Empat Pesilat PAGAR NUSA KABUPATEN MOJOKERTO Naik Podium, Satu Raih Juara I dan Pesilat Terbaik Dewasa Putra
-Baca Juga
Bukan sekadar pulang membawa pengalaman bertanding.
Medali dibawa pulang.
Dalam Kejuaraan Wilayah X Pagar Nusa Jawa Timur di Banyuwangi, 24–27 September 2026, para pesilat Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto berhasil menorehkan prestasi.
Empat nama berhasil naik podium.
Satu di antaranya bahkan merebut Juara I Kategori Tanding Kelas D Dewasa Putra sekaligus menyabet penghargaan Pesilat Terbaik Dewasa Putra.
Dialah Muhammad Adji Satrio Maksum.
Prestasi lainnya diraih Alvina Nur Qumairo, Juara III kategori Seni Tunggal Dewasa Putri.
Kemudian Cinta Refania Dwi Saskia, Juara III kategori Tanding Kelas F Remaja Putri.
Sementara M. Davin Aqilah Setiawan meraih Juara III kategori Tanding Kelas G Remaja Putra.
Empat medali tersebut menjadi catatan awal yang penting bagi Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto di bawah kepengurusan masa khidmat 2026–2031.
Gus Makruf Ketua Umum Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto
Gus Makruf Dan Wakil Bupati Mojokerto dr. Rizal Oktavian
Ketua Umum Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto, Gus Makruf, mengaku bangga dengan pencapaian para atletnya.
Menurutnya, hasil tersebut tidak datang secara tiba-tiba.
Ada proses latihan yang disiplin di belakangnya.
“Anak-anak meraih kesuksesan berkat latihan disiplin,” kata Gus Makruf.
Namun ada satu kalimat Gus Makruf yang terasa lebih dalam daripada sekadar pernyataan tentang medali.
“Baru kali ini bisa merasakan kebanggaan,” ujarnya bangga.
MEDALI PERTAMA, SEMANGAT BARU
Kemenangan di Banyuwangi menjadi penting karena sebelumnya Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto memang sedang membangun fondasi pembinaan.
Saat pelantikan kepengurusan baru pada 23 Agustus 2026, Pimpinan Pusat Pagar Nusa Gus Edy Junaedy sudah menitipkan pesan agar Mojokerto memperbanyak kejuaraan untuk menambah jam terbang atlet dan menemukan talenta-talenta baru.
Sebulan kemudian, pesan itu menemukan jawabannya di gelanggang Banyuwangi.
Tidak semuanya pulang membawa medali.
Tetapi empat pesilat berhasil membuktikan bahwa latihan dan keberanian memasuki gelanggang mulai menghasilkan sesuatu.
Satu emas, tiga perunggu.
Dan satu penghargaan khusus sebagai pesilat terbaik dewasa putra.
Bagi sebuah organisasi yang sedang membangun kembali sistem pembinaan, angka tersebut bukan sekadar statistik.
Ia adalah tanda bahwa ada bibit yang mulai tumbuh.
DARI PADEPOKAN MENUJU PODIUM
Pencak silat tidak mengenal jalan pintas. Seorang pesilat harus melewati latihan berulang-ulang. Gerakan yang sama. Kuda-kuda yang sama. Pukulan dan tendangan yang sama. Jatuh dan bangun yang sama. Sampai tubuh mengenal gerakan sebelum pikiran sempat memerintahkannya.
Karena itu, ketika seorang pesilat berdiri di atas podium, medali yang menggantung di lehernya sesungguhnya hanyalah bagian paling terlihat dari perjalanan panjang yang tidak terlihat.
Ada keringat. Ada rasa sakit. Ada disiplin. Ada pelatih. Ada keluarga. Dan ada keberanian untuk kembali masuk gelanggang setelah pernah kalah. Pesan itulah yang kini mulai terlihat dalam perjalanan Pagar Nusa Mojokerto.
ADJI SATRIO, EMAS DAN PREDIKAT PESILAT TERBAIK
Sorotan terbesar datang kepada Muhammad Adji Satrio Maksum. Ia bukan hanya membawa pulang medali emas setelah menjadi Juara I Kategori Tanding Kelas D Dewasa Putra. Namanya juga tercatat sebagai Pesilat Terbaik Dewasa Putra dalam Kejurwil tersebut.
Penghargaan itu menjadi capaian tersendiri bagi kontingen Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto. Di belakangnya, tiga pesilat lainnya juga menunjukkan kemampuan masing-masing.
Alvina Nur Qumairo meraih Juara III Seni Tunggal Dewasa Putri.
Cinta Refania Dwi Saskia merebut Juara III Tanding Kelas F Remaja Putri.
Dan M. Davin Aqilah Setiawan menyumbangkan Juara III Tanding Kelas G Remaja Putra.
Empat nama. Empat podium. Satu kontingen. Satu nama yang dibawa. Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto.
DARI WARISAN BUDAYA KE OLAHRAGA PRESTASI
Pencak silat mempunyai tempat tersendiri dalam kebudayaan Nusantara. Ia bukan sekadar teknik menyerang dan bertahan. Di dalam tradisinya terdapat disiplin, etika, penghormatan kepada guru dan pengendalian diri.
Pagar Nusa yang tumbuh dalam lingkungan Nahdlatul Ulama juga membawa dimensi tersebut dalam pembinaan para pesilatnya.
Namun zaman bergerak.
Tradisi harus mampu berjalan berdampingan dengan olahraga prestasi. Pesilat masa kini tidak hanya dituntut menguasai jurus. Mereka harus siap menghadapi sistem pertandingan, regulasi, latihan fisik, strategi, mental kompetisi dan persaingan yang semakin ketat.
Karena itu, medali Banyuwangi menjadi lebih dari sekadar hasil pertandingan. Ia menjadi bukti bahwa warisan budaya bisa menemukan panggung baru melalui olahraga prestasi.
BUKAN AKHIR, JUSTRU PERMULAAN
Gus Makruf tentu boleh bangga. Tetapi empat medali tersebut juga membawa pekerjaan baru. Prestasi harus dipertahankan. Talenta harus terus dibina. Jam terbang harus ditambah. Regenerasi harus berjalan. Sebab satu kali juara tidak otomatis menciptakan tradisi juara. Dibutuhkan sistem. Dibutuhkan pelatih. Dibutuhkan tempat latihan yang representatif. Dibutuhkan kompetisi yang berkelanjutan. Dan yang tidak kalah penting: dukungan terhadap atlet.
Sebelumnya, Pimpinan Pusat Pagar Nusa Gus Edy Junaedy bahkan mendorong agar talenta-talenta Pagar Nusa mendapatkan perhatian melalui pola bapak asuh.
Kini setelah empat pesilat Mojokerto naik podium, gagasan tersebut menemukan konteks yang semakin nyata.
Bibit sudah menunjukkan hasil. Tinggal bagaimana ekosistem pembinaannya diperkuat.
DARI BUMI MAJAPAHIT
Ada ironi kecil yang indah dalam perjalanan itu. Mojokerto adalah wilayah yang lekat dengan jejak sejarah Majapahit. Banyuwangi menjadi tempat para pesilat mudanya menguji diri. Dari tanah yang menyimpan jejak masa lalu, mereka berangkat membawa tradisi ke gelanggang masa kini.
Sejarah memberi akar. Budaya memberi identitas. Olahraga memberi arena pembuktian. Dan para pesilatlah yang harus menghidupkannya.
Empat medali yang dibawa pulang dari Banyuwangi mungkin belum menjawab seluruh pekerjaan rumah Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto. Tetapi setidaknya satu pintu telah terbuka.
Mojokerto mulai berbicara melalui prestasi.
Dan bagi Gus Makruf, kebanggaan itu mungkin baru permulaan. Sebab setelah medali pertama dikalungkan, pertanyaan berikutnya sudah menunggu, berapa banyak lagi pesilat Mojokerto yang kelak berdiri di atas podium?
Perjalanan dari Sooko menuju Banyuwangi telah selesai. Tetapi perjalanan Pagar Nusa Mojokerto menuju panggung prestasi yang lebih tinggi, baru dimulai.
Writer : Dara Jingga
Editor : Pamugas Dharmapraja
