“SOP dan Kabel Tegangan Menguji Keselamatan di Proyek Desa Tawangsari”. Di antara prosedur yang diklaim berjalan dan fakta visual yang berbicara
-Baca Juga
Di lokasi proyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Tawangsari, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur garis-garis kabel listrik membentang rendah, seolah menjadi batas tak kasatmata antara prosedur dan risiko.
Di bawahnya, pekerjaan tetap berlangsung.
Hingga satu hari, batas itu terlampaui.
Dua pekerja tersengat listrik.
Satu nyawa hilang, meski sempat dilarikan ke RSUD dr. Wahidin Sudirohusodo.
Pasca kejadian, Komandan Kodim 0815 Mojokerto, Letkol. Abi Swanjoyo, turun langsung ke lokasi.
Ia menegaskan bahwa pengarahan keselamatan kerja telah rutin dilakukan.
“Setiap hari sudah kami ingatkan untuk bekerja hati-hati dan sesuai prosedur.”
Lebih jauh, ia memastikan tanggung jawab penuh atas korban, santunan bagi keluarga korban meninggal, biaya perawatan korban luka ditanggung.
Pernyataan ini penting.
Ia menunjukkan adanya kesadaran institusional terhadap K3, setidaknya dalam tataran prosedural.
Namun foto dan dokumentasi yang beredar memperlihatkan kondisi berbeda.
pekerja berada di atas rangka tangga scafolding, kabel listrik berada sangat dekat, tidak tampak alat pelindung diri lengkap, tidak terlihat pengamanan jaringan.
Jaringan listrik udara milik Perusahaan Listrik Negara tampak aktif, melintang tepat di atas area kerja.
Dalam standar konstruksi, pekerjaan di dekat jaringan listrik bukan sekadar soal kehati-hatian, tetapi manajemen risiko teknis. Pengaturan jarak aman. Isolasi atau pemadaman. Penggunaan APD khusus
Ketika satu saja tidak terpenuhi, risiko meningkat.
Ketika semuanya absen, risiko menjadi nyata.
Apakah SOP telah dijalankan secara substansial, atau hanya prosedural?
Karena dalam banyak proyek, briefing keselamatan dilakukan, tetapi implementasi di lapangan longgar.
SOP, dalam praktik terbaik, bukan sekadar pengarahan pagi.
Ia adalah sistem yang hidup di lapangan, pengawasan aktif, koreksi langsung, penghentian kerja jika berbahaya.
Jika pekerjaan tetap berjalan di bawah kabel aktif tanpa pengamanan, maka SOP, meski ada, kehilangan fungsi protektifnya.
Proyek skala desa sering berada dalam ruang abu-abu, anggaran terbatas, tekanan penyelesaian cepat, pengawasan teknis minimal.
Dalam kondisi ini, keselamatan sering kali dianggap tanggung jawab individu pekerja, bukan sistem yang harus dijamin.
Padahal, dalam prinsip konstruksi modern, keselamatan adalah tanggung jawab sistem, bukan keberuntungan individu
Langkah tanggung jawab yang disampaikan, santunan dan pembiayaan perawatan adalah respons penting.
Namun dalam perspektif keselamatan kerja, tanggung jawab tidak berhenti pada penanganan pasca-kejadian.
Ia justru dimulai dari pertanyaan.
Apakah prosedur sudah cukup?
Apakah pengawasan efektif?
Apakah risiko dikenali sejak awal?
Dan yang paling penting.
Apakah kejadian ini bisa dicegah?
Hari ini, proyek mungkin akan kembali berjalan.
Rangka baja akan kembali disusun.
Aktivitas akan berlanjut.
Namun kabel listrik itu masih di sana.
Menggantung di atas, seperti sebelumnya.
Pertanyaannya kini bukan lagi tentang satu kejadian, melainkan tentang sistem yang mengelilinginya, apakah keselamatan akan benar-benar ditegakkan atau hanya kembali diingatkan hingga kejadian berikutnya?
Writer : Dion
