CERITA PENDEK: Rondo Royal di Meja Kopi Pahit
-Baca Juga
Di pojok pinggir Kota Mojokerto, ada sebuah warkop sederhana bernama Si Hitam Asli Pahit. Dindingnya mungkin tak kinclong, kursinya tak simetris, tapi auranya seperti rumah kedua bagi mereka yang mencari KWARASAN di tengah hidup jaman edan.
Di meja bundar dekat pintu, setiap Minggu sore ada segerombolan manusia unik yang menamakan diri mereka Persatuan Penikmat Si Hitam Pahit. Tidak ada AD/ART, tidak ada bendahara, yang ada hanya dua syarat:
Datanglah dengan hati ringan💪🔥
Bayarlah kopi sendiri-sendiri 😀💰
Nah, di antara semua menu, ada satu yang jadi legenda: RONDO ROYAL.
Tape goreng dikasih rempah dan tepung, hasilnya sangat nikmat, lembut di dalam, dan selalu datang bersama sambal yang pedasnya sopan tapi nanam.
“Rondo royal iki sakjane makanan tape biasa,” kata Pakde Brengos, sesepuh warkop yang rambutnya putih sebagian tapi kelakuannya masih muda. “Tapi nek wis digoreng karo Mas Tris, rasane kaya mantan sing balik minta rujuk.”
Para penikmat kopi tertawa…..bukan karena lucu, tapi karena kena.
Di meja itu, topik obrolan bisa berubah-ubah tiap menit:
dari politik yang bikin pening, harga sembako yang naik turun seperti emosi remaja, sampai cerita cinta masa lalu yang lebih gosong dari gorengan RONDO ROYAL.
Sambil menyeruput si hitam pahit, obrolan selalu mengalir tanpa polesan:
ngalor-ngidul, jujur, spontan, dan apa adanya…..seperti tape yang digoreng tanpa sensor.
“Bro, hidup itu sebenarnya sederhana,” ujar Mas Jabrik, guru kehidupan tanpa sertifikat.
“Ngopi pahit, makan rondo royal, dan ngobrol sampai lupa jam. Yang bikin ribet itu pikiran kita sendiri.”
Para anggota persatuan mengangguk.
Di warkop itu, mereka bukan pejabat, bukan rakyat jelata, bukan aktivis…hanya manusia yang ingin hidup terasa ringan.
RONDO ROYAL pun terus disajikan: panas, gurih, dan setia menemani opini-opini tajam yang lahir dari bibir penuh tawa.
Dan begitulah, di pinggiran Mojokerto, setiap potongan singkong goreng selalu punya cerita,
dan setiap seruput hitam pahit selalu menyisakan satu hal:
hidup ternyata tak segetir kopi, asal diminum bersama.
“Mbah Jogo, Encep Gendon, dan Negeri Alengka Pahit”
Sore itu, WARKOP Si Hitam Asli Pahit mulai ramai.
Aroma kopi pekat bercampur asap gorengan RONDO ROYAL, dan para anggota Persatuan Penikmat Si Hitam Pahit sudah duduk melingkar seperti dewan rakyat pinggiran yang tak digaji tapi lebih waras dari parlemen beneran.
Di tengah lingkaran itu duduk sosok legendaris:
Mbah Jogo Kopi Pahit Kental, rajanya kopi jalanan Mojokerto.
Kulitnya legam terkena matahari, pikirannya terang terkena pengalaman, dan mulutnya… alamak, lebih tajam dari komentar netizen.
Mbah Jogo mengawali obrolan dengan suara berat:
“Rek, arek - rek, aku bar baca berita online lokal. Ada tokoh jenenge Encep Gendon. Klo omong asal ngablak. Gayane sok politikus, tapi politikus demagog.
Omong besar, kerja ora ono alias tikusguran (politikus pengangguran). Mirip bakul jamu sing sambil memainkan sulapan ‘bim salabim’.”
Para penikmat kopi mengangguk, bukan karena setuju, tapi karena sudah kebanyakan dengar model begitu di Mojokerto.
Mbah Jogo lanjut:
“Encep Gendon iki ngomong pemerintahan Mojokerto saiki Lebih MAJU, ADIL & MAKMUR, pemerintahan terbaik di Indonesia Raya, gak ada jual beli jabatan. Katanya pemerintahan baru bakal gemilang…”
Belum sempat Mbah Jogo lanjut,
tiba-tiba GONDES, rocker KW, pinggir jalan yang rambutnya gondrong tapi jarang keramas, nyeletuk keras sambil memutar rambutnya:
“Mbahhh… Encep Gendon iku sopo? Omongane kok cik LINCIPE?
Omongane ngalor-ngidul kayak dia itu politikus kakap wae!
Bupatine ae gak pernah ngomong blas… seng penting glowing kata kid zamannow! Wahahaha!”
Seketika warkop meledak tawa.
Gelas bergetar, gorengan hampir mental.
Dari pojok, muncul suara serak Dargombes, penikmat kopi yang logatnya seperti komentator wayang Meksiko:
“Wis jarno, Ndes… Encep Gendon ngomong kayak sing duwe Negoro Alengka Dirojo…”
Belum sempat yang lain mencerna, GONDES langsung nyamber lagi:
“LOHHH… ALENGKO?
Berarti dia RAHWANAAAA wkwkwkwkwk!”
Tawa pecah lagi, kali ini lebih keras.
Sampai-sampai Mas Tris yang goreng Rondo royal di dapur bilang:
“Tambah akeh sing konangan iki…”
Mbah Jogo angkat tangan, tanda dia mau menutup sesi seperti ketua sidang warkop:
“Rek arek - arek… wong sing omonge sebakul tapi kerjane ora ketok, kuwi biasane bukan pemimpin… tapi bakul jamu.
Kaya permainan sulap pasar malam: meriah, rame, tapi ora iso ngilangke harga beras sing terus merangkak naik.”
Hening sebentar.
Semua menatap gelas kopi masing-masing.
Lalu GONDES, seperti biasa, memecah hening dengan suara sumbang:
“Mbah… nek Encep Gendon, Rahwana, terus yang berperan sebagai Shinta sopo?”
Dargombes menjawab cepat:
“Shinta ne yo… panggung politik Mojokerto, sing kerep diculik sana-sini!”
Dorrr…
Gelak tawa kembali pecah.
Kopi pahit tersedak, Rondo Royal hampir mental dari piring.
Begitulah sore itu.
Di warkop pinggir jalan, politik dibahas tanpa mikrofon, tanpa podium, tanpa protokol,
tapi jauh lebih jujur daripada rapat paripurna mana pun.
Yang pahit bukan kopinya.
Yang pahit itu…
realita yang mereka olok-olok sambil tetap tertawa.
“Encep Gendon, Berperan Loman, Membuat Mbah Jogo Mesem Kecut.
Selepas tawa soal Rahwana tadi reda, Mbah Jogo belum selesai.
Ia menyulut rokok kretek, meniup asap perlahan, dan berkata dengan suara seperti radio tua tapi masih nyetrum:
“Rek, arek - arek… Encep Gendon iku sejatine dudu tokoh.
Ditokohkan karo poro ponokawane… sing do jilat-jilat ben entuk rezeki.
Dadi malaikat di mata mereka, padahal yo… kowe ngerti dhewe.”
Para penikmat Si Hitam Pahit saling pandang.
Mereka paham:
banyak orang yang “ditokohkan”, padahal cuma blantik gedang.
Mbah Jogo melanjutkan, sambil nyruput kopi pahit kental:
“Encep Gendon iki loman tenan…
Tapi sing dadi pitakonane: duit sak ngunu iku teka endi?
Wong Mojokerto yo pinter ndelok…
Encep Gendon dikenal pengepul massa politik.
Kumpulno wong, dikirimno calon dewan, calon kepala daerah.
Yo mesti ada sponsor, ada transaksi, ada wis-wayahé.”
Gondes langsung nyeletuk lagi, sambil merapikan rambut gondrongnya yang mulai menutupi mata:
“Wahhh… wes ketok rek! Nek Encep Gendon loman luar biasa padahal kerjaan gak jelas… yo jelas…
DUIT NGGAK BAU, tapi JEJAKNYA BAU!”
Seluruh warkop ketawa, tapi ketawanya getir.
Tahu betul, bau-bau beginian sering nongol menjelang pemilu.
Lalu Mbah Jogo menjatuhkan “bom” informasi yang bikin warkop mendadak sunyi:
“Wong iki rek…
wes tau diperiksa KPK jaman kasus MARKUS…
Jual beli jabatan di daerah tonggone Suroboyo Barat…”
Gondes kaget, matanya melotot seperti ikan asin kaget kena cabe rawit:
“Mbahhh… sampean kok iso ngerti?
Sampean ra tau metu Mojokerto, ora duwe HP gendroid…
Tahu kabar kuwi dari endi?”
Mbah Jogo santai saja, seperti profesor kampung menjelaskan tesis:
“Lho yo aku ngerti saka televisi nasional tahun 2020-an.
