LISTRIK MAUT DI TENGAH SHALAWATAN. Ketika Hujan, Kabel Basah, dan Kelalaian Keselamatan Berubah Menjadi Duka di Mojokerto ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

LISTRIK MAUT DI TENGAH SHALAWATAN. Ketika Hujan, Kabel Basah, dan Kelalaian Keselamatan Berubah Menjadi Duka di Mojokerto

-

Baca Juga


TKP: INAFIS POLRESTA MOJOKERTO JAWA TIMUR OLAH TKP.




Malam itu seharusnya menjadi malam penuh doa.
Lantunan shalawat menggema di halaman Mushola Darun Na’im, Dusun Gedeg Wetan, Desa Gedeg, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Jamaah larut dalam pengajian menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dan halal bihalal 2026 yang menghadirkan mubalighoh asal Surabaya, Ning Umi Laila.

Namun di tengah guyuran hujan deras, suasana religius itu mendadak berubah mencekam.

Sekitar pukul 20.05 WIB, teriakan histeris memecah kerumunan. Seorang operator video streaming bernama Primasta Firdausi Nuzula (26), warga Sentanan, Kota Mojokerto, roboh tak sadarkan diri di dekat meja operator. Dugaan sementara, tubuhnya tersambar arus listrik dari kabel atau stop kontak yang terkena air hujan.

Ia sempat dilarikan ke RSUD RA Basoeni. Namun nyawanya tak tertolong.

Malam shalawatan berubah menjadi malam kematian.





INI BUKAN SEKADAR MUSIBAH BIASA

Peristiwa ini tidak bisa hanya dibaca sebagai “takdir saat hujan”.
Ada pertanyaan besar yang harus dibedah secara serius,

Apakah sistem keselamatan kelistrikan acara rakyat memang disiapkan dengan layak?

Karena pola seperti ini terus berulang di Indonesia, panggung berdiri darurat, kabel berserakan, sambungan listrik terbuka, terminal bertumpuk, grounding tidak jelas, operator bekerja di tengah genangan, sementara hujan deras tetap memaksa acara berjalan.

Dalam dunia event organizer profesional, kondisi seperti ini masuk kategori high risk electrical exposure.

Terutama pada panggung outdoor, acara malam, sistem audio berdaya besar dan cuaca ekstrem.

Satu kesalahan kecil saja bisa membuat arus bocor merambat ke meja operator, stand besi, mikrofon, pagar, bahkan tubuh jamaah.

Dan ketika manusia menjadi jalur paling mudah menuju tanah (ground), tubuh berubah menjadi penghantar listrik mematikan.


FAKTOR PALING FATAL AIR HUJAN

Air hujan memperbesar konduktivitas listrik.
Apalagi jika kabel terkelupas, sambungan tidak waterproof, stop kontak berada di tanah, atau genset dan distribusi listrik tanpa proteksi ELCB/RCD.

Dalam banyak acara kampung dan pengajian rakyat, sistem proteksi semacam ini hampir tidak pernah diperhatikan.

Padahal alat seperti ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker), grounding system, waterproof connector, elevated cable tray dan emergency shutdown, adalah standar dasar keselamatan event modern. Tanpa itu, hujan bisa mengubah panggung dakwah menjadi jebakan maut.


OPERATOR EVENT PEKERJA PALING RENTAN

Korban bukan artis.
Bukan penceramah.
Bukan panitia inti.

Korban adalah operator streaming.

Kelompok pekerja teknis seperti operator kamera, audio man, teknisi lighting, kru kabel, operator genset,

sering menjadi lapisan paling rentan dalam sebuah acara.

Mereka bekerja dekat sumber listrik, di area basah, dengan tekanan teknis tinggi, namun sering tanpa alat pelindung memadai.

Ironisnya, profesi ini sering dianggap “sekadar tukang kabel”.

Padahal merekalah yang pertama menghadapi risiko kematian ketika sistem keselamatan diabaikan.


BUDAYA “ACARA HARUS JALAN” SERING BERUJUNG PETAKA

Inilah problem klasik masyarakat kita.

Ketika hujan turun deras, sangat sedikit panitia yang berani mengambil keputusan.

“Acara dihentikan demi keselamatan.”

Sebaliknya yang terjadi justru sound tetap dinyalakan, kabel tetap aktif, jamaah tetap dipadati, kru tetap bekerja di tengah air.

Karena ada rasa sungkan kepada tamu, takut mengecewakan jamaah, takut acara bubar, atau takut dianggap gagal.

Padahal dalam manajemen risiko modern,

keselamatan manusia harus selalu lebih penting daripada keberlangsungan acara.


POLISI HARUS BEDAH ASPEK KELALAIAN

Langkah Polres Mojokerto Kota mengamankan kabel audio dan memeriksa saksi merupakan prosedur penting.

Karena penyelidikan tidak boleh berhenti pada kalimat,

“tersengat listrik saat hujan.”

Harus dibedah siapa penanggung jawab instalasi, apakah ada standar keselamatan, apakah kabel layak pakai, siapa operator kelistrikan, apakah ada proteksi arus bocor, apakah ada SOP cuaca ekstrem dan apakah panitia mengabaikan risiko.

Sebab dalam perspektif hukum, kelalaian keselamatan publik bisa masuk ranah pidana apabila terbukti ada unsur negligence.

Meski keluarga korban memilih menerima sebagai musibah dan menolak autopsi, evaluasi keselamatan tetap penting demi mencegah korban berikutnya.


PELAJARAN BESAR UNTUK MOJOKERTO

Mojokerto sedang memasuki musim cuaca ekstrem hujan mendadak, angin kencang, petir, kelembaban tinggi.

Dalam situasi seperti ini, seluruh kegiatan outdoor pengajian, konser, hajatan, festival desa, shalawatan, hingga pentas rakyat,

harus mulai menerapkan standar keselamatan minimum.

Karena listrik tidak pernah mengenal acara agama, niat baik, maupun suasana khidmat.

Ketika instalasi buruk bertemu hujan, maut bisa datang dalam hitungan detik.

Dan malam di Gedeg itu menjadi bukti paling pahit, bahwa satu kabel basah dapat mengubah panggung shalawat menjadi ruang duka.






Writer.   : Dion

Editor.   : Djose








Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode