JALAN YANG TAMPAK RETAK, HATI YANG UTUH. Dari Desa Banyulegi, Dawarblandong. Ketika Jalan Salib Menjadi Jalan Bersama
-Baca Juga
Pagi itu, jalan desa di Banyulegi tampak seperti pecah.
Bukan karena rusak, melainkan karena cahaya yang memantul pada permukaan jalan raya aspal dan paving yang tak rata. Dari kejauhan, ia menyerupai retakan, seperti layar yang gagal menampilkan gambar dengan utuh.
Namun, ketika ratusan langkah kaki mulai menapakinya, semua ilusi itu runtuh.
Yang tersisa hanya satu, perjalanan.
Ketika Iman Turun ke Jalan
Di sebuah sudut sunyi Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, ratusan jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Pepantan Banyulegi berkumpul dalam khidmat memperingati Jum'at Agung.
Namun ibadah kali ini tidak berhenti di dalam gereja.
Ia keluar.
Ia berjalan.
Ia menyapa kampung.
Prosesi Jalan Salib digelar dengan teatrikal, para pemuda memerankan kisah penderitaan Yesus Kristus, memanggul kayu salib, melintasi jalan desa menuju sebuah bukit kecil di simpang tiga Banyulegi yang hari itu menjelma menjadi Golgota.
Bukan sekadar pertunjukan.
Bukan pula seremoni tahunan.
Ini adalah iman yang memilih untuk menjadi terlihat.
Langkah Tanpa Alas, Makna Tanpa Sekat
Di antara kerumunan itu, ada detail yang mudah luput, kaki-kaki tanpa alas.
Mereka berjalan di atas paving yang kasar, tidak rata, bahkan terkadang menyakitkan. Tapi justru di situlah letak penghayatannya, bahwa penderitaan bukan untuk dihindari, melainkan untuk dimaknai.
Setiap langkah adalah doa.
Setiap tapak adalah ingatan.
Dan jalan yang semula tampak “retak” itu, perlahan berubah menjadi saksi bisu dari sesuatu yang jauh lebih utuh, ketulusan iman.
Desa yang Menolak Retak
Namun Banyulegi tidak hanya berbicara tentang iman satu agama.
Ia berbicara tentang manusia.
Di sepanjang rute Jalan Salib itu, tidak semua yang hadir adalah jemaat gereja.
Ada warga Muslim.
Ada pemuda lintas keyakinan.
Ada tangan-tangan yang membantu tanpa bertanya, “kamu dari mana?”
Di sinilah Dawarblandong menghadirkan sesuatu yang jarang terdokumentasikan secara jujur,
toleransi yang tidak dibuat-buat.
Tidak ada panggung pejabat.
Tidak ada spanduk formalitas.
Yang ada hanya gotong royong.
Sebuah bentuk toleransi yang lahir dari kebiasaan, bukan dari pidato.
Teater, Tradisi, dan Tanah Jawa
Ada yang khas dari prosesi ini, ia tidak sepenuhnya Barat, juga tidak sepenuhnya Jawa. Ia adalah pertemuan keduanya.
Teatrikal Jalan Salib yang dibawakan para pemuda GKJW terasa seperti.
Drama liturgis gereja.
Bertemu dengan rasa kethoprak dan laku prihatin khas Jawa.
Di titik ini, agama tidak datang sebagai sesuatu yang asing.
Ia berakar. Ia membumi.
Dan, Dawarblandong menjadi panggungnya.
Makan Bersama. Ritual yang Menyatukan
Setelah semua prosesi selesai, tidak ada jarak yang tersisa.
Jemaat dan warga duduk bersama.
Makan bersama.
Tertawa bersama.
Sebuah adegan sederhana, tapi sarat makna.
Dalam banyak tradisi Nusantara, makan bersama bukan sekadar aktivitas sosial. Ia adalah simbol penerimaan. Pengakuan bahwa perbedaan tidak menghalangi kebersamaan.
Di meja-meja itulah, Jalan Salib menemukan bentuknya yang paling manusiawi,
berbagi.
Ilusi yang Terbongkar
Foto-foto dari prosesi itu sempat menipu mata. Jalan yang tampak pecah, visual yang terlihat terfragmentasi.
Namun seperti banyak hal dalam kehidupan, apa yang tampak tidak selalu mencerminkan kenyataan.
Banyulegi mengajarkan satu hal sederhana namun dalam.
Bahwa yang terlihat retak dari kejauhan, bisa jadi justru utuh ketika didekati.
Di tengah dunia yang mudah terbelah oleh perbedaan, desa kecil di utara Mojokerto ini justru menunjukkan sebaliknya.
Dari Dawarblandong untuk Indonesia
Apa yang terjadi di Banyulegi bukan hanya peristiwa lokal. Ia adalah cermin.
Cermin tentang bagaimana Indonesia seharusnya dirawat.
Bukan dengan slogan.
Tapi dengan perjumpaan.
Bukan dengan retorika.
Tapi dengan tindakan sederhana.
Langkah kaki di atas paving desa itu mungkin kecil.
Namun gaungnya bisa jauh.
Sampai ke kota.
Sampai ke ruang-ruang yang mulai kehilangan rasa percaya.
Jalan yang Sama
Pada akhirnya, Jalan Salib di Banyulegi bukan hanya milik umat Nasrani.
Ia adalah milik semua yang percaya bahwa, penderitaan bisa dipahami bersama, perbedaan bisa dirangkul dan manusia, pada dasarnya, ingin berjalan berdampingan
Di jalan yang sama.
Di tanah yang sama.
Di Indonesia yang sama.
