PENDEKAR PAGAR NUSA YANG PEDULI KEMANUSIAAN
-Baca Juga
"Di atas bumi Wilwatikta, tanah leluhur yang bersejarah...
Di mana candi-candi megah pernah berdiri tegak...
Kini lahir kembali sosok-sosok pemimpin yang berhati baja namun lembut bagai sutra.
Mereka bukan hanya memegang kekuasaan, tapi memikul amanah dan belas kasih.
Inilah kisah perjalanan membara...
Sang Pendekar Pagar Nusa...
Yang pedangnya tajam membela kebenaran, namun tangannya lunak menolong sesama..."
PERJALANAN MEMBARA GUS MAKRUF
Sang Pendekar di Tengah Derita Rakyat
PENDERITA TUMOR: ROMA FITRIYAH
WAJAH YANG MEMBENGKAK, JIWA YANG TAK MAU KALAH
Di ufuk barat, matahari mulai menundukkan pandangannya, seakan tak tega menyaksikan pahitnya kehidupan di sebuah gubuk sederhana. Di Dusun Bareng, Desa Talok, Kecamatan Dlanggu, angin sore berhembus pelan membawa desah napas yang tertahan rasa sakit.
Di sana, duduk seorang wanita bernama Roma Fitriyah. Usianya baru menginjak 39 tahun, namun takdir kehidupan telah menggoreskan ujian yang amat berat. Tubuhnya renta, keringat bercucuran bukan karena lelah bekerja, melainkan karena sengatan rasa yang menjalar dari benjolan tumor di wajahnya yang kian membesar.
Dulu, ia adalah buruh pabrik tahu yang tangguh. Berangkat saat ayam belum berkokok, pulang saat bintang mulai bermunculan. Bagi dunia, ia hanyalah debu di sudut kota. Namun bagi dua buah hatinya, Fitriyah adalah matahari yang menerangi rumah itu.
"Rasa sakit ini... seolah ingin merenggut nyawaku," gumamnya lirih, tangan gemetar menyentuh pipinya yang bengkak. "Tapi aku tak boleh menyerah. Anak-anakku masih membutuhkan ibunya."
Di sisinya, Pariyanto, suaminya, hanya bisa menunduk. Hati pria itu hancur melihat belahan jiwanya menderita. Tabungan telah habis, usaha telah dicoba, namun penyakit itu seolah tak kenal ampun. Saat tubuh lemah, penghidupan pun terhenti. Dapur yang harus terus mengepul kini menjadi beban yang menyesakkan dada.
Di saat harapan mulai menipis, seperti embun yang hampir kering diterpa panas mentari, tibalah sebuah kabar baik. Seorang wanita tangguh, penggiat lingkungan dari kaum Srikandi, Sumartik, melihat duka itu. Ia tak bisa berdiam diri.
"Kita tidak boleh membiarkan pahlawan keluarga ini menyerah," batin Sumartik mantap. Ia pun membawa kabar ini kepada sosok yang dikenal memiliki hati seluas samudra dan ilmu yang tak main-main.
Ia adalah Gus Makruf.
Seorang pendekar besar dari perguruan silat termasyhur, Pagar Nusa. Namun bukan hanya ilmu bela diri yang ia miliki, Gus Makruf juga adalah wakil rakyat, anggota DPRD Kabupaten Mojokerto yang senantiasa menegakkan keadilan.
KEHADIRAN SATRIA, TANPA GEMURUH
Berita tentang penderitaan Fitriyah sampai ke telinga Gus Makruf. Tanpa banyak tanya, tanpa meminta panggung dihias, tanpa memerlukan sorotan kamera untuk pencitraan semu, sang pendekar langsung bergerak.
Dalam dunia persilatan, ada prinsip, "Melihat kebenaran terinjak-injak dan tidak berbuat sesuatu, sama saja dengan mendukung kezaliman."
Maka, dengan sigap dan penuh wewenang, Gus Makruf memerintahkan agar Fitriyah segera dibawa ke pusat pengobatan terbaik.
"Jangan takut," ucap Gus Makruf dengan suara berat nan menenangkan, khas seorang pemimpin yang tulus. "Negara ada untuk melindungi. Kami akan pastikan saudari Fitriyah mendapatkan penanganan yang layak."
Mobil penolong pun melaju. Menembus jalanan, membawa harapan yang sempat mati suri menuju RSUD Dr. Soetomo. Di sana, Fitriyah mulai menjalani serangkaian pemeriksaan intensif. Jalan menuju kesembuhan masih panjang, operasi besar masih menanti, namun kegelapan kini telah ditembus cahaya.
Namun sang Pendekar Pagar Nusa itu tahu, perjuangan rakyat kecil bukan sekadar soal obat dan jarum suntik.
"Lihatlah, kawan," kata Gus Makruf dalam hati. "Di balik ranjang sakit itu, ada ongkos perjalanan yang membengkak, ada perut yang harus diisi, ada suami yang harus mendampingi dan meninggalkan pekerjaannya, ada anak-anak yang matanya penuh tanda tanya melihat ibunya lemah."
Itulah realita yang sering terlupakan. Itulah beban yang harus dipikul rakyat jelata.
HARAPAN YANG TAK BOLEH PADAM
Kini, Fitriyah berbaring dengan tatapan yang tetap tegar. Wajahnya mungkin membengkak karena penyakit, tapi semangat hidupnya tak sedikit pun kendur. Ia hanya ingin satu hal: Sembuh. Kembali memeluk anak-anaknya. Kembali menjadi wanita kuat seperti dulu.
Gus Makruf berdiri tegak di hadapan realita ini. Sebagai anggota legislatif dan sebagai pendekar, ia menatap jauh ke depan.
"Ukuran besarnya sebuah kerajaan atau daerah, bukanlah pada tingginya gedung yang menjulang, bukan pada megahnya panggung upacara, dan bukan pada angka-angka kemegahan yang dibacakan di mimbar," batin Gus Makruf merenung.
"Melainkan, seberapa cepat tangan pemerintah terulur saat rakyatnya menangis. Seberapa sigap negara hadir saat warganya terhimpit sakit dan kemiskinan."
Perjalanan membara ini belum selesai. Panggilan kemanusiaan terus bergema. Gus Makruf mengajak semua pihak, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, hingga BAZNAS, untuk membuka mata hati. Turun tangan, bukan hanya lewat kertas dan stempel, tapi dengan kepedulian yang nyata.
Sebab, di balik wajah yang bengkak itu, tersimpan nyawa seorang ibu. Tersimpan mimpi sebuah keluarga.
Dan bagi seorang satria seperti Gus Makruf, membiarkan harapan itu padam, adalah sesuatu yang tak akan pernah dibiarkannya terjadi.
"Kisah ini menggambarkan seorang anak manusia dalam memperjuangkan kemanusiaan yang tiada pernah usai.
Di bumi Mojokerto ini, semoga selalu lahir pemimpin-pemimpin sejati.
Yang tidak hanya pandai berbicara di atas mimbar,
Namun juga tangkas turun ke jalan, menolong yang menderita.
Sampai jumpa dalam kisah perjalanan membara berikutnya...
Writer. : Bastian Tito
Editor. : Niki Kosasih
