Cak Agus, Dari Berita Televisi, Ternak Ayam, hingga Kerinduan Sambel Wader
-Baca Juga
Cak Agus Ismanto Kuprit Jurnalis MNC TV GRESIK
MOJOKERTO — Dunia jurnalistik menuntut kecepatan, ketelitian, dan kesigapan memburu informasi. Namun, bagi Agus Ismanto, kesibukan sebagai pekerja jurnalistik televisi nasional sekaligus Ketua PWI Gresik, Jawa Timur, bukan alasan untuk berhenti menekuni aktivitas lain di luar profesinya.
Di sela-sela kesibukan tersebut, pria yang akrab disapa Cak Agus ini memilih beternak ayam petelur. Sebuah kegiatan yang mungkin tampak jauh dari hiruk-pikuk dunia pemberitaan, tetapi justru memperlihatkan sisi lain seorang jurnalis, tetap produktif, tekun, dan terbuka terhadap peluang usaha.
Cak Agus merupakan arek Suroboyo yang menikah dengan perempuan asal Desa Ngembeh, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua anak, Bima dan Ica.
Pada 9 Oktober, bertepatan dengan peringatan Hari Telur Sedunia, Cak Agus bersama keluarganya pulang dari Gresik ke rumah orang tuanya di Dlanggu. Momen itu sekaligus menjadi kesempatan untuk menengok dan mengurus ternak ayam petelur yang dirawatnya.
Di kandang, ia kembali bergelut dengan aktivitas yang berbeda dari kesehariannya di dunia jurnalistik. Jika di lapangan ia berhadapan dengan peristiwa dan narasumber, di peternakan ia berhadapan dengan rutinitas pemeliharaan ayam dan produksi telur yang membutuhkan ketelatenan.
Dua dunia yang berbeda, tetapi sama-sama menuntut kedisiplinan.
Sambel wader yang masih dirindukan
Jauh sebelum menekuni peternakan ayam petelur, Cak Agus juga pernah mengelola warung makan sambel wader di Kota Gresik. Warung tersebut dikenal di kalangan pelanggannya karena sajian ikan wader dengan sambal yang menjadi daya tarik tersendiri.
Sayangnya, perjalanan usaha kuliner itu harus menghadapi kenyataan ketika tempat berjualannya terkena penggusuran. Sejak saat itu, Cak Agus masih mencari lokasi yang tepat untuk membuka kembali warungnya.
Bagi pelaku usaha kecil, kehilangan tempat berjualan bukan sekadar kehilangan bangunan. Ada pelanggan yang harus ditinggalkan, rutinitas usaha yang terhenti, dan pekerjaan rumah untuk membangun kembali usaha dari awal.
Namun, cerita warung sambel wader Cak Agus rupanya belum benar-benar berakhir.
Di kalangan pencinta bola voli, khususnya penggemar kompetisi bola voli Proliga Nasional, masih ada pelanggan yang menantikan kabar kapan warung tersebut kembali buka.
Kerinduan itu menjadi bagian menarik dari perjalanan usaha Cak Agus. Sebab, warung makan bukan hanya tempat orang membeli makanan. Ketika rasa dan pelayanan meninggalkan kesan, warung juga menjadi ruang perjumpaan dan kenangan.
Kini, sembari menjalankan aktivitas jurnalistik dan mengurus peternakan ayam petelur, Cak Agus masih menyimpan harapan untuk menemukan tempat yang tepat bagi usaha kulinernya.
Belum ada kepastian kapan sambel wader itu kembali tersaji. Namun, pertanyaan para pelanggan setianya menyisakan satu pesan sederhana, ada usaha yang tetap dikenang meskipun pintunya sudah lama tidak terbuka.
Kapan warung sambel wader Cak Agus buka lagi?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi seorang pelaku usaha, kerinduan pelanggan merupakan modal sosial yang tidak selalu bisa dibangun dalam waktu singkat.
Dan bagi Cak Agus, perjalanan dari ruang pemberitaan, ayam petelur, hingga dapur sambel wader memperlihatkan satu hal, kehidupan profesional tidak harus berhenti pada satu bidang. Selalu ada ruang untuk mencoba, bertahan, dan memulai kembali.
Writer : uncle Owob
Editor : Dion
