Catatan kecil tentang usia, amanah, dan marwah jurnalistik di tengah derasnya arus informasi
MOJOKERTO — Sebuah ulang tahun terkadang bukan hanya tentang bertambahnya usia. Ia bisa menjadi pintu untuk mengingat kembali sebuah percakapan yang pernah terjadi tentang pekerjaan, pengabdian, dan bagaimana seseorang memandang profesi yang berada di garis depan kehidupan publik.
15 September 2026, Drs. Nugraha Budhi Sulistya, M.Si., genap berusia 57 tahun.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mojokerto itu mendapatkan ucapan selamat melalui sebuah desain yang menampilkan dirinya dalam balutan batik biru.
Kalimat doanya sederhana kesehatan, kebijaksanaan, keberkahan, amanah dan pengabdian terbaik bagi masyarakat serta daerah.
Namun bagi DETAK INSPIRATIF, momentum ini mengingatkan pada satu percakapan yang justru jauh lebih dalam.
Percakapan dengan Nugraha di ruang kerjanya.
Bukan tentang ulang tahun.
Bukan pula tentang seremonial pemerintahan.
Melainkan tentang jurnalistik.
Tentang bagaimana pers seharusnya mengambil posisi ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Dan tentang satu kalimat yang hingga kini masih melekat dalam ingatan.
“Sampean harus menjadi penjaga dan pembeda, Mas.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi bagi insan pers, ia memiliki bobot yang tidak sederhana.
Penjaga dan Pembeda
Menurut Nugraha, sebagaimana dikenang kembali oleh DETAK INSPIRATIF, independensi jurnalistik harus tetap dijaga.
Media, menurut pandangan yang disampaikannya dalam percakapan tersebut, jangan sampai kehilangan fungsi kritisnya hanya karena terlalu dekat dengan kekuasaan.
Sebab ketika jurnalistik hanya menjadi corong, maka yang berpindah kepada masyarakat hanyalah suara dari satu arah.
Padahal masyarakat membutuhkan sesuatu yang lebih.
Mereka membutuhkan pelita.
Bukan sekadar pengeras suara.
Di tengah ekosistem media yang semakin berubah, tantangan itu semakin kompleks. Digitalisasi membuat produksi dan distribusi informasi menjadi sangat cepat. Pada saat yang sama, kedekatan antara kepentingan ekonomi, kekuasaan, popularitas dan produksi informasi menjadi isu yang terus diperbincangkan di ruang publik.
Dalam konteks itulah Nugraha menyampaikan kebanggaannya karena masih melihat adanya media yang berusaha menjaga marwah jurnalistik.
Ia mengapresiasi keberadaan media yang tidak semata-mata mengejar kedekatan dengan kekuasaan, tetapi tetap berusaha memberikan informasi yang mencerahkan masyarakat.
Bagi DETAK INSPIRATIF, apresiasi semacam itu justru menghadirkan tanggung jawab baru.
Sebab pujian dari seorang pejabat tidak boleh membuat pers kehilangan jarak.
Begitu pula kritik terhadap pemerintah tidak boleh membuat pers kehilangan rasa.
Di antara keduanya ada satu garis yang harus tetap dijaga,
independensi.
Bukan Corong, Bukan Musuh
Menjadi media independen bukan berarti harus selalu berseberangan dengan pemerintah.
Dan mengkritik pemerintah juga bukan berarti menjadi musuh pemerintah.
Pers memiliki fungsi yang lebih penting daripada sekadar menjadi “pendukung” atau “penentang”.
Pers adalah bagian dari mekanisme kontrol sosial.
Ketika pemerintah bekerja dengan benar, pers dapat menjelaskannya kepada masyarakat.
Ketika ada kebijakan yang perlu dipertanyakan, pers dapat menghadirkan pertanyaan.
Ketika ada data yang membingungkan publik, pers dapat menerjemahkannya.
Dan ketika suara masyarakat tidak terdengar dari ruang-ruang kekuasaan, pers dapat membawanya ke ruang publik.
Di situlah makna “penjaga dan pembeda” menjadi relevan.
Penjaga agar informasi tidak kehilangan kebenarannya.
Pembeda agar jurnalistik tidak larut menjadi sekadar reproduksi siaran resmi.
57 Tahun Usia, Pengalaman dan Amanah
Pada usia 57 tahun, Nugraha berada dalam fase kehidupan yang mempertemukan pengalaman dengan amanah.
Jabatannya sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Mojokerto menempatkannya pada salah satu simpul penting komunikasi pemerintahan.
Tetapi dunia komunikasi publik hari ini sudah jauh berubah.
Informasi tidak lagi bergerak satu arah.
Masyarakat bukan hanya penerima informasi. Mereka juga menjadi produsen, penyebar sekaligus penguji informasi.
Satu peristiwa dapat menjadi percakapan publik dalam hitungan menit.
Karena itu, pekerjaan komunikasi pemerintahan tidak berhenti pada bagaimana pemerintah berbicara kepada masyarakat.
Ada pertanyaan yang jauh lebih penting.
Apakah masyarakat benar-benar memahami apa yang disampaikan?
Dan di sisi lain, apakah pers masih mampu menjaga jarak yang sehat agar informasi publik tidak berubah menjadi sekadar narasi kekuasaan?
Sebuah Pesan yang Menjadi Cermin
Barangkali Nugraha tidak pernah membayangkan bahwa kalimat yang disampaikannya dalam sebuah diskusi santai dengan DETAK INSPIRATIF akan terus diingat.
“Sampean harus menjadi penjaga dan pembeda, Mas.”
Tetapi justru kalimat itulah yang hari ini terasa relevan.
Sebab pers yang sehat tidak membutuhkan pejabat untuk menentukan apa yang harus ditulis.
Sebaliknya, pers membutuhkan ruang agar dapat menjalankan profesinya secara independen.
Dan pejabat publik yang menghormati pers semestinya memahami bahwa media yang kritis tidak selalu berarti media yang bermusuhan.
Kadang justru sebaliknya.
Kritik yang berbasis data dapat menjadi cermin.
Pertanyaan yang tajam dapat menjadi pengingat.
Dan pemberitaan yang berimbang dapat membantu masyarakat memahami persoalan yang sebelumnya hanya terdengar sebagai bahasa birokrasi.
Mungkin itulah makna lain dari “penjaga dan pembeda.”
Menjaga agar jurnalistik tidak kehilangan kompas.
Membedakan mana informasi dan mana sekadar propaganda.
Membedakan mana fakta dan mana persepsi.
Membedakan mana kepentingan publik dan mana kepentingan yang sedang dibungkus sebagai kepentingan publik.
Dan yang tidak kalah penting, tetap menjaga rasa ketika sedang menjaga konstitusi.
Selamat Ulang Tahun, Mas Nugraha
57 tahun adalah perjalanan panjang.
Tetapi bagi seorang pejabat publik, perjalanan itu belum selesai.
Masih ada amanah.
Masih ada pekerjaan.
Masih ada masyarakat yang menunggu informasi yang terang.
Dan bagi insan jurnalistik, pesan “menjadi penjaga dan pembeda” juga bukan pekerjaan sehari selesai.
Ia adalah laku profesi.
Sebab ketika sebagian media memilih menjadi suara dari kekuasaan, masyarakat tetap membutuhkan media yang bersedia berdiri sedikit di samping, agar bisa melihat lebih luas.
Bukan untuk memusuhi kekuasaan.
Bukan pula untuk memujanya.
Tetapi untuk memastikan bahwa kekuasaan tetap dapat dilihat, ditanya, dan dipertanggungjawabkan di hadapan publik.
Selamat ulang tahun ke-57, Drs. Nugraha Budhi Sulistya, M.Si.
Semoga sehat, bijaksana dan selalu diberi keberkahan dalam menjalankan amanah.
Dan untuk sebuah pesan yang pernah disampaikan kepada DETAK INSPIRATIF
“Sampean harus menjadi penjaga dan pembeda, Mas.”
Kalimat itu kami simpan.
Bukan sebagai pujian.
Tetapi sebagai pengingat.
DETAK INSPIRATIF — Media Penjaga Rasa & Konstitusi.
Writer: uncle owob
Editor: Jalaluddin Rumi