TAMASYA NIRMAKNA PESTA DI ATAS RERUNTUHAN MAKNA ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

TAMASYA NIRMAKNA PESTA DI ATAS RERUNTUHAN MAKNA

-

Baca Juga



Catatan Pinggir oleh: SOFAN

 

Kita sedang menyaksikan sebuah lakon yang sangat ironis. Sebuah drama di mana tanda dan makna sudah tidak lagi sejalan.

Baru saja panggung diplomasi di Kremlin, Moskow, usai digelar dengan suasana yang kaku dan dingin. Banyak pengamat menilai itu sebagai kegagalan dalam merajut kepentingan strategis bangsa di bawah bayang-bayang kekuasaan asing. Diskon minyak yang diharapkan tak kunjung didapat, negosiasi jalan di tempat.

Namun lihatlah, panggung kekuasaan kita tiba-tiba berpindah ke Paris. Bukan untuk menyambung utas pembicaraan yang putus, bukan untuk mencari solusi atas nasib rakyat. Melainkan... sekadar untuk merayakan ulang tahun.

Di kota cahaya yang menjadi simbol kemewahan dunia, perayaan ulang tahun Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, berubah menjadi sebuah ekshibisi banal. Ada kontras yang menyakitkan, baik di mata maupun di hati.

Di satu sisi, kegagalan diplomasi adalah realitas pahit yang harus ditanggung bangsa. Tapi di sisi lain, di hadapan publik, yang disajikan hanyalah hiper-realitas, tawa, kue ulang tahun, dan potret "kemesraan" personal antara Presiden dan Seskab yang sengaja dipertontonkan ke layar gadget kita.

 

TAMASYA MENGGUNAKAN UANG KITA

Ketika keuangan negara dikuras untuk penerbangan lintas benua, yang kita terima bukanlah laporan kerja yang bernas, melainkan estetika narsisme kekuasaan. Ruang publik kita sedang dibanjiri oleh citra bahwa kedekatan emosional dan "kehangatan personal" jauh lebih penting daripada akuntabilitas kerja.

Paris bukan lagi ruang diplomasi. Ia telah berubah menjadi ruang tamasya privat yang ditunggangi menggunakan anggaran rakyat. Kita menyaksikan erosi fungsi negara, yang perlahan berubah menjadi sekadar "keluarga besar" yang sedang piknik.

Ini bukan sekadar soal angka di neraca keuangan. Ini soal dekadensi simbolik. Bagaimana mungkin sebuah bangsa percaya pada nakhodanya, jika setelah badai menerpa di utara, sang nakhoda justru memilih bersantai di kafe-kafe mewah Eropa? Seolah-olah tugas negara hanyalah sekadar mengumpulkan "momen manis" untuk konten media sosial.

Inilah pesta pora di atas reruntuhan makna. Meriah di permukaan, namun hampa dan sunyi di dalamnya. Ketika hasil kerja nihil, yang tersisa hanyalah perayaan yang dibayar dengan keringat kita.


KACA BENGGALA BEGAWAN SABDOWOLO

Ironi ini mengingatkan saya pada sebuah lakon agung dalam kesenian wayang kulit. Begawan Sabdowolo atau yang sering dikenal sebagai Petruk Dadi Ratu.

Dalam cerita itu, negeri Amarta sedang kacau balau. Para pemimpin yang seharusnya bijaksana tiada, kekuasaan direbut oleh mereka yang serakah dan tidak bertanggung jawab. Maka, roh kebenaran diwakili oleh Raden Wisanggeni. Seorang ksatria kesayangan para Dewa (Sangyang Wenang) pun nyawiji dalam diri Petruk, sosok punakawan yang mewakili rakyat jelata.

Petruk berubah menjadi Begawan Sabdowolo, pemimpin yang lurus hati, tegas, dan membawa kebenaran (Sabda) yang jernih serta mampu membalikkan keadaan yang kacau (Wolo).


Nasehat ini cermin pemimpin zaman now

Manunggaling Kawula Gusti yang Hilang. Begawan Sabdowolo mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang menyatu dengan rakyat. Bukan yang hidup di awang-awang, memamerkan kemewahan, sementara rakyat di bawah menanggung beban. Pemimpin sejati berakar dari ketulusan, bukan dari kemewahan.

Kebenaran vs Kepalsuan

Nama Sabdowolo berarti "Kata yang Jernih" atau "Kebenaran yang Membalikkan Situasi". Berbeda dengan lakon di atas yang penuh kemasan palsu dan narsisme, Sabdowolo hadir untuk menegakkan kebenaran, berani bicara apa adanya meski menentang arus kekuasaan.

Ketika Pemimpin Tak Lagi Menjadi Panutan.

Lakon ini selalu dimainkan saat masyarakat kehilangan figur teladan. Saat kekuasaan disalahgunakan untuk kesenangan pribadi, saat fungsi negara dijadikan alat pemuas ego, maka muncullah kerinduan akan sosok seperti Begawan Sabdowolo. Pemimpin yang bukan saja sakti, tapi juga rendah hati, jujur, dan mengutamakan kesejahteraan umum.

 

PESAN MORAL 

Negeri ini sedang kehilangan kompas. Kita lebih sibuk memoles citra daripada membenahi realita. Kita lebih bangga memamerkan "kemesraan" elit daripada memperjuangkan hak rakyat.

Seperti kata filosofi Jawa. Kepemimpinan yang sejati bukan tentang seberapa tinggi jabatanmu, atau seberapa mewah perjalananmu, tapi tentang seberapa jernih niatmu untuk melayani.

Jika yang kita punya sekarang hanyalah tamasya nirmakna dan pesta di atas penderitaan, maka kita sedang menunggu datangnya Begawan Sabdowolo yang sesungguhnya (simbol dari rakyat kecil /wong cilik). Yang datang bukan untuk berpesta, tapi untuk membenahi yang rusak, dan mengembalikan kebenaran pada tempatnya. Jangan sampai catatan pinggir ini menjadi sebuah kenyataan pahit seperti peristiwa 98 (REFORMASI).



#CatatanSosial #KritikPenguasa #FilosofiJawa #SaveNegeri



Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode