Di bumi Majapahit Mojokerto, yang tanahnya diresapi keringat para leluhur, di mana bayang candi tua masih menjaga damai desa, berdiri dua sahabat yang tak terpisahkan oleh jarak, namun sempat terpisah oleh waktu.
Yang satu dikenal dengan panggilan Gus Makruf, pemimpin yang berhati teduh, senantiasa merangkul ulun dan rakyat, menjaga warisan ilmu silat dan adab Pagar Nusa bagai menahan nyawa di ujung jari. Ia duduk di tengah keramaian, meneguhkan persaudaraan, memupuk kebersamaan, sebatang pohon rindang yang tak pernah membuang dahan.
Yang lain, dr. Muhammad Rizal Octavian, pemuda yang mengasah kemampuan bukan hanya di padang latihan, melainkan juga di jalan pengabdian yang luas, membawa harapan ke tengah-tengah masyarakat, kini berdiri di posisi baru, memegang amanah yang berat namun terang.
Dulu mereka berjalan beriringan, seiring langkah di bawah naungan cita-cita yang sama. Sering mereka duduk berdua, di bawah sinar remang lampu kampung, merenungi nasib tanah kelahiran, berjanji tak akan membiarkan bumi Majapahit Mojokerto tergelincir ke dalam kegelapan. “Kita adalah dua pedang yang terhunus untuk satu tujuan,” ujar Rizal waktu itu. “Atau lebih tepatnya,” sahut Gus Makruf tersenyum, “dua tangan yang saling menguatkan, agar tak ada yang jatuh.”
Lalu waktu berjalan deras bagai sungai Brantas. Tugas memisahkan mereka ke jalur yang berbeda, meski arahnya tetap satu. Bertahun-tahun lamanya mereka tak bersua. Kabar hanya datang dari mulut ke mulut, samar-samar bagai kabut pagi. Namun tak satu pun di antara mereka yang melupakan janji silam.
Hingga hari itu tiba. Kabar terpilihnya dr. Rizal sebagai Ketua parpol DPC Partai Gerindra Kabupaten Mojokerto bergema, sampai ke telinga Gus Makruf. Ia tak ragu sejenak pun. Ia datang, bukan sekadar untuk memberi selamat, melainkan untuk menyambut sahabat lamanya yang kembali berdiri di hadapan rakyat.
Pertemuan itu berlangsung sederhana, namun penuh makna yang dalam. Tatapan mata mereka sudah cukup mengungkapkan semua rindu yang tertahan.
“Kau masih sama, dokter Rizal,” kata Gus Makruf, suaranya tenang namun bergetar. “Tetap membawa semangat yang dulu kita tanam bersama.”
dr. Rizal tersenyum, tangannya menyambut erat tangan sahabatnya. “Dan kau pun tak berubah, Gus. Tetap menjadi tiang yang tak goyah, tempat semua orang berteduh.”
“Jalan yang kau pilih kini berat, sahabatku,” ujar Gus Makruf. “Namun ingatlah, kita tak pernah berjalan sendirian. Apa yang kau emban, adalah amanah yang juga dulu kita impikan bersama. Kekuatanmu adalah kekuatan kita semua.”
“Tanpa persaudaraan ini, tak ada yang bisa berdiri tegak,” jawab dr. Rizal. “Langkahku adalah langkah kita. Keberhasilanku, jika ada, adalah milik rakyat ini.”
Mereka berdiri berdekatan, dua sahabat seperjuangan yang dipertemukan kembali oleh takdir dan cita-cita. Bukan untuk kemegahan diri, melainkan untuk bumi Majapahit Mojokerto, agar kemajuan tumbuh di setiap desa, kemaslahatan menyelimuti setiap rumah, dan kesejahteraan menyapa setiap jiwa.
Matahari mulai terbenam, menyinari wajah mereka dengan cahaya keemasan. Di kejauhan, bayang candi tua berdiri tenang, seolah turut merestui persaudaraan yang tak dipisahkan oleh waktu.
Dan di sanalah mereka berdiri dua ksatria, satu niat, siap melangkah kembali berdampingan demi tanah kelahiran yang mereka cintai.