Jejak Air Ledeng Kolonial: Ketika Mojokerto Mengalirkan Sejarah Lewat Pipa dan Gula ~ Detak Inspiratif | Berita dan informasi terkini Indonesia
RUNNING STORY :
Loading...

Jejak Air Ledeng Kolonial: Ketika Mojokerto Mengalirkan Sejarah Lewat Pipa dan Gula

-

Baca Juga


📷 Keterangan Gambar: Memperlihatkan pipa besar peninggalan kolonial Belanda yang ditemukan di proyek penggalian di Desa Karangkedawang, Sooko, Mojokerto. Pipa ini menjadi petunjuk kuat tentang keberadaan sistem air bersih kolonial yang menghubungkan sumber mata air pegunungan dengan pusat industri tebu dan permukiman kolonial.

📍 Lokasi: Karangkedawang, Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.




Di balik tenangnya Kota Mojokerto, ternyata tersimpan infrastruktur kolonial yang membisu namun sarat makna. Penemuan pipa besi berukuran besar di Desa Karangkedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, mengundang banyak tanya. Pipa tua ini bukan sembarang besi tua ia diduga merupakan bagian dari jaringan air ledeng era kolonial Belanda yang pernah menjadi tulang punggung suplai air bersih, terutama untuk kebutuhan industri gula.


Temuan Arkeo-Hidrologi di Mojokerto

 

Beberapa waktu terakhir, warga setempat dan pekerja proyek menemukan pipa logam besar yang tertanam di bawah tanah. Lokasinya strategis berdekatan dengan jalur rel Lori pengangkut tebu dan dekat pula dengan Pabrik Gula Gempolkrep yang sudah berdiri sejak zaman kolonial. Keberadaan pipa ini juga diperkuat dengan temuan serupa di titik lain, seperti pemandian Sekarsari di kawasan Empunala, Kota Mojokerto, yang hingga kini masih menyisakan tandon air gaya kolonial, mirip seperti menara air legendaris di Ringin Contong, Jombang.




Jembatan Lori era Kolonial Belanda untuk angkut Tebu KARANGKEDAWANG 



Dari Lereng ke Ladang: Teknologi dan Kolonialisme

 Pada masa Hindia Belanda, penguasaan terhadap sumber daya air bukan semata kebutuhan teknis, tapi juga strategi kolonial. Air bersih dialirkan dari sumber pegunungan seperti Welirang, menuju pusat-pusat industri dan permukiman Belanda. Mojokerto sebagai daerah agraris dan penghasil tebu penting, tentu membutuhkan pasokan air besar bukan hanya untuk konsumsi, tapi untuk proses produksi di pabrik gula, irigasi ladang tebu, hingga kebutuhan perumahan dan tangsi kolonial.

Pipa logam besar ini kemungkinan besar menggunakan sistem gravitasi alami, dengan sedikit bantuan tekanan uap atau tekanan pompa manual di beberapa titik, yang kala itu mulai diperkenalkan oleh teknologi Belanda.




Tandon Air Era Kolonial Belanda Sekarsari Empunala Kota Mojokerto 



Tandon Air Era Kolonial Belanda Bernilai Sejarah Di Hilangkan Nilai Historisnya Oleh Walikota Ika Puspitasari dan Kroni



🔥 Warisan Infrastruktur dan Jejak Perlawanan

 Di balik cerita teknis, terdapat narasi perjuangan. Proyek air bersih, pabrik gula, dan jalur lori yang kini menjadi jejak sejarah, dulu adalah simbol dominasi kolonial atas tanah dan tenaga rakyat. Para pekerja pribumi, kuli kontrak, dan petani tebu kerap dipaksa bekerja dalam tekanan. Namun dari situ pula lahir semangat perlawanan, dari lereng Welirang hingga jalanan Kota Mojokerto. Banyak pemuda dan tokoh lokal yang menyusupkan pesan-pesan kebangkitan lewat jaringan pekerja pabrik, termasuk sabotase-sabotase kecil pada infrastruktur kolonial.


📚 Untuk Pendidikan IPS, IPA dan Ilmu Bumi

 Kisah pipa tua di Karangkedawang ini tak hanya menyajikan nostalgia. Ia bisa dikembangkan menjadi:

Materi IPS (infrastruktur kolonial, sistem sosial, ketimpangan ekonomi.

Materi IPA (mekanika aliran fluida, korosi logam, prinsip tekanan.

Materi Ilmu Bumi (topografi, sumber daya air, sistem tata kota kolonial).


🧭 Jejak yang Harus Dijaga


Penemuan ini menjadi bukti bahwa sejarah tidak hanya disimpan dalam buku, tapi juga mengalir di bawah tanah yang kita pijak. Saatnya Mojokerto mengangkat kembali narasi lokalnya, bukan sekadar sebagai kota transit, tetapi sebagai kota sejarah, ilmu, dan perlawanan.



Oleh : Tim Detak Inspiratif 

Mungkin Juga Menarik × +
PERISTIWA
Hukum Kriminal
Olahraga

 
Atas
Night Mode