LIMA FRAME YANG HILANG DI SELAT SUNDA. LIMA JURNALIS HILANG KONTAK SAAT LIPUTAN ERUPSI ANAK GUNUNG KRAKATAU ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

LIMA FRAME YANG HILANG DI SELAT SUNDA. LIMA JURNALIS HILANG KONTAK SAAT LIPUTAN ERUPSI ANAK GUNUNG KRAKATAU

-

Baca Juga



Mereka berangkat mengejar cahaya lava Anak Krakatau. Sebuah shareloc terkirim pukul 14.42 WIB. Dua puluh dua menit kemudian, laut menelan jejak komunikasi mereka.





Ada pekerjaan yang membuat seseorang berdiri ketika orang lain memilih menjauh.

Fotografer dan jurnalis adalah bagian dari pekerjaan itu.

Ketika Gunung Anak Krakatau memuntahkan cahaya merah dari perutnya, ketika abu vulkanik mengotori langit dan menutup sejumlah bandara, ketika sebagian orang memilih menutup jendela dan menjauh dari kawasan berbahaya, kamera justru bergerak mendekat.

Pada Senin, 7 September 2026, lima pewarta foto dan jurnalis berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang.

Tujuannya satu, Anak Krakatau.

Mereka membawa kamera. Membawa peralatan kerja. Memburu gambar.

Tidak ada yang tahu bahwa perjalanan itu kemudian berubah menjadi salah satu operasi pencarian paling mencemaskan bagi komunitas pers Indonesia.

Sebuah speedboat berangkat sekitar pukul 14.00 WIB.

Sekitar 42 menit kemudian, sebuah share location dikirim kepada seorang rekan jurnalis di Lampung.

Pukul 14.42 WIB.

Itulah salah satu jejak terakhir.

Sekitar 22 menit setelahnya, pukul 15.04 WIB, komunikasi terputus.

Laut Selat Sunda kemudian menjadi halaman kosong.





BUKAN EMPAT. BUKAN TUJUH.

Informasi awal yang beredar simpang-siur.

Ada yang menyebut empat orang.

Ada laporan awal yang menyebut tujuh orang.

Tetapi data yang kemudian menguat dari Kantor SAR Banten dan jaringan ANTARA menunjukkan rombongan tersebut membawa lima pewarta, bersama kru kapal.

Lima nama yang kini menjadi perhatian dunia fotografi jurnalistik Indonesia adalah

M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA
Arie Basuki dari merdeka.com
Yudhistira dari iNews
Daus dari Anadolu
Donal Husni fotografer lepas.

Kantor berita ANTARA mengonfirmasi, Bagus memang berada dalam rombongan tersebut bersama empat pewarta foto lainnya.

Mereka bukan satu kantor. Mereka datang dari media berbeda. Namun satu profesi mempertemukan mereka, membekukan peristiwa melalui gambar.






FRAME TERAKHIR

Pukul 14.00 WIB. Speedboat meninggalkan Dermaga Pagedongan.

Arah perjalanan, kawasan Gunung Anak Krakatau.

Secara administratif, perjalanan itu adalah peliputan.

Secara jurnalistik, ini adalah perburuan gambar.

Tetapi secara alamiah, mereka memasuki wilayah yang sedang menunjukkan aktivitas vulkanik.

Badan Geologi mencatat Anak Krakatau mengalami rangkaian erupsi sejak Jumat, 4 September 2026.

Bahkan dokumentasi ANTARA pada 5 September menunjukkan pancaran lava (lava fountain) dengan durasi gempa letusan mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimum 70 milimeter, disebut sebagai intensitas tertinggi sepanjang 2026 pada saat itu.

Pada 7 September, Badan Geologi menyatakan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap Level III, Siaga.

Dengan kata lain, mereka tidak berangkat menuju gunung yang sedang tidur. Mereka berangkat menuju gunung yang sedang aktif.

14.42 WIB

Sebuah lokasi dikirim. Shareloc. Tidak banyak kata. Tidak ada yang tahu bahwa koordinat digital itu kelak menjadi salah satu petunjuk paling berharga dalam operasi SAR.

Lalu, 15.04 WIB. Komunikasi terputus. Kantor SAR Banten mencatat titik koordinat dugaan terakhir pada 6°14'40.52"S — 105°40'49.48"E.

Data tersebut kemudian menjadi salah satu acuan pencarian tim gabungan.

Di atas kertas, hanya 22 menit. Di lapangan, 22 menit dapat berarti banyak hal.

Kapal bisa mengalami gangguan mesin. Bisa dihantam gelombang. Bisa kehilangan komunikasi. Bisa mengalami perubahan arah. Bisa pula menghadapi kondisi alam yang jauh lebih kompleks.

Sampai sekarang belum ada bukti yang membenarkan salah satu hipotesis tersebut.




ANAK KRAKATAU BUKAN SEKADAR LATAR FOTO

Inilah bagian yang sering hilang dari berita pendek.

Anak Krakatau bukan sekadar objek visual yang indah ketika memancarkan lava. Ia adalah gunung api aktif. Dan pada saat rombongan berangkat, statusnya sudah berada pada Level III/Siaga.

Badan Geologi juga memberikan rekomendasi keselamatan terkait jarak dari kawah aktif.

Erupsi Anak Krakatau bahkan berdampak jauh di luar pulau vulkanik tersebut.

Abu vulkanik mengganggu penerbangan. Sejumlah bandara ditutup. Ratusan ribu penumpang terdampak.

BMKG meningkatkan pemantauan terhadap perkembangan erupsi dan penyebaran abu, termasuk dampaknya terhadap atmosfer dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Reuters melaporkan aktivitas Anak Krakatau menyebabkan gangguan besar penerbangan dan pada saat bersamaan speedboat yang membawa lima jurnalis dan tiga kru dilaporkan hilang di sekitar Selat Sunda.

Ironisnya, ketika abu Anak Krakatau mengganggu dunia penerbangan, lima pewarta justru sedang bergerak mendekati sumbernya.

LAUT MENJADI RUANG REDAKSI

Pencarian bukan pekerjaan sederhana. Tim SAR harus masuk ke wilayah yang secara bersamaan dipengaruhi faktor aktivitas vulkanik, gelombang, arus laut, jarak pandang dan sebaran abu.

Deputi Operasi Basarnas Edy Prakoso menyebut pencarian di sekitar Anak Krakatau membutuhkan kehati-hatian karena gunung masih aktif dan dapat sewaktu-waktu mengalami erupsi serta menyemburkan material.

Kantor SAR Banten kemudian mengerahkan unsur laut.

RIB 02.

KN SAR Tetuka.

RIB Kantor SAR Lampung.

Pada tahap berikutnya disiapkan pula dua drone termal untuk membantu pencarian.

Polri ikut masuk. Ditpolair Polda Banten berkoordinasi dengan Basarnas dan unsur gabungan untuk menyisir lokasi terakhir keberadaan speedboat. Namun laut belum memberikan jawaban.

KAPAL ITU LAYAK?

Di sinilah cerita mulai memiliki lapisan investigasi.

Pemilik kapal, Sandi Wiasa, menyatakan kapal yang digunakan dalam kondisi layak berlayar.

Menurut keterangannya, kapal memiliki dokumen dan dilengkapi jaket pelampung ketika berangkat dari Dermaga Pagedongan.

Pernyataan itu penting. Tetapi dalam investigasi keselamatan pelayaran, kata "layak" tidak berhenti pada pernyataan pemilik.

Ada sejumlah dokumen dan fakta teknis yang harus diperiksa.

Apakah kapasitas kapal sesuai dengan jumlah orang? Apakah manifest penumpang tercatat? Siapa nakhodanya? Apakah kondisi cuaca dan gelombang diperiksa sebelum berangkat? Apakah ada perangkat komunikasi cadangan? Apakah GPS aktif? Apakah kapal memiliki perangkat pelacakan? Apakah rute menuju lokasi peliputan sesuai dengan rekomendasi keselamatan?

Dan yang paling penting, siapa yang mengambil keputusan bahwa perjalanan peliputan tetap dilakukan ketika Anak Krakatau berada dalam status Siaga?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tuduhan. Itu adalah daftar pertanyaan yang secara profesional harus dijawab apabila kelak dilakukan evaluasi keselamatan.

ANTARA KEHILANGAN PEWARTANYA

Ada ironi yang menyayat dunia jurnalistik. Bagus Khoirunnas adalah fotografer ANTARA.

Sebelum hilang kontak, ia justru sedang menjalankan pekerjaan yang selama ini menjadi tugasnya, merekam sejarah.

Foto-foto Anak Krakatau yang beredar pada hari-hari sebelumnya menjadi saksi bahwa ia berada di garis depan pekerjaan visual tersebut.

Kini organisasi tempatnya bekerja ikut mencari. ANTARA memperkuat koordinasi pencarian dan menyebut kondisi alam, terutama gelombang tinggi dan jarak pandang terbatas, sebagai kendala operasi.

Di belakang satu nama ada keluarga. Di belakang lima nama ada keluarga. Dan di belakang lima kamera yang belum kembali, ada lima meja redaksi yang menunggu.


22 MENIT YANG MENJADI MISTERI

Sekarang kita kembali ke angka itu.

14.42. Shareloc. 15.04. Putus kontak. Selisih 22 menit. Dua puluh dua menit adalah jendela investigasi.

Apa yang terjadi dalam rentang waktu tersebut? Apakah speedboat masih bergerak normal? Apakah mesin mengalami gangguan? Apakah kondisi laut berubah? Apakah rombongan mendekati zona yang tidak aman? Apakah terjadi perubahan rute? Apakah ada komunikasi radio yang tidak tercatat dalam laporan publik? Apakah perangkat pelacak kapal mengirimkan data? Atau justru kapal masih bergerak setelah komunikasi terputus? Jawabannya tidak boleh lahir dari dugaan.

Jawabannya harus datang dari data GPS, log komunikasi, manifest kapal, keterangan nakhoda/ABK bila ditemukan, rekaman radar atau pelacakan kapal, kondisi mesin, data cuaca-laut, serta rekonstruksi rute.




Writer : Arthur Smith 

Editor : Jack Richer 


Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode