SISA TELUR DI MEJA MAKAN. Ketika Program Negara (MBG) Membuat Satu Keluarga di IGD Rumah Sakit ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

SISA TELUR DI MEJA MAKAN. Ketika Program Negara (MBG) Membuat Satu Keluarga di IGD Rumah Sakit

-

Baca Juga


Ida Dwi Rahayu saat menjalani perawatan ruang rawat inap Blambangan RSUD Prof. dr. Soekandar.


Hujan tidak sedang tergesa-gesa di Kutorejo.
Ia turun perlahan, seperti ingin memberi waktu bagi siapa pun yang sedang lelah memahami kenyataan.

Di ruang rawat inap Blambangan RSUD Prof. dr. Soekandar, seorang ibu rumah tangga bernama Ida Dwi Rahayu duduk di sisi ranjang. Di sana, dua anaknya terbaring satu masih balita, satu lagi usia sekolah. Tidak ada jerit. Tidak ada drama. Yang ada hanya sunyi yang panjang, dan tubuh yang sedang berusaha pulih.


Cerita ini bermula dari sesuatu yang amat biasa:
sisa makanan sekolah.

Jumat, 9 Januari 2026, anak bungsu Ida pulang dari Taman Kanak-kanak membawa paket Makan Bergizi Gratis (MBG). Seperti banyak anak lain, ia tidak menghabiskan seluruh isi kotak. Ayamnya dimakan di sekolah. Nasi, telur, dan kuah soto dibawa pulang.

Di rumah, sisa makanan itu tidak dibuang. Ia dibagi. 
“Adiknya tahu kakaknya suka telur,” tutur Ida, pelan.
Telur berpindah piring. Kakaknya memakan telur itu.

Ida sendiri mencicipi sedikit bukan untuk makan, hanya memastikan rasa sebelum mencuci wadah makanan. Tidak ada bau menyengat. Tidak ada rasa mencurigakan. Semuanya tampak seperti makanan rumahan biasa.

Malamnya, tubuh mereka mulai berbicara.
Perut melilit.
Mual.
Diare.

Awalnya, Ida mengira ini hanya gangguan pencernaan biasa. Mereka sempat berobat ke dokter umum dan menjalani rawat jalan. Namun waktu tidak menyembuhkan. Gejala bertahan hingga Sabtu. Minggu pagi, ketika hujan masih setia menyelimuti Mojokerto, Ida mulai mendengar kabar: keracunan massal akibat MBG.

“Awalnya saya tidak tahu kalau ada kejadian keracunan MBG,” katanya.

Baru pada Minggu, 11 Januari 2026, Ida membawa kedua anaknya ke RSUD Prof. dr. Soekandar. Mereka dirawat bersama. Satu keluarga, satu ruang, satu cerita.

Di titik inilah, Program Makan Bergizi Gratis berubah makna.
Ia tidak lagi berhenti sebagai kebijakan negara atau statistik harian.
Ia menjelma menjadi pengalaman tubuh, rasa sakit, dan kecemasan seorang ibu.

Kisah Ida menunjukkan sesuatu yang kerap luput dari laporan resmi:
MBG tidak hanya dikonsumsi anak-anak di sekolah.
Ia ikut pulang.
Masuk ke dapur.
Disajikan ulang di meja makan keluarga.

Ketika satu mata rantai saja lalai entah bahan, penyimpanan, pengolahan, atau distribusi dampaknya tidak memilih. Anak, ibu, bahkan seluruh keluarga bisa ikut menjadi korban.

Di luar rumah sakit, hujan masih turun. Musim bediding dan kemarau basah membuat udara lembap dan tubuh mudah goyah. Di dalam ruang perawatan, Ida menatap anak-anaknya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan: antara syukur karena masih selamat, dan cemas yang belum sepenuhnya pergi.

Kisah ini nyata.
Bukan anomali.
Bukan cerita tunggal.

Ia adalah satu potret kecil dari ratusan korban keracunan MBG Mojokerto. Potret yang mengingatkan kita bahwa makan bukan hanya soal gizi, ia adalah soal kepercayaan, kehati-hatian, dan tanggung jawab.

Dan di meja makan sederhana di Kutorejo, dari sisa telur yang tak habis dimakan di sekolah, negara tanpa sadar ikut hadir.

Bukan sebagai pelindung.
Melainkan sebagai pelajaran.







Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode