Majapahit Pencak Silat 2026 Panggung Prestasi, Tantangan Kesiapan Penyelenggara ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Majapahit Pencak Silat 2026 Panggung Prestasi, Tantangan Kesiapan Penyelenggara

-

Baca Juga


ILUSTRASI 



Semangat membangun prestasi olahraga daerah tengah menyala di Mojokerto. Dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Mojokerto ke-733, kejuaraan “Majapahit Pencak Silat Kompetisi 2026” disiapkan menjadi salah satu agenda unggulan pembinaan atlet muda di Bumi Majapahit.


Ajang yang akan digelar pada 3–5 Mei 2026 di GOR Gajah Mada Mojosari ini membawa harapan besar. Bukan sekadar kompetisi, tetapi ruang seleksi, pembinaan, dan penguatan ekosistem olahraga pencak silat, cabang yang memiliki akar budaya kuat di Jawa Timur.


Namun, di tengah antusiasme menuju kejuaraan, muncul sejumlah catatan penting yang layak menjadi perhatian bersama.


Salah satunya terkait biaya pendaftaran peserta. Berdasarkan informasi yang beredar di kalangan perguruan, setiap atlet dikenai biaya pendaftaran sebesar Rp200 ribu. Nominal ini dinilai cukup membebani, terutama bagi perguruan yang mengirimkan banyak atlet.


Dalam pembinaan olahraga akar rumput, biaya seperti ini bukan hal sepele. Perguruan yang serius membina atlet usia dini hingga remaja umumnya membawa banyak peserta. Konsekuensinya, semakin besar jumlah atlet yang dikirim, semakin besar pula beban yang harus ditanggung.


Sebagai ilustrasi, 10 atlet membutuhkan Rp2 juta, 20 atlet Rp4 juta, dan 30 atlet menembus Rp6 juta. Angka itu belum termasuk biaya transportasi, konsumsi, perlengkapan tanding, hingga kebutuhan pendamping.


Di level pembinaan, kondisi semacam ini berpotensi memunculkan kesenjangan akses. Talenta muda yang seharusnya mendapat panggung justru bisa tertahan oleh persoalan nonteknis, keterbatasan biaya.


Padahal, event ini membawa nama Hari Jadi Kabupaten Mojokerto. Wajar bila publik berharap ajang seperti ini mendapat dukungan pembiayaan yang cukup, agar misi pembinaan atlet tidak terbebani terlalu besar di level perguruan.


Tentu, biaya pendaftaran dalam turnamen olahraga bukan hal yang tabu. Panitia juga memiliki kebutuhan operasional, mulai dari venue, perangkat pertandingan, wasit, tim medis, keamanan, hingga logistik pelaksanaan.


Karena itu, yang paling dibutuhkan adalah transparansi dan komunikasi terbuka. Publik, pelatih, dan perguruan berhak mengetahui alasan penetapan biaya, skema penggunaan dana, serta bentuk dukungan yang telah disiapkan pemerintah daerah atau sponsor.


Selain isu biaya, kesiapan venue juga menjadi sorotan.


Dalam beberapa hari terakhir, wilayah Mojosari dilanda cuaca ekstrem, hujan deras, petir, dan angin kencang. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran soal kesiapan GOR Gajah Mada sebagai arena utama. Sejumlah kalangan menyebut terdapat titik atap yang bocor, hal yang perlu segera dipastikan dan ditangani sebelum pertandingan dimulai.


Bagi event olahraga, kualitas venue bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi menyangkut keselamatan atlet. Lantai licin akibat rembesan air, kelembapan tinggi, atau gangguan teknis lain bisa berdampak langsung pada performa dan keamanan peserta.


Majapahit Pencak Silat 2026 sejatinya adalah momentum emas. Mojokerto punya tradisi silat yang kuat, basis perguruan yang hidup, serta talenta muda yang melimpah. Semua modal itu seharusnya dirawat dengan tata kelola event yang profesional.


Kejuaraan besar tak hanya diukur dari ramainya peserta atau megahnya seremoni. Lebih dari itu, keberhasilan event ditentukan oleh seberapa adil aksesnya, seberapa aman penyelenggaraannya, dan seberapa serius komitmen pembinaannya.


Jika semua catatan ini dijawab dengan baik, Majapahit Pencak Silat 2026 tak hanya menjadi agenda tahunan biasa, tetapi bisa menjadi model pembinaan olahraga daerah yang sehat, terbuka, dan membanggakan.










Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode