Rencana Lokasi Pembangunan Kantor Pemkab Mojokerto Jawa Timur yang baru dekat Stadion Gajahmada Mojosari Mojokerto
Ketika Proyek Masuk Meja Politik
Setiap proyek pembangunan besar pada akhirnya selalu bermuara pada satu meja yang sama, meja politik anggaran.
Di situlah rencana pembangunan diuji, diperdebatkan, disetujui, atau bahkan dihentikan.
Begitu pula dengan rencana pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Mojokerto.
Jika kompleks pemerintahan baru benar-benar dibangun di atas lahan sekitar 5,6 hektar, maka pemerintah daerah harus menyiapkan anggaran yang tidak kecil.
Bukan hanya untuk pembangunan gedung.
Tetapi juga untuk,
pengadaan lahan tambahan
pembangunan jalan akses kawasan
jaringan utilitas
infrastruktur drainase
fasilitas pelayanan publik pendukung
Total biaya proyek semacam ini bisa mencapai ratusan miliar rupiah jika dihitung secara keseluruhan.
Dan setiap rupiah dari anggaran tersebut harus melewati persetujuan legislatif.
Di Kabupaten Mojokerto, keputusan itu berada di tangan DPRD Kabupaten Mojokerto.
Antara Visi Pembangunan dan Realitas Fiskal
Pemerintah daerah mempromosikan gagasan pemindahan pusat pemerintahan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menata tata ruang wilayah.
Dalam sejumlah forum, gagasan tersebut juga dikaitkan dengan visi pembangunan daerah yang pernah disampaikan oleh Muhammad AlBarra.
Dalam kerangka pembangunan wilayah, pemindahan pusat pemerintahan sering dipandang sebagai cara untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Kompleks pemerintahan yang modern dapat menarik investasi, mendorong pembangunan kawasan bisnis, dan meningkatkan aktivitas ekonomi di wilayah sekitarnya.
Namun di sisi lain, realitas fiskal daerah juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Anggaran daerah memiliki banyak kebutuhan lain yang juga mendesak.
Mulai dari: perbaikan infrastruktur desa, pembangunan fasilitas kesehatan, peningkatan kualitas pendidikan, hingga program penguatan ekonomi masyarakat.
Ketika proyek besar muncul di tengah kebutuhan tersebut, perdebatan tentang prioritas pembangunan hampir selalu terjadi.
Fraksi-Fraksi dan Dinamika Politik
Di ruang rapat DPRD, setiap kebijakan strategis biasanya dibahas melalui fraksi-fraksi politik.
Di sanalah sikap partai politik mulai terlihat.
Sebagian anggota dewan mungkin melihat proyek pemindahan ibu kota kabupaten sebagai langkah pembangunan yang visioner.
Namun sebagian lainnya bisa saja menilai proyek tersebut belum menjadi kebutuhan paling mendesak.
Dalam banyak kasus di daerah, proyek pembangunan besar sering memunculkan dinamika politik yang cukup kompleks.
Perdebatan tidak hanya terjadi pada aspek teknis pembangunan.
Tetapi juga pada pertanyaan-pertanyaan lain.
Apakah kajian akademisnya sudah cukup kuat?
Apakah perencanaan tata ruangnya sudah matang?
Apakah pembiayaannya realistis?
serta bagaimana dampaknya terhadap masyarakat sekitar?
Di Kabupaten Mojokerto, sejumlah anggota legislatif mulai menerima aspirasi masyarakat yang mempertanyakan rencana pemindahan pusat pemerintahan tersebut.
Aspirasi itu datang melalui berbagai jalur, forum warga, organisasi masyarakat, hingga diskusi informal di tingkat desa.
Lingkaran Ekonomi di Sekitar Proyek
Namun dalam setiap proyek pembangunan berskala besar, dinamika politik jarang berdiri sendiri.
Selalu ada lingkaran ekonomi yang bergerak di sekitarnya.
Kompleks pemerintahan baru hampir pasti akan menciptakan peluang ekonomi baru, pembangunan perumahan, pusat perdagangan, hotel dan penginapan, kawasan jasa dan perkantoran.
Bagi pengusaha properti, proyek semacam ini bisa menjadi peluang bisnis yang sangat menarik.
Nilai tanah di sekitar kawasan pemerintahan biasanya meningkat secara signifikan setelah proyek berjalan.
Karena itu, banyak pihak mulai mengamati pergerakan transaksi lahan di sekitar wilayah Mojosari.
Beberapa warga menyebut bahwa aktivitas broker tanah meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Namun hingga kini belum ada data resmi yang menjelaskan secara rinci siapa saja yang menguasai lahan di sekitar kawasan tersebut.
Transparansi sebagai Kunci
Sejumlah pengamat tata kelola pemerintahan menilai bahwa proyek pembangunan pusat pemerintahan seharusnya dilaksanakan dengan tingkat transparansi yang sangat tinggi.
Publik berhak mengetahui, bagaimana proses penentuan lokasi, bagaimana status kepemilikan tanah, bagaimana mekanisme pengadaan lahan, serta bagaimana anggaran pembangunan direncanakan.
Tanpa transparansi, proyek besar bisa dengan mudah berubah menjadi sumber kecurigaan publik.
Dalam konteks itulah beberapa kelompok masyarakat mulai menyuarakan pentingnya pengawasan dari lembaga independen seperti Komisi Pemberantasan Korupsi.
Pengawasan semacam itu bukan berarti menuduh adanya pelanggaran hukum.
Namun lebih sebagai upaya pencegahan agar kebijakan pembangunan benar-benar berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik.
Malam yang Semakin Dalam di Warkop Pinggiran
Gerimis kembali turun di Mojokerto malam itu.
Lampu neon di Warkop Pinggiran Si Hitam Pahite masih menyala.
Beberapa pelanggan sudah pulang.
Namun Pakde Kumis, Wakidi, dan Gendon masih duduk di meja yang sama.
Pembicaraan mereka kembali ke topik yang sama.
Tentang kantor pemerintahan baru.
Tentang tanah di Mojosari.
Tentang uang ratusan miliar yang sedang dibicarakan orang-orang di gedung pemerintahan.
Pakde Kumis menatap kopi yang hampir habis di gelasnya.
“Yen kabeh prosesé jelas,” katanya pelan.
“Rakyat mesthi ndhukung.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi yen ada sing disimpen…”
Kalimat itu tidak ia selesaikan.
Namun semua orang di meja itu memahami maksudnya.
Karena dalam sejarah pembangunan di banyak daerah, yang sering menjadi masalah bukan proyeknya.
Melainkan apa yang terjadi di baliknya.