GLÉDEKAN LAKER. Parade Gledekan Laker Anak Gunung, Antara Tradisi, Adrenalin, dan Risiko Luka Luka ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

GLÉDEKAN LAKER. Parade Gledekan Laker Anak Gunung, Antara Tradisi, Adrenalin, dan Risiko Luka Luka

-

Baca Juga


Ratusan peserta bersiap di garis start glédekan laker di kawasan Pacet. Posisi duduk rendah dan formasi rapat menandai sistem mass start, sementara bendera kotak-kotak menjadi penanda bahwa permainan tradisional ini telah bertransformasi menjadi ajang lomba terbuka.
Peserta meluncur di jalur menurun dengan kecepatan tinggi, disaksikan ribuan warga yang memadati sisi jalan. Lintasan tanpa pembatas memperlihatkan daya tarik sekaligus risiko glédekan laker di lereng Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan.




"Dari ngabuburit sederhana, berubah menjadi atraksi massal di lereng Pacet Mojokerto Jawa Timur. Glédekan laker kini menarik ratusan peserta dan ribuan penonton, menghidupkan ekonomi lokal, sekaligus membuka pertanyaan serius tentang keselamatan di ruang publik." 





Suara itu datang beruntun kasar, bergetar, seperti logam beradu dengan aspal, glédeek… glédeek…
Di kaki Gunung Welirang dan Gunung Penanggungan, suara itu bukan gangguan. Ia adalah aba-aba. Puluhan remaja menunduk rendah di atas papan rangka kayu dan lempengan besi, siap meluncur. Tidak menggunakan mesin. Tidak ada rem standar. Hanya gravitasi, insting, dan nyali. Gas pol rem blonggg.

Dalam hitungan detik, jalan menurun berubah menjadi lintasan.
Dan tradisi menjadi tontonan.


Dari Ngabuburit ke Parade Massal

Glédekan laker lahir dari kebutuhan sederhana, mengisi waktu menunggu berbuka puasa ramadhan. Anak-anak gunung merakit kendaraan dari bekas sepeda onthel dan plat besi, memasang bearing bekas sebagai roda, lalu meluncur di jalan turunan.

Waktu mengubah skala.
Komunitas lokal dengan nama-nama khas kampung mulai mengorganisasi kumpul bareng, parade, hingga lomba. Momentum liburan dan akhir pekan menjadi panggung. Di jalur seperti Claket hingga Padusan, arus peserta bisa mencapai ratusan.

Fenomena ini juga ada dikawasan Kabupaten Magetan Jawa Timur Di lereng Gunung Lawu, kawasan Cemoro Sewu, tradisi serupa hidup dengan dialek berbeda. Satu benang merah,anak gunung bermain dengan alam, bukan melawannya.




Teknologi Nol, Kreativitas Penuh

Glédekan laker adalah “permainan tanpa mesin”.
Rangka sepeda onthel dirakit manual, roda dari laker bekas kendaraan, kemudi menggunakan setir sepeda onthel dan pijakannya dengan kaki. Setiap unit unik, tidak ada standar pabrikan.

Di titik start, perbedaan desain terlihat jelas,
yang panjang mengejar stabilitas, yang pendek mengejar kelincahan. Helm dan pelindung? Ada, tapi tidak seragam. Di sinilah improvisasi bertemu risiko.





Lintasan Tanpa Ampun

Jalur pegunungan menawarkan satu hal, gravitasi yang tidak bisa dinegosiasi.
Turunan panjang, tikungan buta, dan permukaan cor beton yang tidak selalu sempurna menjadi variabel tetap.

Ketika start dilepas, puluhan peserta meluncur hampir bersamaan, mass start. Jarak antar rider rapat, kecepatan meningkat seiring turunan. Margin kesalahan nyaris nol. Satu slip kecil bisa memicu efek domino.

Namun justru di titik itu, penonton berdatangan.
Mereka berdiri di sisi jalan, naik ke tembok, mengabadikan momen dengan ponsel. Jalan publik berubah menjadi arena, tanpa pagar pembatas yang memadai.


Ekonomi yang Ikut Berlari

Setiap event kecil memicu ekonomi mikro, pedagang minuman, makanan ringan, parkir dadakan, hingga jasa dokumentasi. Tanpa skema resmi, perputaran uang tetap terjadi,cepat, cair, dan langsung ke warga.

Bagi daerah, ini potensi.
Bagi pelaku, ini ruang hidup.


Tradisi vs Regulasi

Di sinilah persoalan mengeras.
Glédekan laker berada di wilayah yang belum sepenuhnya terdefinisi, bukan olahraga resmi, bukan pula sekadar permainan privat.

Menggunakan jalan umum berarti bersinggungan dengan aturan lalu lintas dan keselamatan. Tanpa standar teknis, tanpa pengawasan formal, risiko menjadi tanggung jawab kolektif yang seringkali tidak terkelola.

Pertanyaannya sederhana, jawabannya tidak.
Apakah ini akan dibiarkan sebagai spontanitas budaya, atau diangkat menjadi atraksi resmi dengan standar keselamatan?


Menjaga Akar, Menata Masa Depan

Di tengah gempuran digitalisasi, glédekan laker adalah bentuk perlawanan yang jujur. Ia menjaga nilai lama, kebersamaan, keberanian, kreativitas tangan.

Namun ketika skala membesar, romantisme saja tidak cukup.
Diperlukan tata kelola, pengamanan lintasan, pembatas penonton, standar alat, hingga koordinasi dengan otoritas setempat.

Jika ditata, ia bisa menjadi sport tourism berbasis lokal.
Jika dibiarkan, ia tetap hidup, dengan risiko yang ikut tumbuh.


Tiga Titik Kritis Glédekan Laker:

Keselamatan: belum ada standar helm, rem, dan pengaman lintasan.

Regulasi: penggunaan jalan umum tanpa skema izin formal yang baku.

Potensi Wisata: daya tarik tinggi, bisa dikembangkan jadi event resmi berbasis komunitas.





Writer.  : Dion
Editor.   : Djose 


Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode