BENDUNG WONOKERTO ala cerpen Silat BANDUNG BONDOWOSO. Kisah Beton yang Kokoh dan Air yang Menuntut Keadilan
-Baca Juga
GURUH DI MALAM SUCI
Di kala bumi sedang bersujud, di kala suara takbir membelah angkasa mencari ridho Illahi...
Langit di Wonokerto Wonodadi Kutorejo Mojokerto tak hanya menangis, ia MENGAMUK.
"Hujan turun bukan sekadar air, wahai kawan... ia adalah air mata alam yang tertahan ribuan tahun."
Namun siapa sangka, di balik rintik yang syahdu itu, tersembunyi kekuatan dahsyat bernama BANDUNG BONDOWOSO.
Bukan sekadar banjir, ini adalah HUKUM ALAM YANG TAK BISA DITAWAR.
DAG….DIG….DUG... DAR... DERRR!!!
Suara tanah pecah memekakkan telinga. Tebing-tebing yang dianggap kokoh, luluh lantak bagaikan kertas terbakar.
“Airnya besar sekali... tanahnya ambrol semua!” seru seorang penduduk, suaranya tercekat di tenggorokan, matanya memandang tak percaya.
Di sana, berdiri tegak sang RAKSASA BETON. Bendung Wonokerto.
Dibangun dengan biaya Rp. 4,1 Miliar Keping Emas, digadang-gadang sebagai tameng terkuat, penakluk sungai, penyelamat petani.
Namun malam itu, Alam berkata lain.
"Kau mungkin bisa menumpuk batu dan besi, tapi kau tak bisa menahan arus takdir."
Struktur itu belum sempurna. Tulang punggungnya belum kokoh. Dan ketika Bandung Bondowoso datang mengamuk... beton pun gemetar.
JAMBU (JANJI JANJI BUSUK)
Konon, pembangunan ini dimulai sejak bulan 4 Juli 2025 Waktu diberikan 160 hari, cukup bagai mengelilingi bumi seribu kali.
Namun apa daya, waktu berlalu, tahun berganti, namun pekerjaan baru selesai delapan puluh persen.
Pilar-pilar penyangga bagaikan tubuh tanpa nyawa.
Selimut beton belum menutupi raga.
Maka datanglah denda, datanglah perpanjangan waktu, dan yang paling ajaib... datanglah ANGGARAN TAMBAHAN senilai Rp 2,2 Miliar lagi!
Di atas kertas, ini disebut PERCEPATAN PEMBANGUNAN.
Namun di mata para sesepuh desa, ini hanyalah JURUS SILAT PALSU.
Membangun tanpa dasar, berjalan tanpa arah, memakan harta namun tak memberi hasil.
Air sungai berputar bagaikan pusaran Ilmu Banyu Putih, mengikis apa saja yang tidak benar.
Di sinilah letak filosofinya, wahai kawan...
"Air itu lembut, namun ia bisa menembus batu keras. Jika bangunanmu tidak jujur, air akan menemukan celahnya sendiri."
DERITA YANG MENGALIR KE DAPUR
Tapi ingatlah wahai kawan...
Hukum alam itu bulat. Apa yang terjadi di atas, akan terasa di bawah.
Keruntuhan tebing tidak hanya merusak tanah, tapi juga merobek perut rakyat.
- Pemilik kontrakan menunggu bayaran, namun uang bagaikan hilang ditelan bumi.
- Penjaga alat berat, yang setia menjaga harta orang lain, kini menahan lapar, upah tak kunjung tiba.
- Warung-warung kecil mencatat utang di kertas lusuh. Angka-angka kecil yang bagi orang besar tak berarti, namun bagi rakyat kecil adalah NYAWA.
Proyek bernilai miliaran itu meninggalkan jejak hitam.
UTANG, DUSTA, DAN KEKECEWAAN.
BISIKAN Ular DI ANTARA BATU
Angin berhembus membawa kabar mencekam.
Bukan hanya soal teknik yang salah, tapi ada dugaan kuat adanya ILMU HITAM di dalamnya.
Praktek non-teknis... permainan kotor... tangan-tangan jahil yang menggerogoti bangunan dari dalam.
Mengapa harus tambah dana?
Mengapa tebing mudah sekali runtuh?
Pertanyaan itu bergelayut seperti ular berbisa. Belum ada bukti yang terungkap, namun baunya sudah menyengat sampai ke hidung Dewa lembaga antirasuah.
ANTARA MONUMEN DAN MUKJIZAT
Kini, Bendung Wonokerto masih berdiri.
Tegak namun sunyi. Besar namun hampa.
Ia menjadi saksi bisu...
Apakah ia akan menjadi PUSAKA PENYELAMAT yang mengalirkan air kehidupan?
Atau justru menjadi BANDUNG BONDOWOSO versi modern? Penghancur yang dibangun dengan tangan manusia sendiri?
Seperti kata sang penyair Rumi:
"Lukamu adalah obatmu. Pukulan batu itu adalah cara Tuhan mengeluarkan permata darimu."
Mungkin keruntuhan ini adalah cara alam berkata,
"Benahi niatmu sebelum menumpuk batu. Karena apa yang dibangun dengan kebohongan, akhirnya akan menjadi debu."
Waktu terus berjalan...
Dan air sungai Sumber Kembar...
AKAN SELALU MENCARI JALANNYA SENDIRI.
Diantara keruhnya suasana BENDUNG WONOKERTO itu. Datanglah pendekar rakyat.
Dialog di Bawah Langit yang Mendung
Suasana di Dusun Wonokerto masih mencekam. Langit kelabu masih menyisakan air mata. Di bawah pepohonan bambu yang besar, duduklah seorang Pendekar tanpa nama, berjubah lusuh, memandang ke arah tumpukan beton dan tanah longsor dengan mata yang tajam namun penuh kesedihan.
Beberapa warga berkumpul di hadapannya, wajah mereka pucat pasi, masih menyimpan sisa kengerian semalam.
🗣️ DIALOG SANG PENDEKAR TANPA NAMA DENGAN PENDUDUK SETEMPAT KETAKUTAN YANG MENGGETARKAN DADA
Seorang penduduk dengan tangan gemetar, membuka suara :
"Saya tidak sangka, sang pendekar... Malam yang seharusnya tenang mendengar takbir, berubah menjadi neraka di dunia. Suaranya bukan guntur, tapi gemuruh yang datang dari perut bumi!"
Pendekar rakyat itu menghela napas panjang, angin berhembus kencang mengibarkan jubahnya.
Sang Pendekar:
"Itu bukan sekadar suara air, Wahai Sahabat. Itu adalah teriakan amarah Bandung Bondowoso yang terbangun. Alam tidak pernah berbohong. Ketika kau membangun tembok tanpa kekuatan sejati, maka air akan menjadi pedang yang membelahnya."
Warga Lain menyambar, matanya berkaca-kaca:
"Dahsyat sekali kekuatannya, pendekar! 'Airnya besar sekali... terus tanah itu ambrol!' Hamba lihat tebing yang kokoh hancur lebur seperti tahu basi! Apa gerangan yang terjadi?"
Pendekar menunjuk ke arah Bendung yang setengah jadi:
"Lihatlah itu... Itu disebut dam Bendung Wonokerto. Konon dibuat dari kepingan uang rakyat miliaran rupiah, dibuat untuk menaklukkan sungai. Tapi ingatlah hukum persilatan. Sebuah jurus ampuh tidak dilihat dari kemegahannya, tapi dari keseimbangannya. Mereka menumpuk beton, tapi lupa mengokohkan akar. Maka ketika badai datang, tubuhnya roboh sebelum sempat mengeluarkan jurus!"
🗣️ ANGKA MISTIK DAN JANJI PALSU
Seorang sesepuh desa maju, wajahnya penuh tanda tanya.
Sesepuh Desa:
"Pendekar.... Konon bangunan ini dijanjikan selesai dalam 160 hari kerja. Waktu berlalu, tahun berganti, namun mengapa baru selesai delapan puluh persen? Lalu datang lagi dana tambahan Rp. 2,2 Miliar Keping Emas! Apa maksud semua ini?
Pendekar tersenyum sinis, matanya memancarkan cahaya tajam.
Pendekar:
"Hahaha! Itu yang disebut Jurus Tipu Muslihat! Di atas kertas tertulis 'Percepatan Pembangunan', tapi di lapangan itu hanyalah 'Memakan Anggaran Tanpa Hasil'. Seperti pendekar yang memamerkan gerakan indah tapi tidak punya tenaga dalam. Mereka meminta darah segar (dana tambahan) hanya untuk menutupi luka busuk di dalam!"
"Pilar-pilar itu belum berdiri tegak, selimut beton belum menutupi raga. Bagaimana mungkin kau mengharapkan tameng kuat jika baju zirahnya saja belum rampung? Itu bukan pembangunan, Wahai Kawan... Itu adalah MENUNGGU BENCANA!"
🗣️DERITA RAKYAT DAN UANG YANG HILANG
Suasana menjadi hening dan pilu. Seorang pemilik warung maju membawa catatan lusuh.
Pemilik Warung:
"Pendekar... Lihatlah catatan ini. Para pekerja makan di sini, tapi utang menumpuk. Penjaga alat berat tidak dibayar upah, pemilik kontrakan tidak menerima sewa. Uang miliaran itu kemana gerangan perginya?"
Pendekar rakyat itu memandang kertas itu dengan pandangan nanar.
Pendekar:
"Sayang sekali... Angka-angka besar di papan proyek itu hanyalah ilusi optik. Yang nyata di sini adalah ratusan ribu rupiah yang menjadi nyawa bagi kalian. Proyek raksasa ini bukan hanya merusak tanah, tapi juga merampas rezeki orang kecil!"
"Uang mengalir deras seperti sungai, tapi tidak sampai ke tangan yang berhak. Ia tersedot ke dalam lubang hitam, ke dalam kantong-kantong yang tak pernah kenyang. Inilah yang disebut. Membangun Istana di Atas Derita Rakyat."
🗣️BISIKAN IBLIS DAN AKHIR YANG PASTI
Seorang pemuda bertanya dengan suara bergetar:
"Pendekar... Ada bisikan-bisikan angin... Konon ada Ilmu Hitam, ada praktek non-teknis di balik semua ini? Benarkah demikian?"
Sang Pendekar berdiri tegak, suaranya menggelegar seperti guntur.
Pendekar:
"Dengar baik-baik! Jika sebuah bangunan dibuat dengan jujur, meski sederhana ia akan bertahan ribuan tahun. Tapi jika dibangun dengan kecurangan, meski dari emas murni, ia akan runtuh oleh angin sepoi-sepoi!"
"Retaknya tanah itu adalah pertanda. Keterlambatan itu adalah bukti. Dan dana tambahan yang tak berkesudahan itu adalah Aroma Busuk yang Menyengat! Mereka pikir bisa menipu manusia, tapi mereka tidak bisa menipu langit dan bumi!"
Matahari mulai menampakkan diri, menyinari puing-puing dan beton yang retak. Warga menunduk lesu.
Pendekar rakyat itu berkata terakhir kali, suaranya berat dan penuh makna:
"Bendung itu masih berdiri... Tapi apakah ia akan menjadi Pusaka Penyelamat yang mengalirkan air kehidupan? Atau justru menjadi Monumen Kebusukan, saksi bisu proyek yang dipaksakan jalan sebelum siap?"
"Waktu adalah penguasa yang paling adil. Seperti air Sungai Sumber Kembar yang terus mengalir... Segala rahasia, segala dusta, segala kejahatan... Cepat atau lambat, akan TERBONGKAR DENGAN SENDIRINYA!"
--- To be Continue —
Writer : Damar Wijaya Tungga Dewa
