“TEATER MUSCAB DALANG TAK TERLIHAT, PENONTON TAK DIAJAK BICARA”
-Baca Juga
Sabtu, 28 Maret 2026.
Pagi hingga siang, di sebuah hotel di Kabupaten Mojokerto,
panggung itu dibuka tanpa tepuk tangan.
Di bawah komando Ulil Abshor Cholish,
tirai Muscab Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Mojokerto Jawa Timur terangkat,
pelan, rapi, nyaris tanpa suara.
Aneh.
Biasanya panggung politik itu berisik.
Ini malah seperti gladi bersih yang terlalu sempurna.
NASKAH YANG SUDAH DIHAFAL
Tiga tokoh masuk panggung.
Ayni Zuroh
Supriyanto
Eka Septya Juniarti
Penonton (kader) diberi kesempatan menambah pemeran.
Hening.
Tidak ada improvisasi.
Tidak ada aktor baru.
Tidak ada yang berani keluar dari naskah.
Seolah semua sudah tahu,
peran sudah dibagi sebelum lampu dinyalakan.
DEMOKRASI TANPA DRAMA
Tidak ada voting.
Tidak ada debat.
Tidak ada emosi.
Semua diarahkan ke satu pintu,
UKK di pusat.
Panggung lokal hanya jadi…
tempat pemanasan.
Pertunjukan utamanya ada di tempat lain.
Yang menentukan bukan penonton di sini.
PENONTON YANG KEHILANGAN CERITA
Yang paling aneh dari teater ini bukan aktingnya,
tapi ceritanya.
Karena tidak ada cerita.
Tidak ada, kisah petani Mojokerto, konflik ekonomi rakyat, drama pembangunan daerah.
Panggung berjalan… tanpa narasi rakyat.
Ini bukan teater kehidupan.
Ini teater prosedur.
DALANG YANG TIDAK NAMPAK
Di atas panggung, semua terlihat biasa.
Tapi dalam dunia pewayangan, kita tahu
yang menentukan bukan wayangnya,
tapi dalangnya.
Tidak terlihat.
Tidak disebut.
Tapi terasa.
Di bawah bayang kendali struktural Muhaimin Iskandar,
alur cerita mengalir tanpa hambatan.
Terlalu mulus untuk sekadar kebetulan.
Dan publik mulai bertanya,
ini pertunjukan bebas… atau pementasan terarah?
BAYANG-BAYANG YANG TERTAWA
Di kursi kosong paling belakang,
seolah ada yang tersenyum tipis.
Abdurrahman Wahid.
“Gitu aja kok repot.”
Dulu, itu kalimat pembebasan.
Sekarang?
Seperti berubah jadi mantra,
cukup jalankan… jangan banyak tanya.
TEATER TANPA RISIKO
Semua aman.
Semua nyaman.
Semua terkendali.
Tidak ada konflik.
Tidak ada kejutan.
Dan di situlah masalahnya.
Teater tanpa risiko bukan seni,
itu hanya simulasi.
SAAT TIRAI TURUN, PERTANYAAN NAIK
Muscab selesai.
Lampu padam.
Panggung kosong.
Tapi satu hal justru mulai hidup,
pertanyaan.
Kenapa tidak ada alternatif?
Kenapa tidak ada gagasan?
Kenapa semua terasa sudah selesai sebelum dimulai?
“Kalau ini benar teater demokrasi,
maka penontonnya tidak diajak berpikir,
hanya diajak percaya bahwa semuanya baik-baik saja.
Dan dalam politik, pertunjukan yang terlalu sempurna
sering kali justru menyembunyikan naskah yang tidak ingin dibaca.”
