Langit Mojokerto belum juga benar-benar pulih ketika angin kembali datang dengan wajah yang lebih garang. ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Langit Mojokerto belum juga benar-benar pulih ketika angin kembali datang dengan wajah yang lebih garang.

-

Baca Juga


Rumah Warga Desa Ngares Kidul & Wetan 

Terminal Kertajaya Mojokerto 




Senin sore, 13 April 2026, pusaran angin puting beliung kembali menyapu sejumlah titik di Kabupaten Mojokerto. Bukan hanya Desa Banjaragung dan Kenanten di Kecamatan Puri yang kembali diterjang, tetapi juga kawasan Terminal Kertajaya Mojokerto hingga permukiman warga di Desa Ngares Kidul dan Ngares Wetan, Kecamatan Gedeg.

Dari pusat kota hingga sudut kampung, hari itu Mojokerto seperti sedang diuji oleh langit yang murka.





Di Terminal Kertajaya, amukan angin tidak sekadar memporak-porandakan atap halte bus antarkota dalam provinsi (AKDP) dan antarkota antarprovinsi (AKAP). Terpaan angin juga merusak bagian ruang tunggu penumpang dan area kantin terminal. Lembaran atap beterbangan, rangka bergoyang, dan serpihan material berserakan di tengah kawasan yang biasanya menjadi simpul mobilitas warga.

Terminal yang saban hari menjadi tempat orang datang dan pergi, sore itu berubah menjadi ruang cemas. Penumpang yang semula menunggu keberangkatan mendadak sibuk menyelamatkan diri. Mereka tak lagi memikirkan tujuan perjalanan yang utama adalah mencari tempat aman.






Namun yang lebih memilukan justru terjadi di kawasan permukiman.

Di Desa Ngares Kidul dan Ngares Wetan, Kecamatan Gedeg, deru angin memaksa warga menatap rumah mereka sendiri dengan rasa tak berdaya. Genteng-genteng beterbangan, atap bergeser, plafon terancam runtuh. Satu lingkungan RW dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah.

Rumah milik Bapak Khusnun, Imam, Ahmad Rokhim, Ibu Jaenab, dan sejumlah warga lainnya menjadi saksi betapa rapuhnya hunian ketika berhadapan dengan cuaca ekstrem yang datang tiba-tiba.

Bagi warga desa, rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah tempat pulang, tempat anak-anak tidur, tempat keluarga berteduh dari kerasnya hidup. Ketika atap beterbangan, yang runtuh bukan cuma genteng tetapi juga rasa tenang yang selama ini mereka jaga.

Rangkaian bencana dalam dua hari berturut-turut ini memperlihatkan bahwa Mojokerto sedang berada dalam fase cuaca yang tidak bisa lagi dianggap biasa.

Pola hujan deras disertai petir, suhu gerah sebelum badai, lalu datangnya awan cumulonimbus (Cb) yang memicu pusaran angin kencang, menjadi alarm nyata bahwa ancaman hidrometeorologi kini makin dekat dengan ruang hidup warga.


Persoalannya, apakah mitigasi kita sudah siap?

Ketika reklame tumbang di Banjaragung, halte rusak di terminal, dan rumah-rumah warga porak-poranda di Gedeg, maka yang dibutuhkan bukan sekadar evakuasi sementara. Yang dibutuhkan adalah langkah cepat. pendataan kerusakan menyeluruh, bantuan darurat untuk rumah terdampak, pengecekan instalasi listrik dan pohon rawan tumbang, posko siaga cuaca di desa, sistem peringatan dini yang menjangkau warga akar rumput.

Mojokerto hari ini sedang belajar satu hal yang pahit, bahwa bencana tidak datang dengan mengetuk pintu.

Ia datang ketika orang sedang menunggu bus. Ia datang ketika ibu-ibu sedang memasak. Ia datang ketika anak-anak sedang bermain di ruang tamu.

Dan saat angin merobek atap-atap rumah, yang paling dibutuhkan warga bukan sekadar belas kasihan, melainkan kehadiran negara yang sigap, cepat, dan benar-benar melindungi.





Writer.   : DAMAR
Editor.   :  Djose 






Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode