DI ANTARA SUNGKEM DAN GENANGAN. Tawadhu’, Tanggung Jawab, dan Warga yang Bertahan di Bantaran Anak Sungai Brantas ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

DI ANTARA SUNGKEM DAN GENANGAN. Tawadhu’, Tanggung Jawab, dan Warga yang Bertahan di Bantaran Anak Sungai Brantas

-

Baca Juga



Seorang anak bersimpuh membasuh kaki ibunya dalam tradisi sungkem Idul Fitri, simbol bakti yang melampaui jabatan dan status. Di tengah hiruk-pikuk kekuasaan, gestur ini mengingatkan, kerendahan hati adalah fondasi paling sunyi dari kepemimpinan.
Anggota DPRD Kabupaten Mojokerto Jawa Timur Fraksi PAN, Gus Makruf. 


Warga Dusun Balong Cangak berjalan menembus genangan usai salat Idul Fitri. Air setinggi betis tak menghentikan langkah mereka, sebuah potret ketabahan di tengah rapuhnya perlindungan infrastruktur di bantaran anak Sungai Brantas.




DUA ADEGAN, SATU HARI RAYA

Pagi itu, seorang anak bersimpuh di hadapan ibunya. Ia membasuh kaki perempuan yang melahirkannya, perlahan, khidmat, tanpa kata. Air dalam baskom beraroma bunga. Tangan bergetar, doa mengalir.

Beberapa kilometer dari situ, air juga mengalir tanpa bunga, tanpa doa yang sempat dirapikan. Ia menggenangi jalan, masuk ke rumah, menahan langkah warga yang hendak bersilaturahmi.

Dua adegan.
Satu hari raya.
Dua makna yang berhadap-hadapan.




Gus Makruf Anggota DPRD Kabupaten Mojokerto Jawa Timur Fraksi PAN 



TAWADHU’ DI RUANG TAMU

Tradisi sungkem bukan sekadar ritual. Ia adalah etika, pengakuan bahwa setinggi apa pun jabatan, seorang anak tetap kembali ke titik asal, orang tua.

Seorang anggota DPRD Kabupaten Mojokerto dari Fraksi PAN, dikenal sebagai Gus Makruf, mempraktikkan itu. Ia duduk rendah, membasuh kaki ibunya. Tidak ada podium. Tidak ada mikrofon. Hanya kesadaran, surga ada di telapak kaki ibu.

Di era yang serba cepat dan hirarkis, gestur ini terasa langka. Ia mengirim pesan yang jernih,
kuasa tanpa kerendahan hati adalah hampa.


GENANGAN DI HALAMAN

Namun di Dusun Balong Cangak, Desa Kedung Gempol, Kecamatan Mojosari, pagi yang sama memiliki lanskap berbeda.

Warga berjalan menembus air setinggi betis. Sebagian tetap menuju lokasi salat Id, sebagian lain memilih bertahan menjaga rumah. Sepeda didorong pelan, sarung tersingkap, kaki telanjang menyentuh air keruh.

Mereka tetap berangkat.
Karena ibadah tak menunggu air surut.

Ini bukan sekadar ketabahan.
Ini adalah daya tahan sosial ketika sistem belum sepenuhnya melindungi.





TANGGUL DAN YANG TAK TERLIHAT

Akar persoalan kembali ke satu titik, jebolnya tanggul di aliran anak Sungai Brantas.

Secara teknis, kegagalan tanggul jarang bersifat spontan. Ia didahului oleh, 

retakan mikro yang berkembang,

erosi kaki tanggul (scouring),

penurunan daya dukung tanah,

serta beban hidrostatis saat debit puncak.

Dalam disiplin water resources engineering, ini disebut progressive structural failure, kerusakan yang bisa dideteksi lebih dini melalui inspeksi periodik dan pemeliharaan preventif.

Pertanyaannya.

apakah inspeksi dilakukan rutin?

apakah rekomendasi teknis ditindaklanjuti?

apakah titik ini masuk prioritas rehabilitasi?

Jika jawabannya tidak tegas, maka bencana bukan lagi kejutan, melainkan konsekuensi.


EMPATI VS AKUNTABILITAS

Pernyataan publik datang.

“Kasihan masyarakat. Momentum Idul Fitri harus berjibaku dengan banjir. Pemerintah harus segera menangani tanggul jebol ini.”

Empati penting. Tapi dalam kerangka kebijakan, empati harus diikuti akuntabilitas.

audit teknis tanggul,

audit anggaran pemeliharaan,

audit koordinasi antar-otoritas (Pemkab, Dinas PU/SDA, dan otoritas sungai).

Karena tanpa itu, siklusnya akan sama, air datang, evakuasi, surut, lupa.


POLITIK TAWADHU’

Di sinilah dua adegan itu bertemu.

Tawadhu’ di ruang tamu adalah etika personal.
Namun publik menuntut tawadhu’ kebijakan.

rendah hati untuk mengakui celah,

terbuka terhadap audit,

dan tegas memperbaiki sistem.

Jika seorang anak bisa merendah di hadapan ibunya,
maka negara semestinya mampu merendah di hadapan warganya,
mendengar, memperbaiki, melindungi.




Relawan ISM, AGUS LAKSONO SONGGO BUWONO 



DATA YANG BERBICARA

Lokasi: Balong Cangak, Kedung Gempol, Mojosari

Sungai: Sungai Brantas

Tanggul jebol: ±50 meter

Terdampak: 213 jiwa / 58 rumah

Kelompok rentan: 1 bayi, 10 balita, 1 bumil, 67 lansia

Ketinggian air: 30–70 cm

Korban jiwa: nihil

Angka-angka ini dingin.
Yang hangat adalah dampaknya yang tidak tercatat, kehilangan rasa aman.





LEBARAN YANG DIPERLUAS MAKNA

Lebaran selalu tentang kembali.
Kembali ke fitrah.
Kembali meminta maaf.

Tahun ini, warga Balong Cangak menambahkan satu makna, kembali bertahan.

Mereka tetap salat.
Tetap saling menyapa.
Meski kaki terendam air.






DI MANA KITA BERDIRI

Di satu sisi, seorang anak membasuh kaki ibunya.
Di sisi lain, warga membasuh kaki mereka sendiri oleh air yang tak diundang.

Keduanya adalah air.
Yang satu simbol bakti.
Yang lain tanda peringatan.

Pertanyaan yang tersisa.

Apakah kita hanya akan mengagumi tawadhu’ personal,
atau juga menuntut tawadhu’ dalam kebijakan?

Karena ketika tanggul adalah batas terakhir,
maka yang dipertaruhkan bukan sekadar tanah,
melainkan kepercayaan.






Writer : DAMAR WIJAYA TUNGGA DEWA 
Editor : SASTRA JENDRA HAYUNING BAWONO 





Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode