TOKYO HANYA PLESIR - SAMPAH RANDEGAN NYATA. Kota Raja yang Hari Ini Hidup Berdampingan dengan Bau
-Baca Juga
Di tanah yang pernah melahirkan Majapahit, kerajaan besar dengan tata kelola disiplin dan teknologi maju pada zamannya, hari ini berdiri gunung sampah.
Bukan metafora.
Bukan cerita lama.
Ia nyata, menggunung, dan mepet dengan rumah warga.
Kota Mojokerto yang saban tahun mengulang narasi sejarah kejayaan kini justru memperlihatkan ironi telanjang: masa lalu lebih tertata daripada masa kini.
Gunung Sampah di Tanah Raja
Di balik tembok kusam TPA Randegan, sampah menumpuk tinggi.
Aromanya mengalir bersama angin, masuk ke rumah-rumah warga Perumahan TIRTA SUAM (The Suam Residence), Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari.
“Kalau angin ke barat, baunya masuk ke dalam rumah,”
ujar Nanang dan Pak No, warga Blok C, kepada DETAK INSPIRATIF.
Musim kemarau membawa debu.
Musim hujan membawa lindi.
Setiap hari warga membawa kesabaran yang kian tipis.
Rata-rata 70–80 ton sampah per hari masuk ke TPA Randegan.
Pemerintah Kota mencatat perluasan lahan hingga 6,14 hektare, lengkap dengan istilah modern: buffer zone, RTH, bank sampah, pengolahan kompos.
Istilahnya maju.
Kenyataannya, bau.
Truk pengangkut sampah tampak uzur dan kelebihan muatan. Bak keropos dan terpal seadanya berpotensi menimbulkan ceceran, bau, serta membahayakan pengguna jalan.
Masalah Sudah Bau Sejak di Jalan
Persoalan tak berhenti di TPA.
Ia sudah berjalan di jalan raya.
Truk pengangkut sampah tampak uzur, keropos, kelebihan muatan, dengan terpal seadanya.
Sampah mengintip dari celah bak kayu lapuk.
Air lindi menetes di aspal.
Tali pengikat menjuntai seperti pengakuan diam bahwa armada ini tak layak jalan.
Jika di era Majapahit logistik kerajaan diatur ketat,
hari ini pengangkutan sampah kota saja dibiarkan compang-camping.
Tokyo di Panggung, Randegan di Kenyataan
Di tengah realitas itu, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari baru saja kembali dari Tokyo, Jepang.
Agenda resmi: belajar penanganan sampah.
Narasi publik, wisata kebijakan.
Di forum-forum, Wali Kota menyampaikan kebanggaan bisa merepresentasikan Kota Mojokerto dalam diskusi pengelolaan sampah modern.
Tokyo disebut.
Teknologi dipuji.
Disiplin dijadikan rujukan.
Namun di Randegan, warga bertanya lirih: yang dipelajari itu pulang ke mana?
Sebab di Kedundung, bau masih sama.
Di Tirta Suam, jendela tetap harus ditutup rapat.
Di jalan kota, truk sampah masih bocor.
Kontras itu tak bisa disamarkan.
Majapahit Disiplin Tanpa Tokyo
Ironi Mojokerto kian menyakitkan ketika sejarah bicara.
Majapahit, berabad-abad lalu memiliki:
Administrasi rapi dan hierarkis
Pembagian wilayah jelas
Disiplin logistik dan kebersihan pemukiman
Teknologi tata air yang maju pada masanya
Tak ada catatan Majapahit membiarkan limbah menggunung di dekat hunian rakyat.
Tak ada kisah raja membiarkan bau menjadi napas harian warga.
Majapahit membuktikan satu hal:
kemajuan bukan soal zaman, melainkan niat dan disiplin kekuasaan.
Kota Sejarah yang Kehilangan Rasa Malu
Hari ini Mojokerto terjebak pada kebijakan kosmetik.
Pidato lebih rapi dari lapangan.
Presentasi lebih bersih dari lingkungan.
Warga tak menuntut Mojokerto menjadi Tokyo.
Mereka hanya menagih janji yang pernah diucapkan.
Karena bagi warga Randegan,
pengelolaan sampah bukan bahan konferensi,
melainkan hak hidup sehat.
Dan bagi kota yang mengaku pewaris Majapahit,
membiarkan rakyat hidup berdampingan dengan gunung sampah
adalah kekalahan sejarah.
Majapahit runtuh karena konflik kekuasaan.
Mojokerto hari ini terancam runtuh oleh abai pada urusan paling dasar, sampah.
Di tanah raja,
yang menggunung justru limbah.
Dan sejarah sekali lagi,
sedang menertawakan kita.
