LEBARAN PARA PENDEKAR. Dari Ruang Tamu Sederhana Rumah Gus Makruf, Lahir Arah Baru Pagar Nusa ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

LEBARAN PARA PENDEKAR. Dari Ruang Tamu Sederhana Rumah Gus Makruf, Lahir Arah Baru Pagar Nusa

-

Baca Juga



Gus Makruf dan Pendekar Muda Pencak Silat Pagar Nusa 



Di sebuah ruang tamu berdinding bata ekspos Majapahit di Desa Punggul Kecamatan Dlanggu, suasana Lebaran menemukan maknanya yang lain.

Tak ada hingar-bingar.
Tak ada protokoler resmi.

Hanya sebuah meja kayu rendah, toples-toples kue Lebaran, dan lingkaran para pendekar muda dari Pencak Silat Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto.

Di tengah lingkaran itu duduk seorang pria muda kaos putih, peci hitam, sorot mata tenang namun tajam.
Dialah Gus Makruf.

Mereka datang bukan untuk bertarung.
Mereka datang untuk meminta arah.





Silaturahmi yang Melampaui Tradisi

Momentum Lebaran kerap dimaknai sebagai rutinitas tahunan mudik, maaf-maafan, dan reuni keluarga. Namun di tangan para pendekar muda ini, Lebaran berubah menjadi ruang konsolidasi spiritual sekaligus strategis.

Para pesilat duduk bersila, membentuk formasi lingkaran. Tidak ada kursi kehormatan. Tidak ada jarak.

Namun otoritas tetap terasa.

“Anak muda harus kita arahkan. Kita ajak bicara,” ujar Gus Makruf, membuka percakapan.

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung arah,
bahwa organisasi bukan sekadar struktur, melainkan ruang pembinaan jiwa.






Silat sebagai Jalan Kebudayaan

Bagi Pencak Silat Pagar Nusa, silat tidak berhenti pada teknik bertarung.

Ia adalah warisan panjang yang berakar dari pesantren, dirumuskan oleh tokoh seperti Gus Maksum Lirboyo, yang memadukan kekuatan fisik dengan kedalaman spiritual.

Di Mojokerto, warisan itu kini berada di tangan generasi muda. Namun transisi generasi selalu membawa risiko, kehilangan arah, atau terjebak dalam euforia prestasi semata.

Gus Makruf tampaknya menyadari itu.

“Pencak silat bukan soal prestasi saja,” katanya.
“Ini budaya adiluhung Nusantara yang harus dijaga.”


Dari Spirit ke Strategi

Silaturahmi itu tak berhenti pada nasihat. Di balik suasana santai, percakapan mengalir ke arah yang lebih konkret.

Turnamen.
Pembinaan atlet.
Ekspansi jaringan.

Para pendekar muda mengajukan gagasan. Sebagian lain mencatat. Diskusi berjalan cair, namun terarah.

Di titik ini, peran Gus Makruf berubah,
dari guru spiritual menjadi arsitek organisasi.

“Harapannya para pendekar muda lebih berprestasi dalam ajang turnamen,” ujarnya.

Namun prestasi bukan tujuan akhir. Ia hanya alat.


Silat, Spiritualitas, dan Politik

Menariknya, sosok Gus Makruf tidak berdiri di satu dunia saja. Ia juga dikenal sebagai anggota DPRD Kabupaten Mojokerto dari Fraksi PAN.

Posisi ini menempatkannya di persimpangan unik, dunia spiritual, organisasi pencak silat dan arena politik lokal

Kombinasi ini membuka peluang sekaligus tantangan.

Di satu sisi, jaringan politik bisa memperkuat pembinaan dan fasilitas organisasi.

Namun di ruang tamu itu, politik seolah ditanggalkan. Yang tersisa hanya satu narasi,
bagaimana menjaga generasi muda tetap berada di jalur yang benar.


Lingkaran yang Menyatukan

Formasi duduk melingkar malam itu bukan tanpa makna.

Ia mencerminkan prinsip dasar yang mulai langka, kesetaraan, keterbukaan dan penghormatan tanpa paksaan

Tidak ada instruksi keras. Tidak ada komando militeristik.

Yang ada adalah pengaruh kultural, jenis kepemimpinan yang tidak terdengar, tapi ditaati.


Lebaran sebagai Titik Nol

Bagi para pendekar muda itu, pertemuan ini adalah semacam “reset”.

Ambisi pribadi dilebur.
Ego diturunkan.
Arah diselaraskan.

Pertanyaan yang mengemuka bukan lagi “siapa paling kuat”, melainkan,
untuk siapa kekuatan itu digunakan.

“Cita-cita perguruan dan negara harus selaras,” kata Gus Makruf.
“Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.”


Dari Mojokerto untuk Indonesia

Di tengah arus modernitas yang sering menjauhkan generasi muda dari akar budaya, apa yang terjadi di Desa Punggul Kecamatan Dlanggu adalah anomali yang menenangkan.

Sebuah ruang kecil, dengan meja sederhana, mampu melahirkan gagasan besar.

Bahwa pencak silat bukan sekadar olahraga.
Bukan sekadar tradisi.

Melainkan jalan pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.

Dan mungkin, dari ruang-ruang seperti inilah, masa depan itu diam-diam sedang dirancang.





Writer: DAMAR WIJAYA TUNGGA DEWA 
Editor : Sastra Jendra Hayuningrat 





Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode