DARI GUNUNGAN KE GERBANG MASA DEPAN. Ruwatan Desa Wringinrejo dan Boyongan Balai Desa Bergaya Majapahitan
-Baca Juga
Kepala Desa H. Suhartono menyampaikan sambutan dalam prosesi Ruwatan Desa Wringinrejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (14/2/2026).
Gunungan hasil bumi disiapkan warga sebagai simbol rasa syukur atas tanah, kerja, dan kehidupan yang terus berputar. Ruwatan ini dirangkai dengan peresmian balai desa baru bergaya Majapahitan penanda perpindahan pusat pemerintahan desa dari ruang sempit perkampungan menuju ruang publik yang terbuka dan strategis.
Di desa, ritual bukan nostalgia. Ia adalah bahasa kepemimpinan.
Di bawah langit yang sempat gerimis setelah panas menyengat, Desa Wringinrejo hari itu seolah sedang menulis babak penting sejarahnya sendiri. Sabtu, 14 Februari 2026, bukan sekadar long weekend. Ia menjelma menjadi hari ruwah, hari bersih, hari boyongan hari ketika doa, tradisi, dan pembangunan bertemu dalam satu tarikan napas.
Di halaman balai desa baru, bangunan bata merah bergaya Majapahitan berdiri kokoh, menjadi latar sakral prosesi Ruwatan Desa dan arak-arakan gunungan hasil bumi. Gunungan-gunungan itu menjulang, disusun dari cabai merah, terong, jagung, tomat, sawi, hingga hasil kebun lain bukan sekadar pangan, melainkan simbol syukur atas hidup yang terus bertumbuh.
Anak-anak duduk bersila, para sesepuh mengenakan busana adat, ibu-ibu menata sesaji, dan para pemuda mengatur barisan. Desa bergerak sebagai satu tubuh.
Di hadapan warga, H. Suhartono, Kepala Desa Wringinrejo, berdiri tenang. Busana adat yang dikenakannya bukan kostum seremoni semata, melainkan pernyataan identitas, bahwa pemerintahan desa bisa modern tanpa tercerabut dari akar budaya.
Boyongan - Pindah Tempat, Naik Martabat
Ruwatan kali ini istimewa. Ia tidak berhenti pada doa dan ritual, tetapi berlanjut pada boyongan balai desa perpindahan pusat pemerintahan dari kawasan perkampungan padat ke simpang strategis Jalan Raya Jambangan–Sambiroto, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Balai desa baru ini bukan sekadar gedung. Ia adalah penanda perubahan orientasi, dari tersembunyi ke terbuka, dari sekadar melayani ke siap dikenal dan diakses publik luas.
Tak berlebihan jika warga menyebutnya sebagai “gerbang masa depan Wringinrejo.”
“Selama ini desa kami ada, tapi tidak terlihat. Sekarang kami ingin hadir di jalan raya, hadir di mata publik, dan hadir sepenuh-penuhnya untuk pelayanan masyarakat,” ujar H. Suhartono, disambut anggukan warga.
Pasar Murah dan Solidaritas Sosial
Ruwatan juga dirangkai dengan pasar murah menyambut Ramadhan. Di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok, pasar murah menjadi simbol lain dari ruwatan, membersihkan beban ekonomi warga jelang bulan suci.
Negara hadir lewat desa, dan desa hadir lewat gotong royong.
Tradisi yang Tidak Pernah Ketinggalan Zaman
Desa Wringinrejo dengan tiga dusunnya, Wringinrejo, Jambangan, dan Sambirejo menunjukkan bahwa tradisi bukan nostalgia, melainkan energi sosial. Mayoritas warganya adalah pengrajin sepatu dan sandal, sebagian petani, dan sebagian lain pelaku ekonomi kreatif. Mereka hidup di persimpangan antara kerja tangan dan kerja nilai.
Ruwatan hari itu menegaskan satu hal,
modernisasi tidak harus menghapus tradisi, justru tradisi memberi arah pada modernisasi.
