KETIKA HUJAN MAJAPAHIT MENYAMBUT PARA BHIKKHU ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

KETIKA HUJAN MAJAPAHIT MENYAMBUT PARA BHIKKHU

-

Baca Juga





Jiwa Purba Indonesia, Perjalanan Spiritual, dan Wajah Hidup Toleransi Nusantara

Hujan turun deras di Mojokerto, Minggu 17 Mei 2026.

Langit di atas tanah tua Majapahit berubah kelabu. Air mengalir dari atap-atap rumah, membasahi jalan kampung, dan mencuci tanah kuno yang berabad-abad lalu pernah dilewati raja, pendeta, saudagar, hingga para peziarah Nusantara.

Namun di tengah guyuran hujan itu, mereka tetap berjalan.

Pelan.
Hening.
Tenang.

Sebanyak 56 Bhikkhu Thudong dari berbagai negara memasuki wilayah Mojokerto, Jawa Timur, dalam perjalanan spiritual panjang bertajuk Indonesia Walk For Peace 2026, sebuah perjalanan kaki suci dari Bali menuju Candi Borobudur, monumen Buddha terbesar di dunia.

Jubah cokelat dan jingga mereka basah diguyur hujan tropis.

Namun wajah mereka tetap teduh.

Dan pada momen itulah, hujan tidak lagi terasa sekadar cuaca.

Ia berubah menjadi simbol.






MAJAPAHIT JIWA KOSMOPOLIT NUSANTARA YANG TUA

Mojokerto bukan sekadar wilayah biasa di Indonesia.

Inilah tanah inti Kerajaan Majapahit, salah satu peradaban terbesar Asia Tenggara.

Jauh sebelum dunia modern mengenal istilah pluralisme, Majapahit telah menjadi titik temu budaya, keyakinan, bahasa, dan jalur perdagangan dunia.

Tradisi Hindu dan Buddha tumbuh berdampingan.

Pedagang asing datang dari Tiongkok, India, hingga berbagai kawasan Asia lainnya.

Spiritualitas berpadu dengan politik, seni, filsafat, dan diplomasi maritim Nusantara.

Kini, reruntuhan Trowulan bekas ibu kota Majapahit masih menyimpan bisikan sejarah tentang sebuah peradaban yang memandang keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan.

Karena itulah, kedatangan para Bhikkhu internasional di tanah ini memiliki makna simbolik yang sangat besar.

Seolah jiwa lama Nusantara kembali bangkit.




THUDONG BERJALAN MELAWAN KEBISINGAN DUNIA MODERN

Tradisi Thudong merupakan salah satu praktik asketisme tertua dalam Buddhisme Theravada.

Para Bhikkhu berjalan melintasi jarak ribuan kilometer dengan membawa kebutuhan hidup yang sangat sederhana, mengandalkan disiplin, meditasi, kerendahan hati, dan kebaikan sesama manusia.

Tanpa kemewahan.
Tanpa panggung politik.
Tanpa slogan kebencian.

Hanya langkah kaki.

Di tengah dunia modern yang dipenuhi kemarahan digital, konflik identitas, dan polarisasi sosial, perjalanan para Bhikkhu menghadirkan pesan yang sangat berbeda, kedamaian lahir dari kesederhanaan.

Dan hujan di Mojokerto justru memperdalam makna itu.

Badai menjadi metafora dunia modern, gaduh, panas, dan penuh ketidakpastian.

Namun para Bhikkhu tetap berjalan dengan damai menembus hujan.






TOLERANSI YANG HIDUP, BUKAN SEKADAR TEORI

Di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mojokerto, para ASN, penyuluh lintas agama, dan pejabat pemerintah menyambut hangat kedatangan para Bhikkhu.

Kantor itu dijadikan water station sekaligus tempat singgah sebelum rombongan melanjutkan perjalanan menuju Mahavihara Mojopahit.

Mungkin terlihat sederhana.

Namun maknanya sangat dalam.

Di banyak belahan dunia hari ini, perbedaan agama sering berubah menjadi arena konflik politik.

Tetapi di tanah basah Majapahit, Indonesia justru memperlihatkan kemungkinan lain, hidup berdampingan tanpa permusuhan.

Tidak perlu pidato besar.

Tidak perlu pertunjukan slogan.

Cukup keramahan.

Cukup kemanusiaan.

Dan mungkin di sanalah toleransi sejati sesungguhnya hidup.


HUJAN SEBAGAI SIMBOL SPIRITUAL

Dalam banyak tradisi Asia, hujan melambangkan penyucian, berkah, dan pembaruan hidup.

Dalam budaya Jawa sendiri, hujan memiliki hubungan erat dengan kesuburan, keseimbangan alam, dan harmoni kosmis.

Karena itu, hujan deras yang menyambut para Bhikkhu terasa begitu puitis.

Seolah langit sendiri sedang memberkati perjalanan spiritual itu.

Tanah tua Majapahit seperti menyambut para pejalan damai bukan dengan cahaya matahari, melainkan dengan air simbol purba kehidupan.

Dan visual itu menjadi sangat kuat,  jubah jingga di bawah langit kelabu, langkah hening di jalanan basah, perdamaian yang berjalan menembus badai.


BOROBUDUR DAN DIPLOMASI SPIRITUAL INDONESIA

Tujuan akhir perjalanan mereka, Candi Borobudur, bukan sekadar destinasi wisata.

Borobudur adalah salah satu mahakarya spiritual dunia, warisan besar peradaban manusia yang merepresentasikan filsafat Buddhisme dan kejayaan budaya Nusantara.

Perjalanan Thudong yang melintasi Bali, Mojokerto, Trowulan, hingga Borobudur memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada ritual keagamaan.

Ia menunjukkan potensi Indonesia sebagai pusat diplomasi spiritual dunia.

Sebuah bangsa tempat peradaban kuno masih hidup dalam identitas modern, harmoni lintas agama tumbuh dari akar budaya dan warisan spiritual menjadi jembatan antarbangsa.

Ini bukan sekadar promosi wisata Indonesia.

Ini adalah cara Indonesia mengingatkan dunia, bahwa perdamaian masih bisa diperjuangkan, langkah demi langkah.


DI BAWAH HUJAN MAJAPAHIT

Ketika hujan mulai mereda, para Bhikkhu kembali melanjutkan perjalanan.

Jubah mereka masih basah.

Jalan masih licin.

Namun ketenangan di sekitar mereka terasa begitu terang.

Dan mungkin, di zaman yang dipenuhi perpecahan dan kebencian ini, pemandangan para Bhikkhu berjalan damai di bawah hujan Majapahit sedang menyampaikan pesan yang sangat tua sekaligus sangat relevan bagi dunia, peradaban besar tidak lahir karena menghapus perbedaan.

Peradaban besar lahir karena mampu hidup berdampingan di tengah perbedaan itu sendiri.




Writer.    : Rakryan Mahesa Dewabrata 

Editor.    : Jalati Rajasa Dharmaputra







Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode