Pekerja proyek KDMP di Mojokerto Jatim tewas tersengat listrik, satu luka bakar
-Baca Juga
Kecelakaan kerja di proyek KDMP Tawangsari membuka dugaan kelalaian serius dalam penerapan keselamatan kerja.
MOJOKERTO — Kecelakaan kerja yang menewaskan satu pekerja dan melukai satu lainnya terjadi di proyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Tawangsari, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Korban meninggal, Nasrudin Toha warga Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, sempat mendapatkan perawatan di RSUD dr. Wahidin Sudirohusodo sebelum dinyatakan meninggal dunia. Sementara korban lainnya, warga Desa Kweden Kembar, Kecamatan Mojoanyar, mengalami luka bakar serius.
Insiden diduga terjadi saat kedua pekerja berada di atas struktur rangka baja yang berdekatan dengan jaringan listrik udara milik Perusahaan Listrik Negara.
Dokumentasi visual yang beredar menunjukkan aktivitas proyek berlangsung tepat di bawah kabel listrik aktif, tanpa pengamanan memadai maupun penggunaan alat pelindung diri standar.
Dalam praktik konstruksi, pekerjaan di sekitar jaringan listrik aktif mensyaratkan prosedur ketat, termasuk pengaturan jarak aman, koordinasi dengan pihak kelistrikan, serta penggunaan perlengkapan keselamatan. Ketidakhadiran langkah-langkah tersebut meningkatkan risiko kecelakaan fatal.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pengelola proyek terkait kronologi lengkap kejadian.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan serius mengenai pengawasan dan penerapan standar keselamatan kerja dalam proyek-proyek skala desa.
Editorial
Kematian seorang pekerja di proyek Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Tawangsari seharusnya tidak terjadi.
Bukan karena takdir semata, tetapi karena risiko yang terlihat dan dibiarkan.
Di bawah jaringan listrik milik Perusahaan Listrik Negara, pekerjaan konstruksi tetap berlangsung. Tanpa jarak aman. Tanpa perlindungan memadai. Tanpa tanda bahwa keselamatan adalah prioritas.
Hasilnya kini nyata, satu nyawa hilang, satu tubuh terbakar.
Korban sempat dilarikan ke RSUD dr. Wahidin Sudirohusodo Kota Mojokerto. Namun upaya medis tidak mampu mengalahkan satu hal yang sudah terjadi sebelumnya, kelalaian.
Pertanyaannya sederhana, tapi tajam.
Mengapa pekerjaan tetap berjalan di bawah kabel listrik aktif?
Siapa yang memastikan keselamatan di lokasi itu?
Di mana pengawas proyek ketika risiko begitu nyata?
Jika semua pihak saling menunggu, maka yang pertama jatuh adalah pekerja.
Jika semua pihak saling diam, maka yang pertama hilang adalah nyawa.
Ini bukan sekadar kecelakaan kerja.
Ini adalah cermin dari cara kita memperlakukan pekerja di proyek-proyek kecil dianggap ada, tapi tidak dilindungi.
Pembangunan desa tidak boleh dibayar dengan nyawa.
Jika keselamatan hanya menjadi formalitas, maka setiap proyek adalah potensi tragedi.
Hari ini Tawangsari.
Besok bisa di tempat lain.
Dan jika tidak ada yang berubah, maka pertanyaan ini akan terus berulang.
Berapa nyawa lagi yang harus hilang sebelum keselamatan dianggap penting?
