Denting Kerajinan Kuningan & Udeng di Jantung Majapahit, Desa Bejijong Menghidupkan Kembali Kejayaan yang Sempat Terkubur ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Denting Kerajinan Kuningan & Udeng di Jantung Majapahit, Desa Bejijong Menghidupkan Kembali Kejayaan yang Sempat Terkubur

-

Baca Juga


Kades Bejijong Pradana Tera Mardiatna (baju batik) ; dr. Rambo Garudo Anggota DPRD Kota Mojokerto Fraksi PDI Perjuangan (baju putih) ; Banyu Biru Djarot Anggota DPR RI Komisi VII (seragam PDL)




Kilas Balik Empat Belas Abad Silam

Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Trowulan, namun hawa panas masih menyengat di sekitar Candi Brahu. Di bawah bayang-bayang bata merah yang telah berdiri sejak abad ke-15 ini, Desa Bejijong meregangkan tubuhnya. Di sinilah, tepat di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, tanah yang dipijak warga hari ini adalah bekas halaman belakang istana Kerajaan Majapahit.

Secara geografis, Bejijong bukanlah desa biasa. Terletak sekitar 60 kilometer di barat daya Surabaya, desa seluas 1,51 kilometer persegi ini adalah rumah bagi ± 5.400 jiwa yang hidup berdampingan dengan artefak masa lalu. Di bawah tanah yang mereka garap, terdapat lapisan-lapisan sejarah yang tak habis digali, pecahan porselen Dinasti Ming, sisa-sisa sumur kuno, hingga lantai rumah pemukiman Majapahit yang terkubur berabad-abad.

Bagi siapa pun yang berjalan menyusuri gang-gang desa, aroma tanah basah berpadu dengan kepulan asap pembakaran tanah liat dan leburan logam. Bejijong bukan sekadar tempat tinggal,  ia adalah living museum, sebuah museum hidup di mana masa lalu dan masa kini bernapas dalam satu tarikan napas yang sama.


Pijar Api dan Warisan Para Leluhur

Di sebuah bengkel kecil di sudut Dusun Bejijong, suara denting palu beradu dengan kuningan memecah keheningan sore. Di sana ada Pak Slamet (58), salah satu dari sekitar 120 perajin cor kuningan yang masih bertahan di desa ini. Wajahnya legam terkena jelaga, namun matanya berbinar saat menceritakan bagaimana ia meneruskan keahlian yang diwariskan turun-temurun sejak era Raja Hayam Wuruk.

“Kami tidak sekadar membuat pajangan, Mas. Ini adalah replika artefak leluhur kami. Saat saya membentuk patung Garuda Mukha atau Arca Ganesha, saya merasa seperti sedang berbicara dengan pembuatnya ratusan tahun lalu,” ujar Pak Slamet sambil mengusap patung kuningan yang masih hangat.

Industri cor kuningan adalah urat nadi ekonomi kreatif Desa Bejijong. Saat ini, sektor tersebut menyerap lebih dari 35% tenaga kerja lokal. Menariknya, produk dari tangan-tangan terampil ini tidak hanya menghiasi ruang tamu di Jakarta atau Bali, tetapi telah melintasi batas samudra. Pasar ekspor ke Jepang, Eropa, hingga Amerika Serikat telah berhasil ditembus, membuktikan bahwa identitas Majapahit memiliki daya pikat universal.




Siasat Menjaga Napas Majapahit di Era Digital

Namun, romantisme sejarah saja tidak cukup untuk menghidupi warga desa. Di balik suksesnya ekspor kuningan, ada tantangan besar yang mengintai, fluktuasi harga bahan baku tembaga, minimnya perlindungan hak cipta atas desain replika artefak, hingga kebutuhan regenerasi perajin muda yang kian menipis.

Melihat urgensi tersebut, Pemerintah Desa Bejijong bersama Kepala Desa serta Sekretaris Desa (Sekdes) mengambil langkah strategis. Mereka merumuskan branding baru, "Bejijong Heart of Majapahit". Sebuah langkah yang tidak hanya diniatkan untuk menarik wisatawan, tetapi juga sebagai payung hukum bagi perlindungan produk lokal.

Langkah ini bukan sekadar wacana di tingkat lokal. Dalam sebuah audiensi penting di Jakarta, Pemerintah Desa Bejijong yang dipimpin Kades Pradana Mardiatna dan Sekdes Agus Wicaksono didampingi oleh anggota DPRD Kota Mojokerto dari Fraksi PDI Perjuangan dr. Rambo, duduk bersama Komisi VII DPR RI Banyu Biru Djarot dan Kemenparekraf.

 "Kami mengusulkan regulasi yang konkret. UKM dan UMKM di sektor cor kuningan ini harus dilindungi. Mereka adalah penjaga gawang budaya kita. Kami ingin ada transformasi digital, baik dalam pemasaran maupun manajemen, namun akarnya harus tetap tradisi," tegas pihak Pemerintah Desa Bejijong dalam audiensi tersebut.

Selain dikenal sebagai industri UMKM cor kuningan, Desa Bejijong juga memperkenalkan produk UMKM Udeng Bejijong.

Targetnya jelas dan ambisius membawa Desa Bejijong menjadi destinasi unggulan berkelas internasional. Melalui pengembangan 75 homestay bergaya rumah Majapahit yang kini telah berdiri di desa tersebut, Bejijong menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara naik hingga 30% dalam dua tahun ke depan.

Menolak Lupa, Merawat Sejahtera

Desa Bejijong mengajarkan kita bahwa masa lalu tidak harus berakhir di dalam lemari kaca museum yang berdebu. Di Bejijong, kejayaan Majapahit itu hidup, ia mengalir dalam peluh para perajin cor kuningan, ia berdiri tegak dalam pilar-pilar "homestay" warga, dan ia kini sedang berjuang di meja-meja parlemen untuk mendapatkan pengakuan dunia.

Ketika malam benar-benar jatuh di Trowulan, suara palu Pak Slamet perlahan mereda. Namun, bara api di tungku peleburan kuningan itu masih menyala merah. Sama seperti tekad warga Desa Bejijong menolak untuk melupakan sejarah, demi merajut masa depan yang lebih sejahtera.






Writer.    : Damar Wijaya Tungga Dewa 
Editor.    : Dara jingga Wilwatikta 







Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode