DI TANAH MAJAPAHIT, DUA HATI BERLAYAR MENYATU. Rizadyawan & Alifia Mengukir Janji di Jejak Sang Penakluk Laut ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

DI TANAH MAJAPAHIT, DUA HATI BERLAYAR MENYATU. Rizadyawan & Alifia Mengukir Janji di Jejak Sang Penakluk Laut

-

Baca Juga







Mojokerto — Tanah yang pernah menyaksikan layar-layar besar membentang, tempat di mana jejak kebesaran Kerajaan Majapahit tak pernah benar-benar pudar. Di sini, di Desa Gedangan, Kecamatan Kutorejo, tanah kelahiran sang putri kisah baru ditulis. Bukan kisah kerajaan yang menguasai lautan, melainkan kisah dua jiwa yang bersatu menguasai satu hati, Mochammad Rizadyawan Wardhana, prajurit TNI Angkatan Laut, dan Alifia Julita Cahyani Putri, putri yang dibesarkan dalam kelembutan dan ketulusan.

KAMIS, 17 SEPTEMBER 2026 BERKAH DAN CAHAYA MEMULAI LANGKAH

Segala sesuatu yang agung bermula dari doa. Hari Kamis, 17 September 2026, rangkaian sukacita dibuka. Di tengah kerabat yang berdatangan, Gus Muhammad Ishomuddin hadir menebar cahaya, seorang Imam masjid Baiturrahman Pemkab Mojokerto mengingatkan, bahwa pernikahan bukan sekadar pesta yang dihias bunga, melainkan ibadah yang dijunjung setia seumur hidup.





Dua keluarga bersua, menyatu dalam tawa dan harapan.

Dari pihak putra, Bapak Bayu Gunawan dan Ibu Dian Agustiningrum, melepaskan putra pertama mereka dengan bangga, lelaki yang kini mengenakan seragam kehormatan, siap berbakti pada negara sekaligus keluarga.

Dari pihak putri, Bapak Jarot Cahyono dan Ibu Dwi Ariningrum, sang ASN yang mengabdi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mojokerto, wanita yang mengajarkan bahwa keagungan tak selalu di singgasana, melainkan di ketulusan melayani sesama. Putri mereka, Alifia, tumbuh di tanah Gedangan bagai bunga yang mekar di bawah naungan sejarah, lembut namun berakar kuat.

JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026 IJAB QOBUL SATU KATA, SERIBU TAHUN DOA

Jumat, hari yang diberkahi. Di Masjid Jami' Darussalam, Sooko, tempat yang telah berdiri tegak memeluk langit, menyimpan ratusan tahun sujud dan syiar, momen paling sakral tiba.

Di hadapan Allah SWT, di hadapan keluarga, di hadapan tanah yang disaksikan para leluhur,  satu kalimat meluncur tegas, tak goyah sedikit pun. Ijab qobul terucap. Sah sudah. Rizadyawan menerima amanah, bukan sekadar memegang tangan, melainkan menjaga seumur hidup. Alifia menyerahkan nasib, bukan sekadar ikrar di bibir, melainkan percaya utuh di hati.

Seakan angin membawa bisik masa silam: “Inilah yang kami perjuangkan, bukan kemegahan istana, melainkan kesetiaan di atas segalanya.”

SABTU, 19 SEPTEMBER 2026 PEDANG PORA DAN JANJI KESATRIA

Puncak sukacita digelar di Gedung Mall Pelayanan Publik, Lantai 4, Kota Mojokerto. Ruang yang luas dan terang, seakan mencerminkan harapan yang terbentang lebar bagi pasangan baru.

Di pelaminan, dua wajah menyatu dengan tradisi yang mengalir dari masa lalu.

Alifia menunduk. Tangannya menyentuh kaki suaminya, tanda bakti yang tak perlu kata. Bukan takluk, melainkan percaya “Aku menyerahkan hatiku padamu, jagalah ia sebagaimana kau menjaga kehormatan negaramu.” Rizadyawan berdiri tegak, memandang pasangannya dengan lembut, tatapan yang berkata “Aku berjanji. Bagai benteng yang tak runtuh, bagai pelabuhan yang tenang, aku akan menjagamu.”

Lalu datang momen yang membuat seisi ruangan menahan napas, “Pedang Pora”.

Pedang-pedang terangkat tinggi, membentuk gerbang cahaya di atas kepala mereka. Bukan sekadar seremonial. Ini adalah kelanjutan semangat Kebo Anabrang, Panglima Angkatan Laut Kerajaan Majapahit yang masyhur, yang dulu menerjang ombak menjaga perairan Nusantara. Kini, semangat itu mengalir di dada Rizadyawan.

Kau tidak lagi hanya menjaga laut dan pantai. Kau kini menjaga satu jiwa yang menjadi separuhmu. Seperti Sang Panglima Agung dari Kerajaan Majapahit, Kebo Anabrang yang tak pernah lari dari gelombang, jangan kau lari dari beban yang kau pikul berdua. Setialah bagai bintang yang tak berpindah arah, meski ombak berubah wajah.

Di sampingnya, Alifia berdiri anggun, memegang lengan suaminya. Ia tahu, lelaki ini bisa menaklukkan lautan, tentu bisa menjaga satu hati.







PESAN BAGI DUA INSAN DI BAWAH LANGIT MAJAPAHIT

Kepada Rizadyawan dan Alifia.

Kerajaan Majapahit tidak abadi karena temboknya, melainkan karena kesetiaan anak-anaknya. Jadilah demikian. Biar rumah kalian bukan dibangun di atas kemewahan, melainkan di atas kepercayaan yang tak goyah. Saat ombak kehidupan datang dan ia akan datang, ingatlah. kalian bukan lagi dua kapal yang berlayar sendiri. Kalian satu perahu. Satu arah. Satu tujuan.

Kepada kedua orang tua. Terima kasih telah menanam, hingga kini bisa dipanen kebahagiaan ini. Doa kalian adalah jangkar yang menjaga mereka tetap tenang, meski badai menerpa.

Semoga Allah melimpahkan Sakinah, Mawaddah, Warahmah  damai yang melindungi, kasih yang memeluk, rahmat yang membasuh lelah di setiap langkah yang kalian ambil berdua.

Berlayarlah, wahai pasangan terpilih. Lautan kehidupan terbentang luas. Tapi kalian tak sendirian. Di samping kalian berdiri Allah, doa orang tua, dan senyum bangga para leluhur Majapahit.

 



Writer : Arya Dwipangga 

Editor: Niki Kosasih 



Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode