HARDIKNAS YANG SUNYI DI PINGGIRAN MOJOKERTO. Ketika Janji Negara Tak Pernah Sampai ke Ngingas Rembyong
-Baca Juga
Tanggal 2 Mei 2026.
Di seluruh Indonesia, spanduk dan baliho mengucapkan selamat
Hari Pendidikan Nasional.
Pidato tentang masa depan bangsa disampaikan.
Sekolah-sekolah menggelar upacara.
Anak-anak mengenakan seragam terbaik mereka.
Namun di sebuah desa di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, hari itu terasa berbeda.
Tidak ada perayaan.
Tidak ada upacara yang istimewa.
Yang ada hanya satu hal,
penantian yang belum selesai.
Desa yang Masih Menunggu Sekolah Negeri
Desa itu bernama Ngingas Rembyong.
Di desa ini, peringatan Hari Pendidikan Nasional bukanlah seremoni.
Ia adalah pengingat.
Bahwa hingga hari ini, warga masih menunggu satu janji yang belum ditepati, pembangunan SMP Negeri.
Sejak 2007, permohonan itu diajukan.
Sejak itu pula harapan terus dipelihara.
Namun hingga 2 Mei 2026, bangunan sekolah itu belum pernah berdiri.
Hardiknas yang Tidak Dirayakan
Bagi sebagian anak di desa ini, Hari Pendidikan Nasional justru terasa pahit.
Karena mereka tahu, setelah lulus sekolah dasar, perjalanan mereka menjadi tidak pasti.
Tidak ada SMP Negeri di desa.
Sekolah terdekat berada jauh dari jangkauan ekonomi keluarga petani dan buruh tani.
Sebagian anak tetap berusaha melanjutkan.
Namun tidak sedikit yang akhirnya berhenti.
Hari yang seharusnya merayakan pendidikan justru menjadi pengingat,
bahwa tidak semua anak memiliki akses yang sama.
Janji yang Menggantung Dua Dekade
Pemerintah desa sebenarnya sudah melakukan banyak hal.
Lahan seluas tiga hektar telah disiapkan.
Kebutuhan siswa dinilai layak.
Namun janji pembangunan terus bergulir tanpa realisasi.
Setiap pergantian kepemimpinan, harapan itu kembali dihidupkan.
Dan setiap kali pula, harapan itu kembali tertunda.
Suara dari Balai Desa
Di Ngingas Rembyong, perjuangan pendidikan tidak terjadi di ruang seminar atau forum akademik.
Ia terjadi di balai desa.
Di tempat itu, orang tua datang membawa anak-anak mereka setiap tahun ajaran baru.
Mereka menyampaikan kegelisahan yang sama,
bagaimana menyekolahkan anak mereka.
Bagi banyak keluarga, pendidikan bukan sekadar pilihan.
Ia adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib.
Kepala Desa yang Menagih Janji
Kepala Desa Kusdianto telah membawa suara itu ke DPRD.
Ia menyampaikan aspirasi warga secara langsung kepada pemerintah daerah.
Ia tidak berbicara tentang proyek besar.
Ia hanya menyampaikan kebutuhan dasar,
akses pendidikan.
Namun hingga Hari Pendidikan Nasional 2026, jawaban konkret itu belum juga datang.
Ironi di Tanah Sejarah
Kabupaten Mojokerto dikenal sebagai wilayah bersejarah besar Nusantara, pusat kejayaan
Majapahit Empire.
Dari wilayah ini, dulu lahir konsep besar tentang persatuan dan peradaban.
Namun di masa kini, di wilayah yang sama, masih ada desa yang belum memiliki akses pendidikan menengah pertama negeri.
Pertanyaan di Hari Pendidikan Nasional
Hari Pendidikan Nasional selalu membawa pesan tentang kemajuan dan pemerataan.
Namun dari Ngingas Rembyong, muncul satu pertanyaan sederhana,
apakah pembangunan pendidikan sudah benar-benar merata?
Karena bagi warga desa ini, pendidikan bukan sekadar program.
Ia adalah harapan yang masih tertunda.
Sebuah Penantian yang Belum Usai
Di tanggal 2 Mei 2026, ketika banyak daerah merayakan pendidikan,
warga Ngingas Rembyong hanya bisa berharap.
Bahwa suatu hari, peringatan Hari Pendidikan Nasional tidak lagi sekadar seremoni.
Tetapi menjadi kenyataan, bahwa setiap anak, termasuk anak petani dan buruh tani di desa pinggiran, benar-benar memiliki akses yang sama untuk bersekolah.
Dan ketika hari itu datang, mungkin untuk pertama kalinya,
Hari Pendidikan Nasional benar-benar terasa sampai ke desa mereka.
SURAT TERBUKA
Kepada Presiden Republik Indonesia dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Yang Terhormat,
Presiden Republik Indonesia
dan
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Di tempat
Dengan hormat,
Kami menyampaikan kondisi nyata yang terjadi di Desa Ngingas Rembyong, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Selama hampir dua dekade, sejak tahun 2007 hingga 2026, masyarakat desa tersebut telah mengajukan permohonan pembangunan Sekolah Menengah Pertama Negeri.
Permohonan tersebut bukan tanpa dasar.
Pemerintah desa telah menyiapkan lahan seluas kurang lebih tiga hektar.
Jumlah calon siswa setiap tahun memadai.
Kebutuhan pendidikan sangat mendesak.
Namun hingga saat ini, pembangunan sekolah tersebut belum terealisasi.
Akibatnya, setiap tahun ajaran baru, anak-anak desa menghadapi kenyataan yang sama,
mereka kesulitan mengakses pendidikan menengah pertama.
Sebagian harus menempuh jarak jauh dengan biaya yang tidak terjangkau.
Sebagian tidak diterima di sekolah negeri di wilayah kota.
Sebagian akhirnya tidak melanjutkan pendidikan.
Kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya risiko putus sekolah di kalangan anak-anak petani dan buruh tani.
Lebih jauh lagi, hal ini berpotensi memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi di masyarakat desa.
Kami memandang bahwa kondisi ini bertentangan dengan prinsip pemerataan pendidikan yang menjadi komitmen nasional.
Pendidikan dasar dan menengah adalah hak setiap warga negara, tanpa membedakan wilayah tempat tinggal.
Oleh karena itu, melalui surat ini kami menyampaikan beberapa hal:
Memohon perhatian langsung dari Presiden Republik Indonesia terhadap kondisi pendidikan di desa-desa pinggiran, khususnya Desa Ngingas Rembyong.
Meminta Kementerian Pendidikan untuk melakukan evaluasi terhadap pemerataan akses pendidikan di Kabupaten Mojokerto.
Mendorong percepatan pembangunan Sekolah Menengah Pertama Negeri di Desa Ngingas Rembyong.
Memastikan kebijakan pendidikan tidak menghambat akses anak-anak desa untuk mendapatkan sekolah negeri.
Kami percaya bahwa negara hadir untuk seluruh rakyat Indonesia, termasuk masyarakat desa yang selama ini berada di pinggiran pembangunan.
Momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa pemerataan pendidikan bukan hanya slogan, tetapi kewajiban yang harus diwujudkan.
Demikian surat ini kami sampaikan.
Atas perhatian dan tindak lanjutnya, kami ucapkan terima kasih.
Hormat kami,
Masyarakat Desa Ngingas Rembyong
Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto
Writer. : Sastra Jendra Hayuningrat
Editor. : Bregada Bhayaraja Dharmapraja
