PILKADES PAW DI BUMI MAJAPAHIT Srikandi Menang Telak di Mojo Kumpul, 74 Suara Mengunci Kemenangan di Utara Brantas
-Baca Juga
Di wilayah utara sungai Brantas Kabupaten Mojokerto Jawa Timur, demokrasi desa kembali bergerak.
Jika Desa Kintelan membuka babak Pilkades PAW 2026 di selatan, maka Desa Mojo Kumpul, Kecamatan Kemlagi, melanjutkan cerita dengan warna yang berbeda, dua kandidat perempuan, satu panggung kekuasaan desa.
Di tengah panas terik bulan Syawal, dompet bokek, tinggal ngopi karo udud tok. Meski demikian proses demokrasi tetap berjalan.
Tanpa riuh.
Tanpa keramaian berlebih.
Namun dengan hasil yang tegas.
DATA RESMI HASIL PENGHITUNGAN SUARA
Berdasarkan papan hasil penghitungan suara yang terpampang di lokasi.
Calon Kepala Desa PAW – Desa Mojo Kumpul
Supartiningsih
Perolehan suara: 3 suaraTitin Musrifah
Perolehan suara: 74 suara
Rekapitulasi
Total suara sah: 77 suara
Suara tidak sah: 1 suara
Total pemilih: 78 suara
Kemenangan yang Tidak Menyisakan Ruang Tafsir
Dengan perolehan 74 dari 77 suara sah, kemenangan kandidat nomor 2 nyaris absolut.
Margin ini bukan sekadar menang.
Ini adalah dominasi penuh dalam sistem demokrasi perwakilan.
Dalam konteks Pilkades PAW yang jumlah pemilihnya terbatas, angka seperti ini biasanya mencerminkan, konsolidasi dukungan yang kuat atau peta kekuatan yang sudah terbentuk sebelum hari pemilihan
Panggung Srikandi di Desa
Yang membuat Desa Mojo Kumpul berbeda bukan hanya hasilnya.
Tetapi komposisi kandidatnya.
Dua perempuan maju.
Dua perempuan bertarung.
Dan satu perempuan menang telak.
Di banyak desa, ini masih menjadi fenomena yang jarang.
Namun di Desa Mojo Kumpul, ini menjadi bukti bahwa,
politik desa tidak lagi eksklusif milik laki-laki.
“Botoan” yang Tidak Pernah Pergi
Seperti di Desa Kintelan, dinamika di Desa Mojokumpul tidak sepenuhnya steril.
Istilah lokal kembali muncul,
“Botoan.”
Desas-desus tentang praktik transaksional terdengar pelan.
Tidak masif.
Tidak terbuka.
Namun cukup untuk menjadi bahan obrolan warga di pinggir arena.
Dalam Pilkades PAW, praktik seperti ini sering lebih halus.
Karena, jumlah pemilih sedikit, relasi sosial lebih dekat, pendekatan lebih personal.
Belum ada laporan resmi.
Namun dalam politik desa, isu kecil bisa menjadi sinyal besar.
Demokrasi 78 Orang
Jika di Kintelan ada 89 pemilih, di Mojo Kumpul hanya 78 orang yang menentukan arah desa.
Ini adalah demokrasi dalam skala paling mikro.
Namun justru di titik ini, pertaruhan menjadi lebih tajam, satu suara bisa menentukan arah kebijakan, satu keputusan bisa mempengaruhi seluruh warga desa.
Catatan Lapangan Suasana di Balai Desa
Dari visual yang terekam
Dua kandidat duduk berdampingan di panggung
Panitia dan perangkat desa berjajar rapi
Spanduk bertuliskan “Musyawarah Desa – Pemilihan Kepala Desa Antar Waktu” menjadi latar utama
Kotak suara sederhana menjadi pusat proses demokrasi
Tidak ada euforia.
Tidak ada teriakan massa.
Hanya suasana formal, tertib, dan… sunyi.
Namun justru dalam kesunyian itulah, keputusan besar diambil.
Demokrasi yang Terkonsolidasi?
Dari dua episode awal Pilkades PAW di Mojokerto, muncul satu pola menarik.
Pemenang, menang dengan selisih besar
Minim kejutan, saat penghitungan suara
Isu transaksional tetap hadir, meski samar
Ini membuka pertanyaan yang lebih dalam.
Apakah demokrasi desa sudah benar-benar kompetitif?
Ataukah hasilnya sudah terkunci jauh sebelum hari pencoblosan?
Serial Pilkades PAW ini belum selesai.
Masih ada desa lain yang menyimpan dinamika lebih panas.
Salah satunya, Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro
yang hingga kini masih diliputi pro-kontra.
Di Desa Mojo Kumpul, demokrasi berjalan cepat.
78 orang memilih.
74 suara menentukan arah.
Dan satu nama keluar sebagai pemenang.
Di bawah panas bulan Syawal, pasca Lebaran di utara Brantas, satu hal kembali terbukti, benar benar LEBAR isi Dompet 🤑🤣
Demokrasi desa mungkin kecil jumlahnya.
Tapi selalu besar dampaknya. Riyoyo Gak Nggoreng Kopi - Ngedep Mejo Gakno Jajane….. brooo…. hehehe
Writer : Damar Oblek
Editor. : PakLik uncle
