“TITIP SALAM DARI BALIK JERUJI”. Sepatu Sekolah Rakyat, Lingkar Elite, dan Aroma Tong Setan Kekuasaan ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

“TITIP SALAM DARI BALIK JERUJI”. Sepatu Sekolah Rakyat, Lingkar Elite, dan Aroma Tong Setan Kekuasaan

-

Baca Juga






Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi siang itu tidak banyak berubah.

Dinding abu-abu. Pintu kaca. Wartawan berkerumun. Kamera menyala. Pertanyaan dilempar seperti peluru.

Di tempat itulah biasanya wajah-wajah tegang datang membawa dua kemungkinan, klarifikasi… atau akhir karier politik.

Namun hari itu suasananya sedikit berbeda.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf datang ke KPK bukan sebagai tersangka. Ia datang membawa penjelasan.

Tentang, pengadaan sepatu Sekolah Rakyat, anggaran miliaran rupiah dan polemik harga yang membuat publik gaduh.

Di luar gedung, media sosial sedang mendidih.

Ada yang menghitung harga sepatu. Ada yang menghitung potensi markup. Ada yang mulai mengaitkan proyek sosial dengan aroma pengadaan elite.

Nilai pengadaan yang ramai dibicarakan mencapai sekitar Rp27 miliar. Pemerintah menjelaskan bahwa angka fantastis itu merupakan bagian dari kebutuhan perlengkapan siswa Sekolah Rakyat.

Yang membuat publik tersentak adalah munculnya angka pagu hingga sekitar Rp700 ribu untuk satu jenis sepatu tertentu. Namun Kemensos menegaskan, itu bukan harga final, melainkan batas maksimal anggaran atau HPS.

Katanya lagi, realisasi pembelian berada di bawah pagu.

Tetapi seperti biasa… di republik ini, angka besar selalu lebih cepat berlari daripada penjelasan resmi.




Ketika Nama Khofifah Muncul Lagi

Di tengah sorotan itu, Gus Ipul memberikan satu penjelasan penting.

Bahwa sepatu yang sempat ramai dalam foto penyerahan bantuan bukan berasal dari pengadaan APBN Kemensos.

Melainkan bantuan dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Dan seperti tombol otomatis dalam politik Indonesia… nama Khofifah langsung membuat percakapan berubah arah.

Karena nama itu hampir selalu muncul di simpul strategis, sosial, birokrasi, keagamaan, politik hingga bantuan publik.

Tidak ada yang ilegal dalam bantuan itu. Tidak ada pula tuduhan hukum terhadap Khofifah.

Tetapi dalam dunia persepsi publik, pengulangan nama adalah bahan bakar paling subur bagi imajinasi politik.

Dan republik ini hidup dari imajinasi semacam itu.


Salam dari Balik Jeruji

Lalu datanglah adegan yang membuat cerita ini terasa seperti kisah cerita novel politik.

Di tengah suasana serius KPK, mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas tiba-tiba melontarkan kalimat ringan kepada wartawan,

“Tolong disampaikan ke Gus Ipul, salam dari kami…”

Seketika lorong KPK terasa berubah.

Bukan lagi sekadar gedung antirasuah. Melainkan seperti ruang reuni organisasi.

Dan publik Indonesia tahu, dalam politik negeri ini, salam kadang jauh lebih nyaring daripada pidato panjang.

Karena salam adalah simbol.

Ia berarti kedekatan, jaringan, sejarah panjang dan orbit kekuasaan yang saling bertaut.

Apalagi publik tahu, Gus Ipul pernah memimpin GP Ansor, Gus Yaqut juga pernah memimpin GP Ansor, sementara Khofifah memiliki jejaring sosial-keagamaan yang sangat kuat di Jawa Timur dan nasional.

Maka lengkaplah panggung itu.

KPK. Elite organisasi. Program sosial. Pengadaan negara. Dan sepatu sekolah rakyat.

Indonesia banget, Jawa Centris.


Tong Setan Republik

Kalau politik Indonesia memiliki bentuk fisik, mungkin ia mirip wahana tong setan di pasar malam.

Motor berputar vertikal. Mesin meraung keras. Lampu warna-warni berkelip.

Penonton kagum melihat kendaraan melawan gravitasi.

Tetapi setelah pertunjukan selesai, semua sadar, motor itu ternyata tidak pergi ke mana-mana.

Ia hanya berputar di lingkar yang sama.

Begitu pula elite republik ini.

Jabatan berubah. Kursi berpindah. Kementerian berganti. Partai bergeser.

Tetapi nama-nama tertentu selalu muncul dalam radius yang sama.

Hari ini di kementerian. Besok di organisasi. Lusa di panggung politik. Minggu depan di gedung KPK.

Dan publik kembali menjadi penonton setia pertunjukan itu.


Sepatu Anak Miskin dan Kemewahan Anggaran

Masalah terbesar dari polemik ini sebenarnya bukan sekadar angka Rp700 ribu.

Melainkan pertanyaan moral yang lebih dalam, berapa harga yang pantas untuk sepatu anak-anak miskin?

Kemensos menjelaskan bahwa sepatu tersebut memiliki beberapa kategori, sepatu harian, olahraga, PDH hingga PDL dengan spesifikasi tertentu.

Secara administrasi negara, itu mungkin sah.

Tetapi publik hidup dalam realitas berbeda.

Di luar pagar kementerian, buruh masih menghitung ongkos makan, petani masih menimbang pupuk dan banyak orang tua membeli sepatu sekolah anak dengan cara mencicil.

Karena itu ketika negara bicara sepatu ratusan ribu rupiah untuk program sosial, publik spontan bertanya,

“Ini membantu rakyat… atau sedang membiasakan kemewahan birokrasi?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar sinis. Tetapi justru di situlah demokrasi bekerja.


KPK dan Aroma Pencegahan

Sampai berita tayang, belum ada pernyataan resmi KPK tentang tindak pidana korupsi dalam pengadaan tersebut.

Belum ada tersangka. Belum ada penyidikan terbuka.

Posisi KPK sejauh ini masih konsultatif dan pencegahan.

Namun justru di republik yang terlalu sering terlambat menangkap skandal, langkah “konsultasi sebelum meledak” menjadi terasa penting.

Karena sejarah Indonesia dipenuhi proyek yang awalnya terlihat biasa, seragam, bansos, alat sekolah, pengadaan kecil, lalu perlahan berubah menjadi pintu masuk perkara besar.

Publik hafal pola itu.

Dan karena itulah setiap angka jumbo dalam proyek sosial akan selalu memancing kecurigaan.


Republik Lingkar Dalam

Pada akhirnya, berita ini bukan tentang sepatu semata.

Ia adalah cerita tentang republik yang elitenya saling mengenal terlalu dekat.

Tentang kekuasaan yang berputar dalam orbit sempit.

Tentang organisasi, birokrasi, politik, dan bantuan sosial yang kadang bertemu di meja yang sama.

Hari itu… di gedung KPK… seorang mantan Menteri Agama menitip salam kepada Menteri Sosial yang sedang menjelaskan polemik sepatu sekolah rakyat sambil menyebut bantuan dari Gubernur Jawa Timur.

Dan publik kembali menyaksikan, bahwa di negeri ini, bahkan badai politik pun kadang terasa seperti acara keluarga besar.

Lampu kamera terus menyala.

Motor tong setan terus berputar.

Sementara rakyat berdiri di bawah, menengadah, dan bertanya dalam hati,

“Sebenarnya mereka sedang bekerja untuk negara… atau hanya sedang berputar di lingkar mereka sendiri?”






WRITER. : SUI SUI

EDITOR.  : XIAOMO




Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode