CIJANTRA, KETIKA LEBARAN TAK LAGI RAMAI. Dari sawah, pabrik, hingga perumahan, sebuah kampung yang kehilangan denyutnya
-Baca Juga
Di bawah papan besar bertuliskan Kantor Desa Cijantra, pagi itu terasa berbeda. Tak ada lalu-lalang pekerja dengan seragam pabrik. Tak terdengar suara knalpot motor yang biasa meraung sejak subuh. Lebaran datang, tapi kampung ini justru sunyi.
Di Cijantra, kesunyian bukan sekadar suasana. Ia adalah cerita panjang tentang perubahan zaman.
DARI SAWAH KE DERAP MESIN
Empat dekade lalu, Cijantra adalah hamparan hijau. Sawah membentang, anak-anak berlarian di pematang, dan kehidupan berjalan dalam ritme agraris yang tenang.
Lalu datang gelombang industrialisasi.
Tahun 80 hingga 90-an menjadi titik balik. Pabrik-pabrik berdiri. Kontrakan tumbuh di sela-sela rumah warga. Warung nasi, bengkel kecil, hingga usaha konveksi menjamur. Cijantra berubah menjadi magnet tenaga kerja.
Para perantau datang dari berbagai daerah. Mereka membawa harapan, tenaga, dan mimpi.
Di masa itu, Cijantra tak pernah benar-benar tidur.
RUMAH YANG SELALU RAMAI
Di tengah riuh itu, berdiri satu rumah yang selalu hidup: rumah H. Sanusi (alm.).
Ia bukan pejabat. Bukan pengusaha besar. Tapi namanya melekat di ingatan banyak orang. Rumahnya menjadi simpul sosial, tempat para buruh pabrik tinggal, makan, dan berbagi cerita.
Warung nasinya sederhana, tapi hangat. Di sana, percakapan mengalir tanpa sekat tentang kampung halaman, tentang cinta yang tertinggal, tentang kerasnya hidup di tanah orang.
Usaha konveksinya pun menjadi denyut ekonomi kecil yang nyata, memproduksi kaos, seragam sekolah, hingga pakaian pegawai negeri.
Di tangan orang seperti H. Sanusi, Cijantra bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah rumah bagi banyak jiwa.
KETIKA INDUSTRI PERGI
Namun, sejarah tak pernah statis.
Seiring waktu, pabrik-pabrik mulai redup. Sebagian tutup. Sebagian pindah ke kawasan industri yang lebih modern seperti Cikarang.
Yang dulu ramai, perlahan kosong.
Kontrakan ditinggalkan. Warung sepi. Jalanan kehilangan ritmenya.
Lebaran yang biasanya menjadi momentum pulang dan berkumpul, justru memperjelas kekosongan itu. Para perantau yang dulu tinggal di Cijantra kini sudah tersebar, bahkan tak sedikit yang tak kembali.
JALAN YANG TAK PERNAH SEMPURNA
Di jalur utama menuju Legok, dari arah Mall Karawaci, kondisi jalan menjadi metafora paling jujur tentang Cijantra hari ini.
Tambal sulam.
Beton yang diperbaiki berulang kali tak mampu menahan beban kendaraan berat dari kawasan industri. Mobilitas tinggi, ditambah dugaan tanah bergerak, membuat kerusakan seolah menjadi siklus abadi.
Pertanyaannya menggantung, ini soal kualitas pembangunan, atau perencanaan yang tak pernah benar-benar tuntas?
GENERASI YANG BERADAPTASI
Di tengah perubahan itu, generasi baru memilih jalannya sendiri.
Irma cucu H. Sanusi adalah contoh nyata. Dari profesinya sebagai perawat di RS Dian Husada Jakarta, ia kembali ke akar. Di Desa Curug, ia membuka bengkel motor.
Pilihan yang mungkin tak terbayangkan di masa lalu, tapi relevan di hari ini.
Adaptasi menjadi kunci. Bertahan bukan lagi soal mengikuti arus, tapi membaca perubahan.
KAMPUNG PENYANGGA, RASA YANG BERBEDA
Kini, Cijantra menjelma menjadi kawasan penyangga. Perumahan-perumahan baru tumbuh cepat, menggantikan sawah dan lapangan.
Kedekatannya dengan Tangerang Selatan dan kawasan elit BSD City membuatnya strategis secara ekonomi.
Namun ada yang hilang.
Modernisasi menghadirkan bangunan, tapi tidak selalu menghadirkan kehidupan sosial yang sama. Interaksi yang dulu cair, kini terfragmentasi. Tetangga tak lagi saling mengenal seperti dulu.
Cijantra menjadi lebih maju tapi juga lebih asing.
LEBARAN TANPA KERAMAIAN
Dan di sinilah klimaksnya.
Lebaran, yang seharusnya menjadi puncak kebersamaan, justru terasa paling sunyi. Tak ada gelak tawa para buruh yang mudik. Tak ada obrolan panjang di warung nasi. Tak ada cerita-cerita baru yang lahir dari pertemuan lama.
Yang ada hanyalah kenangan.
Kenangan tentang masa ketika Cijantra adalah titik temu banyak kehidupan. Tentang mimpi-mimpi yang pernah ditanam di tanah ini. Tentang sosok-sosok sederhana yang membuat kampung ini hidup.
APA YANG TERSISA?
Cijantra hari ini adalah potret kecil Indonesia.
Tentang desa yang berubah terlalu cepat. Tentang industrialisasi yang datang lalu pergi. Tentang modernisasi yang membangun fisik, tapi perlahan mengikis rasa.
Di bawah langit Lebaran, kampung ini mengajarkan satu hal.
Bahwa kemajuan tidak selalu berarti keramaian.
Dan kehilangan tidak selalu terlihat.
Kadang, ia hanya terasa.
Sunyi.
Writer : DEWI IRMA
Editor : DAMAR WIJAYA TUNGGA DEWA
