ANAK-ANAK YANG MENANGIS DI BALAI DESA. Tangis Petani Ngingas Rembyong Menunggu Sekolah Negeri ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

ANAK-ANAK YANG MENANGIS DI BALAI DESA. Tangis Petani Ngingas Rembyong Menunggu Sekolah Negeri

-

Baca Juga


Perangkat Desa Ngingas Rembyong Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto Jawa Timur diruang sidang Hayam Wuruk lantai 2 DPRD Kabupaten Mojokerto Jawa Timur, Rabu 11 Maret 2026.


Amsar Kepala Dinas Pendidikan didampingi Mujiwati Kabid Pendidikan Dasar dan Menengah Pertama Dinas Pendidikan 
Kabupaten Mojokerto.




Setiap tahun ajaran baru tiba, sebuah pemandangan yang tidak biasa terjadi di Desa Ngingas Rembyong, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Anak-anak datang ke balai desa.

Bukan untuk bermain.

Bukan untuk acara desa.

Mereka datang bersama orang tua mereka  untuk menangis.

Beberapa dari mereka bahkan tidur di kantor desa.

Malam-malam itu penuh isak.

Anak-anak petani dan buruh tani itu memohon kepada kepala desa mereka agar memperjuangkan satu hal yang bagi banyak orang kota terasa sederhana,

sekolah negeri.


Tangisan di Balai Desa

Kepala Desa Ngingas Rembyong, Kusdianto, sudah hafal pemandangan itu.

Setiap tahun ajaran baru, orang tua berdatangan ke kantor desa.

Mereka membawa anak-anak mereka yang baru lulus sekolah dasar.

Sebagian anak masih mengenakan seragam SD yang mulai pudar.

Mereka duduk di lantai balai desa.

Beberapa menangis.

Beberapa hanya menunduk.

Orang tua mereka bercerita dengan suara lirih.

Mereka tidak mampu menyekolahkan anak jauh dari desa.

Transportasi mahal.

Biaya hidup berat.

Dan yang paling menyakitkan,

tidak ada SMP Negeri di desa mereka.


Desa yang Menunggu Sejak 2007

Perjuangan untuk mendirikan sekolah negeri di desa itu sudah dimulai sejak 2007.

Selama hampir dua dekade, pemerintah desa dan masyarakat terus mengajukan permohonan kepada Pemerintah Kabupaten Mojokerto.

Bahkan pemerintah desa sudah menyiapkan lahan seluas tiga hektar untuk pembangunan sekolah.

Namun hingga 2026, sekolah itu tidak pernah berdiri.

Yang datang hanya janji.

Janji yang diulang setiap musim politik.


Kepala Desa yang Menangis di DPRD

Rabu siang, 11 Maret 2026.

Di ruang rapat DPRD Kabupaten Mojokerto, Kusdianto duduk di kursi rapat didampingi perangkat desa lainnya di hadapan para anggota dewan serta pejabat dari Dinas Pendidikan dan Bappeda.

Awalnya ia mencoba berbicara tenang.

Namun ketika menceritakan nasib anak-anak di desanya, suaranya mulai bergetar.

Ia berhenti sejenak.

Matanya berkaca-kaca.

Dan di depan para pejabat itu, Kusdianto menangis.

Ia tidak menangis untuk dirinya.

Ia menangis untuk anak-anak desa yang setiap tahun datang ke kantornya.

“Setiap tahun mereka datang ke balai desa dan menangis,” katanya.

“Mereka minta sekolah negeri.”


Ditolak di Kota Mojokerto

Sebagian orang tua mencoba menyekolahkan anaknya ke Kota Mojokerto.

Namun harapan itu tidak selalu berhasil.

Kebijakan penerimaan siswa di kota membuat banyak anak desa tidak diterima.

Kota memiliki aturan zonasi dan prioritas bagi warga kota.

Bagi anak-anak dari desa pinggiran, pintu itu sering tertutup.

Akibatnya, banyak anak di Ngingas Rembyong kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan.


Mimpi yang Berhenti di Sawah

Tanpa sekolah menengah pertama yang terjangkau, sebagian anak akhirnya memilih berhenti sekolah.

Ada yang ikut orang tuanya ke sawah.

Ada yang bekerja sebagai kuli bangunan.

Ada yang merantau mencari pekerjaan serabutan.

Padahal beberapa tahun sebelumnya mereka masih duduk di bangku sekolah dasar dengan mimpi sederhana,

ingin menjadi guru, polisi, atau perawat.

Namun mimpi itu pelan-pelan hilang.

Bukan karena mereka malas belajar.

Tetapi karena sekolah tidak ada.


Kepala Desa yang Tak Kuasa

Bagi Kusdianto, setiap tahun ajaran baru adalah ujian emosional.

Ia bukan hanya kepala desa.

Ia merasa seperti orang tua bagi anak-anak desa itu.

Melihat mereka menangis, ia merasa gagal.

Melihat mereka berhenti sekolah, hatinya hancur.

“Saya hanya ingin anak-anak petani dan buruh tani bisa sekolah,” katanya pelan.


Ironi di Tanah Peradaban

Yang membuat cerita ini semakin menyakitkan adalah lokasinya.

Kabupaten Mojokerto dikenal sebagai wilayah sejarah besar Nusantara, tempat berkembangnya kejayaan
Majapahit Empire.

Dari tanah ini dahulu lahir gagasan besar tentang persatuan Nusantara.

Namun di abad modern, di tanah yang sama, masih ada anak-anak desa yang harus berhenti sekolah karena tidak ada SMP Negeri.



Ketika Desa Menunggu Negara

Kini Kusdianto sudah menyampaikan keluhan warganya ke DPRD.

Namun bagi masyarakat desa, perjuangan ini belum selesai.

Mereka tidak meminta proyek besar.

Mereka tidak meminta jalan tol.

Mereka hanya meminta satu hal sederhana,

sekolah negeri untuk anak-anak mereka.


Air Mata yang Menunggu Jawaban Negara

Di sebuah malam di balai desa Ngingas Rembyong, seorang anak pernah bertanya kepada ayahnya.

“Pak… aku bisa sekolah lagi?”

Ayahnya tidak menjawab.

Ia hanya memeluk anaknya.

Di ruangan yang sama, Kepala Desa Kusdianto melihat pemandangan itu.

Dan malam itu, ia juga menangis.

Karena ia tahu, tanpa perubahan kebijakan, banyak anak desa itu mungkin tidak akan pernah kembali ke sekolah.

Dan bagi mereka, masa depan sering kali ditentukan bukan oleh mimpi.

Melainkan oleh jarak sekolah yang terlalu jauh dari rumah.










Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode