LEBARAN DALAM GENANGAN. Jejak Tanggul Jebol, Negara yang Terlambat, dan Warga di Bantaran Sungai Brantas
-Baca Juga
SAAT TAKBIR BERUBAH MENJADI PERINGATAN
Petang itu, seorang pria berdiri di tepi sungai. Ia menunjuk ke satu titik, tanah yang ambles, air yang mulai menggila. Tak ada sirene. Tak ada garis polisi. Hanya firasat.
Beberapa jam kemudian, firasat itu menjadi kenyataan.
Air menerobos.
Tanggul runtuh.
Dan Lebaran berubah arah.
DETIK-DETIK JEBOL
Jum’at, 20 Maret 2026, pukul 18.00 WIB. Hujan deras di wilayah hulu menaikkan debit Sungai Brantas. Tekanan air meningkat. Di satu titik rawan di Dusun Balong Cangak, Desa Kedung Gempol, tanggul sepanjang ±50 meter tak lagi mampu bertahan.
Air masuk dari sisi barat dusun.
Cepat, pekat, dan tak bisa dinegosiasikan.
Dalam hitungan jam,
58 rumah terendam
213 jiwa terdampak
1 bayi, 10 balita, 1 ibu hamil, 67 lansia berada dalam risiko tinggi
Ketinggian air 30–70 cm. Cukup untuk memaksa warga mengungsi. Cukup untuk menghapus rencana Lebaran.
EVAKUASI - NEGARA DATANG SETELAH AIR
Malam itu, perahu karet masuk ke gang-gang sempit. Petugas menggotong warga satu per satu. Lampu senter memantul di dinding yang basah.
Evakuasi berjalan cepat.
Tapi pertanyaan datang lebih cepat.
Mengapa pencegahan tidak secepat evakuasi?
Layanan kesehatan dari UPT Puskesmas Modopuro disiagakan. BPBD bergerak. Tidak ada korban jiwa.
Namun pola lama terulang,
respon cepat mitigasi lambat.
TANGGUL YANG LELAH
Sejumlah warga menyebut, tanggul itu sudah lama “memberi tanda”.
Retakan kecil.
Gerusan di kaki tanggul.
Penurunan tanah.
Dalam terminologi teknik sipil sumber daya air, ini adalah fase degradasi struktural progresif, di mana, material tanggul kehilangan kepadatan, erosi bawah (scouring) melemahkan fondasi, dan tekanan hidrostatis meningkat saat debit ekstrem.
Jika inspeksi berkala tak dilakukan, kegagalan bukan lagi kemungkinan melainkan kepastian yang menunggu waktu.
Apakah tanda-tanda itu tercatat?
Apakah sudah ada rekomendasi teknis?
Jika ya, mengapa tidak ditindak?
PETA KEWENANGAN YANG KABUR
Di sepanjang Sungai Brantas, pengelolaan tidak tunggal.
Ada, Pemerintah daerah, Dinas PU/SDA. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). BPBD (respon darurat)
Dalam praktiknya, batas kewenangan sering kabur, siapa yang memelihara? siapa yang memperbaiki? siapa yang bertanggung jawab saat jebol?
Ketika struktur runtuh, yang muncul bukan hanya air,
tapi juga celah koordinasi.
JEJAK ANGGARAN ADA ATAU TIADA?
Investigasi awal menunjukkan satu titik krusial,
apakah tanggul ini masuk prioritas perbaikan?
Jika iya, berapa nilai anggarannya? apakah sudah dilelang? apakah ada proyek yang tertunda?
Jika tidak, mengapa titik rawan tidak masuk skala prioritas?
Di sinilah follow the money menjadi penting. Karena dalam banyak kasus, kegagalan infrastruktur bukan hanya soal alam,
tapi juga soal keputusan anggaran.
SUARA DARI BAWAH
Di pengungsian, narasi berubah menjadi lebih sunyi.
Seorang lansia hanya membawa satu tas kecil.
Seorang ibu menggendong anaknya yang terus menangis.
Seorang warga berkata pelan,
“Kalau hujan besar, kami sudah siap-siap. Tapi Lebaran… kami tidak siap seperti ini.”
Ini bukan sekadar data.
Ini adalah biaya sosial dari kelalaian struktural.
POLITIK EMPATI
Gus Makruf, seorang anggota DPRD Kabupaten Mojokerto dari Fraksi PAN menyampaikan desakan.
“Kasihan masyarakat. Momentum Idul Fitri harus berjibaku dengan banjir. Pemerintah harus segera menangani tanggul jebol ini.”
Pernyataan ini penting, tapi belum cukup.
Karena yang dibutuhkan bukan hanya empati,
melainkan audit menyeluruh, audit teknis, audit anggaran, audit kebijakan
BENCANA ALAM ATAU BENCANA KEBIJAKAN?
Dalam analisis risiko bencana modern, kejadian seperti ini masuk kategori,
“compound disaster”
gabungan faktor alam + kegagalan sistem manusia.
Hujan ekstrem memang pemicu.
Tapi, tanggul yang rapuh, mitigasi yang lambat, dan sistem yang tidak responsif
adalah faktor pengali.
Artinya,
banjir ini bisa jadi bukan takdir sepenuhnya.
LEBARAN YANG BERGESER MAKNA
Di kejauhan, takbir tetap berkumandang.
Namun di Balong Cangak, yang terdengar lebih dekat adalah suara air.
Ketupat mungkin tetap ada.
Tapi disajikan di atas genangan.
Silaturahmi tetap berjalan.
Tapi dimulai dari tenda pengungsian.
Dan di tengah semua itu, satu pertanyaan menggantung:
Jika tanggul adalah garis terakhir perlindungan,
mengapa ia dibiarkan runtuh?
DATA
Lokasi: Dusun Balong Cangak, Kedung Gempol, Mojosari
Sungai: Sungai Brantas
Tanggul jebol: ±50 meter
Waktu: 20 Maret 2026, 18.00 WIB
Terdampak: 213 jiwa / 58 rumah
Kelompok rentan: 1 bayi, 10 balita, 1 bumil, 67 lansia
Korban jiwa: Nihil
YANG HARUS DIUNGKAP
Status kepemilikan & kewenangan tanggul
Riwayat inspeksi 5 tahun terakhir
Alokasi & realisasi anggaran
Potensi kelalaian administratif/teknis
Peta rawan banjir DAS Brantas sektor Mojokerto
Ini bukan sekadar cerita banjir.
Ini adalah cerita tentang sistem yang diuji dan mungkin gagal.
Dan selama pertanyaan-pertanyaan itu belum dijawab,
air bisa saja surut…
tapi masalahnya belum tentu.
Writer : DION
