KETIKA DUA TOKOH MUDA BERTEMU DI MEJA KOPI. Dari Pagar Nusa dan Bekisar, Menyusun Gagasan untuk Mojokerto ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

KETIKA DUA TOKOH MUDA BERTEMU DI MEJA KOPI. Dari Pagar Nusa dan Bekisar, Menyusun Gagasan untuk Mojokerto

-

Baca Juga


Gus Makruf (kaos biru) Ketum Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto & Gus Sobirin (kaos putih) Ketum Bela Kiai dan Santri (BEKISAR) Kabupaten Mojokerto 

Dua tokoh muda, satu kegelisahan.
Gus Makruf, Ketua Umum Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto, dan Gus Sobirin, Ketua Umum BEKISAR Kabupaten Mojokerto, bertemu dalam sebuah konsolidasi membicarakan masa depan Mojokerto. Dari lapangan pekerjaan generasi muda, penguatan ekonomi masyarakat, pendidikan, kesehatan hingga kesejahteraan para pendidik.






MOJOKERTO — Dua tokoh muda dari organisasi kemasyarakatan Kabupaten Mojokerto bertemu dalam suasana sederhana. Tidak ada podium. Tidak ada mikrofon. Tidak ada deretan spanduk besar.

Hanya meja, kopi, obrolan panjang dan hamparan persawahan dengan gunung sebagai latar.

Namun dari meja sederhana itu, percakapan bergerak jauh melampaui urusan organisasi.

Gus Makruf, Ketua Umum Pagar Nusa Kabupaten Mojokerto, dan Gus Sobirin, Ketua Umum BEKISAR (Bela Kiai Santri) Kabupaten Mojokerto, membicarakan sesuatu yang jauh lebih besar, masa depan Mojokerto dan nasib generasi mudanya.

Pertemuan tersebut menjadi ruang konsolidasi dua tokoh muda yang memiliki latar organisasi berbeda, tetapi bertemu pada satu kegelisahan yang sama, Mojokerto membutuhkan lebih banyak kerja nyata daripada sekadar retorika.

Persoalan yang dibicarakan pun bukan perkara kecil.

Lapangan pekerjaan bagi generasi muda. Penguatan ekonomi masyarakat. Pendidikan yang layak. Pelayanan kesehatan. Nasib para pendidik yang belum sepenuhnya sejahtera. Kemiskinan yang masih menjadi pekerjaan rumah. Hingga kesejahteraan masyarakat yang dinilai belum mencapai kondisi ideal.

Semua bertemu dalam satu kesimpulan sederhana.

Generasi muda tidak cukup hanya diberi nasihat untuk bekerja keras. Mereka juga membutuhkan ekosistem yang memungkinkan mereka mendapatkan pekerjaan, membangun usaha dan meningkatkan kualitas hidup.

Ketika Organisasi Turun ke Persoalan Rakyat

Di sinilah pertemuan Gus Makruf dan Gus Sobirin menjadi menarik.

Organisasi kemasyarakatan tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial, konsolidasi internal, atau perebutan ruang sosial.

Ada pekerjaan yang jauh lebih berat, menerjemahkan kepedulian menjadi program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

Generasi muda membutuhkan ruang aktualisasi.

Mereka membutuhkan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri. Akses terhadap dunia usaha. Pendampingan bagi pelaku UMKM. Kesempatan memperoleh pekerjaan. Bahkan, bagi mereka yang ingin menjadi pengusaha, dibutuhkan ekosistem yang membuat usaha kecil tidak mati sebelum berkembang.

Sementara di sisi lain, dunia pendidikan juga menghadapi persoalannya sendiri.

Guru dan tenaga pendidik adalah salah satu fondasi pembangunan manusia. Tetapi bagaimana mungkin kualitas pendidikan terus dituntut meningkat apabila sebagian pendidik sendiri masih bergulat dengan persoalan kesejahteraan?

Pertanyaan semacam ini layak dibawa keluar dari meja diskusi.

Sebab pendidikan yang berkualitas tidak hanya membutuhkan kurikulum dan gedung sekolah. Ia membutuhkan manusia yang mengajar dengan martabat dan kesejahteraan yang layak.

Dari Pagar Nusa, Bekisar hingga Pengusaha Muda NU

Pertemuan itu juga memperoleh konteks baru.

Gus Makruf dalam waktu dekat akan dikukuhkan sebagai Ketua Umum Pengusaha Muda Nahdlatul Ulama.

Posisi tersebut tentu membawa tantangan sekaligus peluang.

Jika benar-benar ingin menjadikan organisasi sebagai kendaraan pemberdayaan generasi muda, maka isu lapangan pekerjaan dan ekonomi tidak boleh berhenti menjadi bahan diskusi.

Ia harus diterjemahkan menjadi jejaring usaha, penciptaan lapangan kerja, pelatihan, pendampingan bisnis, akses permodalan, pemasaran dan konektivitas antara pengusaha muda dengan pemerintah maupun dunia industri.

Di titik inilah gagasan konsolidasi untuk Mojokerto yang lebih baik memperoleh makna yang lebih konkret.

Bukan sekadar siapa yang paling banyak berbicara.

Tetapi siapa yang mampu menciptakan perubahan.

Background Gunung Penanggungan dan Welirang dan Persoalan di Depan

Pertemuan itu seperti memiliki simbolismenya sendiri.

Dua tokoh muda duduk berhadapan dengan latar Penanggungan sang gunung Suci dan Welirang Gunung Kesehatan serta hamparan sawah.

Gunung terlihat kokoh di kejauhan. Sawah membentang sebagai sumber kehidupan masyarakat.

Tetapi di hadapan kedua tokoh tersebut terdapat pekerjaan rumah yang jauh lebih dekat, bagaimana memastikan masyarakat Kabupaten Mojokerto memiliki masa depan yang lebih baik.

Masa depan itu tidak hanya diukur dari berapa banyak proyek fisik yang dibangun.

Tetapi dari berapa banyak anak muda yang mendapatkan pekerjaan.

Berapa banyak keluarga yang keluar dari kemiskinan.

Berapa banyak guru yang hidup lebih layak.

Berapa banyak anak yang memperoleh pendidikan berkualitas.

Dan berapa banyak masyarakat yang mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus takut jatuh miskin karena biaya pengobatan.

Mojokerto tidak kekurangan anak muda. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membuka jalan bagi mereka.

Dan mungkin, konsolidasi yang dimulai dari sebuah meja kopi itu adalah salah satu langkah kecil menuju pekerjaan yang jauh lebih besar.

Karena pada akhirnya, Mojokerto yang lebih baik tidak lahir dari slogan. Ia lahir dari keberanian untuk mengubah kegelisahan menjadi kerja nyata.

Dua organisasi boleh berbeda warna gerakan. Tetapi kepentingan masyarakat adalah titik temu.

Bukan sekadar retorika. Saatnya gagasan turun menjadi kerja nyata.


DETAK INSPIRATIF — Media Penjaga Rasa dan Konstitusi.




Writer : Dara Jingga 

Editor : Pramitha Jalati Rajasa Senilir




Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode