DI ANTARA SUNGKEM DAN GENANGAN. Tawadhu’, Tanggung Jawab, dan Warga yang Bertahan di Bantaran Anak Sungai Brantas
-Baca Juga
DUA ADEGAN, SATU HARI RAYA
Pagi itu, seorang anak bersimpuh di hadapan ibunya. Ia membasuh kaki perempuan yang melahirkannya, perlahan, khidmat, tanpa kata. Air dalam baskom beraroma bunga. Tangan bergetar, doa mengalir.
Beberapa kilometer dari situ, air juga mengalir tanpa bunga, tanpa doa yang sempat dirapikan. Ia menggenangi jalan, masuk ke rumah, menahan langkah warga yang hendak bersilaturahmi.
Dua adegan.
Satu hari raya.
Dua makna yang berhadap-hadapan.
TAWADHU’ DI RUANG TAMU
Tradisi sungkem bukan sekadar ritual. Ia adalah etika, pengakuan bahwa setinggi apa pun jabatan, seorang anak tetap kembali ke titik asal, orang tua.
Seorang anggota DPRD Kabupaten Mojokerto dari Fraksi PAN, dikenal sebagai Gus Makruf, mempraktikkan itu. Ia duduk rendah, membasuh kaki ibunya. Tidak ada podium. Tidak ada mikrofon. Hanya kesadaran, surga ada di telapak kaki ibu.
Di era yang serba cepat dan hirarkis, gestur ini terasa langka. Ia mengirim pesan yang jernih,
kuasa tanpa kerendahan hati adalah hampa.
GENANGAN DI HALAMAN
Namun di Dusun Balong Cangak, Desa Kedung Gempol, Kecamatan Mojosari, pagi yang sama memiliki lanskap berbeda.
Warga berjalan menembus air setinggi betis. Sebagian tetap menuju lokasi salat Id, sebagian lain memilih bertahan menjaga rumah. Sepeda didorong pelan, sarung tersingkap, kaki telanjang menyentuh air keruh.
Mereka tetap berangkat.
Karena ibadah tak menunggu air surut.
Ini bukan sekadar ketabahan.
Ini adalah daya tahan sosial ketika sistem belum sepenuhnya melindungi.
TANGGUL DAN YANG TAK TERLIHAT
Akar persoalan kembali ke satu titik, jebolnya tanggul di aliran anak Sungai Brantas.
Secara teknis, kegagalan tanggul jarang bersifat spontan. Ia didahului oleh,
retakan mikro yang berkembang,
erosi kaki tanggul (scouring),
penurunan daya dukung tanah,
serta beban hidrostatis saat debit puncak.
Dalam disiplin water resources engineering, ini disebut progressive structural failure, kerusakan yang bisa dideteksi lebih dini melalui inspeksi periodik dan pemeliharaan preventif.
Pertanyaannya.
apakah inspeksi dilakukan rutin?
apakah rekomendasi teknis ditindaklanjuti?
apakah titik ini masuk prioritas rehabilitasi?
Jika jawabannya tidak tegas, maka bencana bukan lagi kejutan, melainkan konsekuensi.
EMPATI VS AKUNTABILITAS
Pernyataan publik datang.
“Kasihan masyarakat. Momentum Idul Fitri harus berjibaku dengan banjir. Pemerintah harus segera menangani tanggul jebol ini.”
Empati penting. Tapi dalam kerangka kebijakan, empati harus diikuti akuntabilitas.
audit teknis tanggul,
audit anggaran pemeliharaan,
audit koordinasi antar-otoritas (Pemkab, Dinas PU/SDA, dan otoritas sungai).
Karena tanpa itu, siklusnya akan sama, air datang, evakuasi, surut, lupa.
POLITIK TAWADHU’
Di sinilah dua adegan itu bertemu.
Tawadhu’ di ruang tamu adalah etika personal.
Namun publik menuntut tawadhu’ kebijakan.
rendah hati untuk mengakui celah,
terbuka terhadap audit,
dan tegas memperbaiki sistem.
Jika seorang anak bisa merendah di hadapan ibunya,
maka negara semestinya mampu merendah di hadapan warganya,
mendengar, memperbaiki, melindungi.
DATA YANG BERBICARA
Lokasi: Balong Cangak, Kedung Gempol, Mojosari
Sungai: Sungai Brantas
Tanggul jebol: ±50 meter
Terdampak: 213 jiwa / 58 rumah
Kelompok rentan: 1 bayi, 10 balita, 1 bumil, 67 lansia
Ketinggian air: 30–70 cm
Korban jiwa: nihil
Angka-angka ini dingin.
Yang hangat adalah dampaknya yang tidak tercatat, kehilangan rasa aman.
LEBARAN YANG DIPERLUAS MAKNA
Lebaran selalu tentang kembali.
Kembali ke fitrah.
Kembali meminta maaf.
Tahun ini, warga Balong Cangak menambahkan satu makna, kembali bertahan.
Mereka tetap salat.
Tetap saling menyapa.
Meski kaki terendam air.
DI MANA KITA BERDIRI
Di satu sisi, seorang anak membasuh kaki ibunya.
Di sisi lain, warga membasuh kaki mereka sendiri oleh air yang tak diundang.
Keduanya adalah air.
Yang satu simbol bakti.
Yang lain tanda peringatan.
Pertanyaan yang tersisa.
Apakah kita hanya akan mengagumi tawadhu’ personal,
atau juga menuntut tawadhu’ dalam kebijakan?
Karena ketika tanggul adalah batas terakhir,
maka yang dipertaruhkan bukan sekadar tanah,
melainkan kepercayaan.
