TAKBIR DI LUAR, SUNYI DI DALAM RUANG PERAWATAN. Lebaran yang Tertunda untuk Setiawan ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

TAKBIR DI LUAR, SUNYI DI DALAM RUANG PERAWATAN. Lebaran yang Tertunda untuk Setiawan

-

Baca Juga


Setiawan warga Jogodayoh Desa Jabon Kecamatan Mojoanyar Kabupaten Mojokerto 



Malam itu, langit Mojokerto bergetar oleh takbir.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Suara itu berlapis-lapis. Dari musholla kecil di gang sempit, dari masjid desa yang lampunya menyala terang, dari anak-anak yang menabuh bedug dengan riang. Desa Jogodayoh, Kecamatan Mojoanyar, hidup. Hangat. Penuh harap.

Lebaran telah tiba.

Namun di satu sudut kehidupan, kebahagiaan itu tidak singgah.

Setiawan, seorang warga desa, justru terbaring lemah saat gema takbir mencapai puncaknya. Tubuhnya memberi sinyal yang tak bisa diabaikan perut terasa nyeri, kondisi menurun drastis, dan tenaga seperti ditarik habis.

Tak ada waktu untuk menunggu.

Dalam kondisi cemas, ia menghubungi Gus Makruf, anggota DPRD Kabupaten Mojokerto dari Fraksi PAN. Telepon itu bukan sekadar panggilan biasa itu adalah panggilan pertolongan di tengah malam kemenangan.

Respons datang cepat. Tanpa protokoler, tanpa jarak kekuasaan.

Gus Makruf bergerak.

Setiawan segera dibawa menuju rumah sakit di Kota Mojokerto. Jalanan yang sebelumnya dipenuhi iring-iringan takbir berubah menjadi jalur darurat. Malam yang bagi banyak orang adalah perayaan, bagi mereka adalah perjuangan.

Di dalam ruang perawatan, suasana berbeda total.

Tak ada gema takbir.
Tak ada suara tawa keluarga.
Yang ada hanya bunyi ritmis alat medis… dan tetesan infus yang jatuh perlahan, seolah menghitung waktu.

Setiawan terbaring di ranjang. Hoodie hitam masih melekat di tubuhnya, seolah ia belum benar-benar siap menjadi “pasien” di malam yang sakral itu. Wajahnya lelah, matanya setengah terbuka menyiratkan antara sadar dan menahan rasa.

Lebaran datang.
Tapi ia tidak benar-benar “hadir” di dalamnya.

Secara medis, kondisi yang dialami Setiawan bukan hal yang asing.

Perubahan pola makan setelah sebulan berpuasa seringkali menjadi pemicu gangguan lambung. Saat tubuh yang terbiasa ritme terkontrol tiba-tiba “dibanjiri” makanan terutama yang berlemak, pedas, dan dalam jumlah besar sistem pencernaan bisa bereaksi keras.

Fenomena ini berulang setiap tahun.
Namun jarang benar-benar disadari.

Lebaran, bagi sebagian orang, menjadi momen “balas dendam” setelah menahan diri. Tapi bagi tubuh, itu bisa menjadi kejutan.

Dan bagi Setiawan, kejutan itu datang di waktu yang paling tidak diharapkan.

Di luar rumah sakit, pagi Idul Fitri merekah.

Orang-orang mengenakan pakaian terbaik. Saling bersalaman. Anak-anak menerima amplop dengan mata berbinar. Aroma opor ayam dan ketupat memenuhi udara.

Sementara itu, di dalam ruang perawatan, waktu berjalan dengan ritme yang berbeda.

Tak ada pelukan keluarga besar.
Tak ada foto bersama.
Tak ada meja makan penuh hidangan.

Yang ada hanya harapan sederhana,
sembuh.

Kisah Setiawan adalah potret kecil yang sering luput dari perhatian.

Bahwa di tengah euforia hari raya, selalu ada cerita-cerita sunyi yang berjalan paralel. Cerita tentang sakit, tentang keterbatasan, tentang orang-orang yang merayakan Lebaran dengan cara yang berbeda bahkan dengan menahan rasa.

Namun justru di sanalah makna lain dari Idul Fitri muncul.

Bukan sekadar kemenangan setelah puasa,
tetapi tentang kesabaran dalam kondisi yang tidak ideal.

Tentang menerima.

Tentang bertahan.

Lebaran tahun ini, bagi Setiawan, bukan tentang kembali ke fitrah dalam balutan kebahagiaan.

Melainkan tentang kembali pulih
pelan-pelan, dari ranjang rumah sakit.

Dan mungkin, di antara bunyi alat medis dan sunyinya ruang perawatan, takbir itu tetap sampai…
dengan cara yang lebih dalam.





Writer : DION 
Editor : DJOSE 






Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode