SUNGAI YANG DIJARAH. Dari Tambang Batu Sungai Pikatan hingga Runtuhnya Infrastruktur Desa di Mojokerto
-Baca Juga
Di lereng pegunungan Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, sungai Pikatan saat ini tengah memikul beban yang terlalu besar untuk disebut sekadar aliran air desa.
Anak sungai Brantas itu selama bertahun-tahun menjadi jalur air pegunungan yang menopang sawah, desa, jalan penghubung, dan kehidupan warga di hilir.
Namun kini, sungai itu perlahan berubah.
Batu-batu besar di bantaran mulai hilang.
Dasar sungai dikeruk.
Arus disebut bergeser.
Dan, dump truck keluar masuk aliran air membawa material bebatuan.
Lalu hujan turun.
Dan sungai menjawab semuanya dengan satu peristiwa,
sebuah jembatan desa runtuh ke dasar aliran.
SIDAK YANG TIDAK MENAKUTKAN
Jembatan penyeberangan di Dusun Sumberkembar, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo ambrol, pemerintah baru bergerak.
Satgas FORPIMDA Pertambangan MBLB Kabupaten Mojokerto melakukan sidak.
Rapat koordinasi digelar.
Bahkan disebut ditemukan,
28 titik pertambangan MBLB ilegal.
Tetapi bagi masyarakat sipil, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada jumlah temuan, mengapa aktivitas tambang masih terlihat berjalan setelah sidak dilakukan?
Dilapangan, dump truck masih tampak masuk ke badan sungai.
Material batu tetap diangkut.
Dan bantaran sungai terus berubah.
“Kalau setelah sidak aktivitas tetap berjalan, lalu apa yang sebenarnya ditakuti para penambang?” kata seorang aktivis mahasiswa lingkungan di Mojokerto.
Pertanyaan itu menyebar cepat di ruang publik.
Karena publik mulai melihat pola yang berulang, sidak dilakukan, dokumentasi dibuat, rapat digelar, tetapi sungai tetap dieksploitasi.
BATU-BATU YANG MENAHAN SUNGAI
Bagi sebagian orang, batu sungai hanyalah material proyek, pondasi, beton, urukan, jalan atau bangunan.
Tetapi bagi sungai pegunungan, batu adalah sistem penyeimbang alam.
Batu besar di dasar dan bantaran sungai berfungsi memecah energi arus, menahan gerusan, menjaga stabilitas dasar sungai dan mengendalikan arah aliran air.
Ketika batu diambil terus-menerus, sungai kehilangan remnya.
Dasar aliran turun.
Tebing mulai terkikis.
Arus mencari jalur baru.
Dan ketika musim hujan datang, energi air meningkat berkali-kali lipat.
Dalam konteks Sungai Pikatan, sejumlah masyarakat sipil bahkan menyebut adanya pengerukan tanggul alami, perubahan morfologi sungai hingga dugaan pengalihan arus.
Jika benar terjadi, maka ancamannya tidak berhenti di lokasi tambang.
Ia bergerak ke desa-desa di hilir.
DESA-DESA DALAM BAYANG-BAYANG TENGGELAM
Nama-nama desa mulai disebut dengan nada cemas Kebon Tunggul, Gondang, Wonodadi dan kawasan hilir lainnya.
Karena warga memahami satu hal yang sering diabaikan kota.
sungai pegunungan tidak pernah memberi peringatan panjang.
Ketika hujan deras turun dari lereng Pacet, debit naik cepat, arus membawa batu, tanggul tergerus dan air menghantam apa saja di depannya.
Masyarakat menyebut kondisi ini sebagai,
“darurat ekologis yang menunggu musim hujan besar.”
Dan ketakutan itu bukan paranoia.
Karena kerusakan infrastrukturnya sudah nyata.
JEMBATAN YANG JATUH
19 Nopember 2025 Sebuah jembatan penghubung desa terlihat patah dan jatuh ke dasar sungai.
Struktur besinya melengkung.
Aspal terputus.
Air mengalir di bawah reruntuhan.
Jembatan sepanjang 25 meter dengan lebar 3 meter itu sebelumnya menjadi akses vital warga Dusun Sumberkembar, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo.
Ketika Sungai Pikatan meluap, struktur itu tak mampu bertahan.
Dan pada saat bersamaan, pemerintah daerah sedang mempersiapkan proyek pembangunan ulang jembatan dengan pagu sekitar Rp3 miliar melalui mekanisme e-katalog konstruksi Mei 2026.
Ironinya begitu terasa.
Negara kini harus membayar miliaran rupiah untuk memperbaiki infrastruktur yang roboh di tengah tudingan kerusakan ekologi sungai yang belum terselesaikan.
INFRASTRUKTUR TANPA PEMULIHAN ALAM
Pertanyaan paling penting justru muncul setelah tender proyek diumumkan, apakah membangun ulang jembatan cukup?
Karena jika akar persoalan sungainya tidak diselesaikan, pengerukan terus berlangsung, tanggul tetap rusak, arus tetap berubah dan eksploitasi batu terus berjalan, maka jembatan baru bisa saja hanya menjadi korban berikutnya.
Bagi para pemerhati lingkungan, pembangunan fisik tanpa rehabilitasi sungai hanyalah,
memperbaiki luka tanpa menghentikan penyebab perdarahan.
NEGARA, TAMBANG, DAN WIBAWA YANG TERGERUS
Kasus Sungai Pikatan memperlihatkan benturan klasik pembangunan daerah, kebutuhan material konstruksi, ekonomi tambang rakyat, lemahnya pengawasan dan ancaman ekologis.
Tetapi yang paling berbahaya bukan hanya kerusakan sungainya.
Melainkan ketika masyarakat mulai percaya,
sidak pemerintah tidak lagi menakutkan.
Karena ketika persepsi itu tumbuh, negara kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting daripada batu sungai,
wibawanya.
Dan di Sungai Pikatan, erosi itu kini tidak hanya menggerus bantaran sungai.
Ia mulai menggerus kepercayaan publik.
SUNGAI TIDAK PERNAH BERBOHONG
Alam tidak membuat konferensi pers.
Ia tidak menggelar rapat koordinasi.
Ia tidak memasang spanduk penertiban.
Tetapi alam mencatat semuanya, batu yang diambil, tanggul yang dikeruk, arus yang dialihkan dan sungai yang dipaksa kehilangan penyangga alaminya.
Lalu suatu hari, ketika hujan turun dari pegunungan Pacet, sungai itu berbicara dengan caranya sendiri.
Sebuah jembatan jatuh.
Dan bersama runtuhnya jembatan itu, masyarakat Mojokerto mulai memahami,
kerusakan lingkungan tidak pernah datang mendadak.
Ia tumbuh perlahan, diabaikan bertahun-tahun, lalu menghantam sekaligus.
Writer. : Sastra Jendra Hayuningrat
Editor. : Dara Jingga
