Phonska justru tampil lapar, seolah setiap pertandingan adalah final.
Kapten Jakarta Livin’ Mandiri, Yolla Yuliana, mengakui tekanan itu.
“Kami sudah memberi perlawanan maksimal. Tapi mereka lebih siap di momen-momen penting.”
Kesiapan itulah yang kini membedakan Gresik Phonska dari para pesaingnya. Mereka bukan hanya kuat secara teknis, tetapi matang secara psikologis. Saat laga masuk wilayah mental, mereka tidak goyah mereka justru mengeras.
Di level nasional, ini pertanda penting. Dominasi tidak lagi dimonopoli klub-klub ibu kota. Jawa Timur, melalui Gresik PETROKIMIA, sedang menulis ulang peta kekuatan voli putri Indonesia.
Putaran pertama memang belum menentukan segalanya. Namun sejarah Proliga selalu mencatat: tim yang memimpin dengan karakter kuat sejak awal, jarang runtuh di akhir.
Dan sejauh ini, Gresik Phonska bukan hanya memimpin klasemen.
Mereka memimpin narasi.
“Kami tidak mengejar status unggulan. Kami membangun keberanian.”