Gunungan akhirnya diperebutkan, tawa pecah, doa diam-diam terucap.
Wringinrejo selesai meruwat dirinya dan siap melangkah.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Para sesepuh desa, para alim ulama, tokoh masyarakat, bapak ibu, serta seluruh warga Desa Wringinrejo yang saya hormati dan saya banggakan.
Hari ini adalah hari yang istimewa.
Bukan hanya karena kita melaksanakan Ruwah Desa, tetapi karena hari ini kita meruwat diri kita sendiri sebagai sebuah desa membersihkan niat, membersihkan langkah, dan menata masa depan.
Gunungan hasil bumi yang kita arak hari ini bukan sekadar hasil pertanian.
Ia adalah simbol rasa syukur kita kepada Allah SWT, bahwa tanah Wringinrejo masih subur, warganya masih rukun, dan rezeki masih mengalir melalui kerja keras tangan-tangan kita sendiri.
Hadirin yang saya hormati,
Hari ini pula kita melakukan boyongan balai desa.
Bukan semata pindah bangunan, tetapi pindah orientasi pelayanan.
Dari yang tersembunyi menjadi terbuka.
Dari yang sulit dijangkau menjadi mudah diakses.
Dari sekadar kantor, menjadi rumah pelayanan masyarakat.
Balai desa ini kami bangun dengan gaya Majapahitan, sebagai pengingat bahwa Mojokerto adalah tanah peradaban besar. Kita ingin maju, tetapi tidak lupa asal-usul. Kita ingin modern, tetapi tetap berakar pada nilai, adab, dan budaya.
Menjelang bulan suci Ramadhan, kami juga menggelar pasar murah.
Karena bagi kami, ruwatan bukan hanya soal ritual, tetapi juga soal kepedulian sosial.
Akhir kata, saya mohon doa seluruh warga.
Semoga balai desa ini membawa berkah.
Semoga pelayanan semakin baik.
Dan semoga Desa Wringinrejo benar-benar menjadi desa yang rejo, rukun, dan diridhoi Allah SWT.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Negara yang Lupa Cara Meruwat
Di banyak tempat, pembangunan sering dimulai dari beton dan angka. Desa Wringinrejo mengajarkan urutan yang berbeda dari rasa, lalu ke tata kelola.
Ruwatan Desa bukan sekadar warisan budaya. Ia adalah mekanisme sosial paling purba untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, antara pemimpin dan rakyat, antara masa lalu dan masa depan. Saat gunungan hasil bumi diarak, yang diruwat sejatinya bukan hanya desa tetapi juga kesadaran kolektif.
Pemindahan balai desa ke jalur utama adalah langkah administratif. Namun maknanya politis dan filosofis, pemerintahan desa tidak lagi bersembunyi. Ia hadir di ruang publik, siap dilihat, diawasi, dan diakses. Transparansi tidak selalu lahir dari regulasi, kadang cukup dari keberanian pindah tempat.
Bangunan bergaya Majapahitan yang kini menjadi balai desa Wringinrejo adalah simbol penting. Ia menolak amnesia sejarah. Di tengah arsitektur modern yang seragam dan kehilangan identitas, desa ini memilih mengingat bahwa Mojokerto pernah menjadi pusat peradaban besar. Ingatan itulah yang membuat pembangunan tidak liar.
Pasar murah yang digelar bersamaan dengan ruwatan juga memberi pesan jelas, ritual tanpa keadilan sosial adalah hampa. Tradisi yang hidup adalah tradisi yang menyentuh dapur rakyat.
Negara sering berbicara tentang pembangunan dari pinggiran. Wringinrejo menunjukkan bahwa pinggiran tidak perlu menunggu. Desa bisa memulai lebih dulu.
Mungkin, jika negara kembali belajar meruwat bukan hanya menghitung kepercayaan publik akan pulih dari bawah. Dari desa. Dari tanah. Dari gunungan yang disusun oleh tangan-tangan warga sendiri.
Penulis: Damar Wijaya Tungga Dewa
Editor: Sastra Jendra Hayuningrat