Waktu kuwi Mak Kolipah dadi Gubernur…
Umure kayak padi sing baru ditanam, durung metok godhong…
Yo wes rame kasus e, Encep Gendon kuwi.”
Gondes, Dargombes, pakde Breng, Wak Polo, semua langsung serempak:
“Ooooooo… BEGICU TOOOOO!”
Lalu—dorrrrr!
Tawa meledak seperti ban meletus kena paku jebakan tikus.
Pas meledak tawa itu, tiba-tiba dari sebelah warkop terdengar suara:
“P L A R I S S S S S !!!
Sopo sing ban e pecah? Ayo tak tambal!”
Ternyata itu Wakidi, tukang tambal ban langganan para penikmat kopi.
Dia salah paham, mengira ada ban bocor beneran karena suara tawa mbledos bareng tadi.
Gondes gak mau ketinggalan:
“Wakidi… sing bocor kuwi dudu ban, tapi utang moral Encep Gendon!
Nek KPK teko, yo mbledoss tenan!”
Suasana warkop pecah lagi.
Sampai-sampai Rondo Royal hampir mental dari piring saking hebatnya gelak tawa.
Mbah Jogo mengakhiri:
“Rek, arek-arek… wong sing ditokohkan bukan karena prestasi, tapi karena uang dan jilat-jilatan…
kuwi ibarat kopi instan:
aromane rame, rasane manis… tapi gak nyedak ati.
Nek waktune tiba… yo ngerti dewe.”
Semuanya mengangguk pelan.
Kopi pahit ditelan, realita lebih pahit dirasakan.
PESAN MORAL DARI WARKOP SI HITAM PAHIT
Ketika tawa para penikmat kopi mulai mereda, warkop kembali hening. Hening yang bukan kosong, tapi penuh makna.
Mbah JOGO meletakkan gelas kopinya, menatap lurus ke jalan raya yang mulai gelap, lalu berkata pelan namun menggetarkan:
“Rek, arek arek…
Saiki iki pancen jaman edan.
Yen ora melu edan, ora keduman.
Iku Tondo Jaman Joyoboyo Wis Cedak.
Akeh Menungso , Ngutamakno duit.
Lali Kemenungsane, Lali Kebecikan.
Lali Sanak, Ugo Lali Kadang.
Ngertine Mung Urip Mukti,
Ngumbar Napsu Angkoro Murko,
Nggedek ake, Durhoko.
Saiki Sing Lagi Digandrungi Yo Iku,
Ing Ngarso Numpuk Bondo,
Ing Madyo Mangan Konco,
Tut Wuriiii…..Nggolek Rai…
Semua diam.
Angin sore Mojokerto mengalir membawa aroma kopi pahit dan renungan yang tak bisa ditawar.
Lalu… Mbah JOGO melanjutkan, seperti memberi wejangan terakhir sebelum warkop tutup:
“Tapi elingo…
Edan sing dimaksud Ronggowarsito kuwi edan cara berpikir,
dudu edan moral.
Kowe iso cerdas tanpa culas.
Kowe iso waras tanpa harus nyembah wong sing ditokoh-tokohkan.
Kowe iso urip terhormat tanpa duwit haram.
Wong apik kuwi ora kudu rame,
nanging ninggal jejak sing ora gawe ciloko wong liya.”
Para penikmat kopi mengangguk pelan.
Pesan itu seperti kopi pahit: getir saat pertama ditelan,
tapi hangatnya lama tinggal di dada.
Gondes, yang biasanya mletek, kali ini cuma bisa gumun:
“Mbah… berati sing penting kuwi dudu gaya,
tapi laku urip?”
Mbah JOGO tersenyum, wajahnya penuh pengalaman:
“Yo ngono, Ndes…
Saiki akeh wong golek panggung,
nanging luput golek pangapurane marang Gusti.”
Warkop pun hening lagi.
Namun hening yang membuat semua lebih waras.
Lalu, dengan suara ringan namun dalam, Mbah JOGO menutup:
“Dunia iki gampang goyah, rek…
Nanging wong sing ati lurus,
InsyaAllah ora bakal melu ambruk.”
Dan seperti itu, cerita pun selesai.
Bukan dengan teriakan, bukan dengan sumpah serapah,
tapi dengan wejangan yang mengingatkan:
bahwa di tengah hiruk-pikuk politik,
di tengah orang ditokohkan tanpa layak,
di tengah jaman edan…
Tetepno ati.
Jujur.
Meski kadang pahit, tapi nggone bener.
