RUBRIK PARLEMEN WARKOP PINGGIRAN • SI HITAM PAHITE. EDISI NILA SETITIK, KABEL BER-MILIAR-MILIAR ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

RUBRIK PARLEMEN WARKOP PINGGIRAN • SI HITAM PAHITE. EDISI NILA SETITIK, KABEL BER-MILIAR-MILIAR

-

Baca Juga


Eko Sutrisno anggota Komisi III DPRD Kabupaten Mojokerto Fraksi PKB ( PAKAIAN BATIK)




Ketika angka PAD dibahas serius, peribahasa masuk, lagu remix menyusul!





Pagi itu, radio butut milik Paijo mendadak berderak. Pakde Kumis sedang menikmati kopi hitam. Wakidi baru selesai menambal ban. Gendon menghabiskan gorengan terakhir, sementara Bejo sibuk mengelus motor bututnya.

PENYIAR RADIO

“Selamat pagi, pendengar setia! Yang sedang njagong di warkop, ngopi di kafe, atau dalam perjalanan, tetap stay tune di frekuensi kami! Ada kabar dari Gedung DPRD Kabupaten Mojokerto. Pembahasan retribusi pemanfaatan bagian-bagian jalan untuk jaringan fiber optik berlangsung cukup panas!”

Paijo langsung membesarkan volume radio.

“Coba rungokno! Kabelnya membentang, angka PAD-nya juga membentang!”

Pakde Kumis menyahut, “Sing penting jelas, Jo. Kabel berapa meter, kewajiban berapa rupiah, yang sudah dibayar berapa.”

Wakidi mengangguk.

“Kalau aku menambal ban, ukuran bocornya harus jelas. Mosok urusan miliaran rupiah kalah jelas sama ban dalam?”

Gendon menyambar.

“Lha, mungkin ban dalam lebih gampang diperiksa. Kalau angka di presentasi, kudu dipastikan dhisik, itu tagihan, pembayaran, atau baru hitungan?”

“Wah, Gendon saiki pinter!” kata Ngatini.

“Bukan pinter, Tin. Aku cuma takut kalau utang gorenganku ikut masuk presentasi!”

Satu warkop tertawa.


Ketika nila setitik naik panggung

PENYIAR RADIO

“Dalam RDPU Komisi III DPRD Kabupaten Mojokerto, Senin, 12 Oktober 2026, angka retribusi fiber optik menjadi sorotan. Dalam paparan DPUPR, nilai perhitungan untuk PT Telkom tercatat sekitar Rp4,275 miliar. Namun, status angka tersebut tetap harus dipastikan, apakah merupakan perhitungan kewajiban, tagihan yang telah jatuh tempo, atau nilai yang sudah dibayar?”

Pakde Kumis mengangkat telunjuk.

“Nah, iki penting! Jangan sampai angka hitungan langsung disebut tunggakan. Duit yang masuk kas daerah juga harus dibuktikan dengan catatan penerimaan.”

Paijo mengangguk mantap.

“Berarti presentasi itu baru pintu masuk, bukan pintu keluar persoalan.”

Radio kembali berbunyi.

PENYIAR RADIO

“Dalam pembahasan tersebut, anggota Komisi III Eko Sutrisno menyindir dengan peribahasa nila setitik merusak susu sebelanga!”

Gendon langsung berdiri.

“Lho, kok nila? Bukannya kita sedang membahas kabel?”

Wakidi menimpali, “Nila itu ikan, Don!”

“Ya aku tahu! Tapi kalau ikan nila masuk ke kabel fiber optik, internetnya jadi amis apa bagaimana?”

Bejo sampai menepuk meja.

“Walah, Don! Peribahasanya itu, bukan ikan beneran!”

Pakde Kumis tersenyum sambil mengaduk kopi.

“Begini, Le. Maksud peribahasa itu, satu persoalan kecil bisa merusak kepercayaan terhadap keseluruhan. Dalam urusan tata kelola, yang harus dilihat bukan cuma satu perusahaan, tetapi konsistensi aturan untuk semua provider.”

Gendon mengangguk-angguk.

“Oalah. Jadi yang penting bukan ikannya, tetapi jangan sampai nila kecil membuat susu kepercayaan masyarakat jadi rusak?”

“Wis, lumayan!” jawab Pakde Kumis.


Remix miliaran rupiah

Tiba-tiba penyiar menaikkan semangatnya.

PENYIAR RADIO

“Pendengar, jangan ke mana-mana! Setelah kabar retribusi dan peribahasa nila setitik, kita cairkan suasana dengan remix spesial Warkop Pinggiran!”

Paijo menepuk radio.

“Lho, radio bututku kok saiki dadi DJ?”

Penyiar melantunkan jingle karangan sendiri dengan irama remix.

Tiang berdiri, kabel membentang,

Angka dihitung jangan mengawang.

Kalau ditagih, periksa catatan,

Kalau sudah bayar, tunjukkan setoran!

PAD tujuh miliar jadi perhatian,

Semua provider perlu kepastian!

“ASYEEEKKK!” teriak Gendon.

Ia menggoyangkan bahu sambil mengangkat gelas kopi.

Bejo ikut berjoget, tetapi ketika tangannya refleks hendak menggeber motor, Pakde Kumis langsung menegur.

“Joget boleh, knalpot jangan! Kita sedang membahas ketertiban, ojo malah bikin pelanggaran baru!”

Ngatini dan Ngatiyem tertawa sampai hampir salah menyajikan pesanan.

Wakidi menggeleng.

“Lagu ini cocok. Semua orang bisa ikut bernyanyi, tetapi pekerjaan rumahnya tetap ada.”

Gendon duduk kembali.

“Betul, Cak. Remix-nya selesai tiga menit. Rekonsiliasi angka PAD jangan sampai tiga tahun!”

Tawa kembali meledak.

Namun Pakde Kumis mengangkat gelasnya, memberi tanda agar semua mendengarkan.

“Cukup guyonannya. Ada pelajaran penting di sini. Peribahasa boleh menyindir, lagu boleh menghibur. Tetapi penyelesaian masalah harus memakai data, aturan, dan tindakan yang bisa diperiksa.”

Paijo menatap radio bututnya.

“Berarti yang harus di-remix bukan cuma lagu, tetapi juga cara kerja birokrasi?”

“Bukan cara kerjanya yang di-remix, Jo,” jawab Wakidi. “Yang penting hasilnya jangan cuma enak didengar!”


Kabel boleh membentang, tanggung jawab jangan kusut

Pakde Kumis menyeruput kopi terakhirnya.

“Kalau target PAD Rp7 miliar, pemerintah harus menjelaskan berapa yang benar-benar masuk, berapa kewajiban yang sudah jatuh tempo, dan apa tindak lanjutnya. Kalau ada perbedaan pendapat soal aturan, selesaikan melalui mekanisme hukum yang tersedia. Jangan sampai rapat selesai, tetapi persoalan tetap menggantung.”

Ngatiyem menambahkan, “Dan jangan sampai masyarakat cuma mendapat hiburan dari lagu remix, sementara jawaban yang ditunggu tak kunjung datang.”

Gendon mengangkat tangan.

“Usul, Pakde! Kalau nanti ada rapat lagi, saya siap jadi penyanyi pengiring.”

“Boleh,” kata Pakde Kumis. “Asal jangan menyanyi sebelum angka-angkanya jelas.”

Paijo menutup pembicaraan sambil memutar tombol radio.

“Pendengar, kesimpulan pagi ini sederhana. Kabel boleh membawa internet ke mana-mana. Peribahasa boleh membuat rapat tersenyum. Lagu boleh mencairkan suasana.”

Ia berhenti sejenak.

“Tetapi urusan uang rakyat harus tetap terang.”

Sebab, dalam tata kelola pemerintahan, yang paling penting bukan siapa yang paling keras berbicara di ruang rapat, melainkan siapa yang mampu menjelaskan angka, membuktikan pembayaran, dan menuntaskan kewajibannya.

Radio kembali berderak.

PENYIAR RADIO

“Si Hitam Pahite! Kopinya pahit, sindirannya melekat. Tetap bersama kami berita jalan terus, kritik jangan putus!”

“ASYIIIIKKK!” teriak Gendon lagi.

Ngatini menyahut, “Bayar rondo royal mu dhisik, Don!”

Mak glerrrr! Warkop kembali ngakak!







Writer  : Butet 
Editor : Adiguna 

Mungkin Juga Menarik × − +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode