PARIPURNA DALAM BAYANG-BAYANG KPK. LSM DATANG TANPA UNDANGAN, DEWAN MENDADAK KEDER
-Baca Juga
Graha Whicesa – 29 November 2025
Gedung Graha Whicesa disorot lampu sore, dengan siluet sejumlah aktivis LSM berdiri di pintu masuk.
Di latar belakang, terlihat palu sidang DPRD dalam bayangan besar KPK yang samar.
PARIPURNA DI BAWAH BAYANG-BAYANG
Dua Hari Setelah SUPERVISI KPK, 40 LSM Hadir Tanpa Diundang
Wakil Rakyat Gelisah, Pegawai Sekwan Gemetaran
Majelis Paripurna APBD 2026 yang biasanya sepi mendadak menjadi panggung psikologis penuh ketegangan.
PARIPURNA TAK BIASA
Hujan baru reda. Udara Mojokerto sore itu sejuk.
Tapi di Graha Whicesa, hawa tegang berkeliaran seperti kabut.
Sidang Paripurna DPRD Kabupaten Mojokerto yang biasanya berjalan formal dengan sedikit penonton, sore itu berubah drastis.
Sekitar 40 aktivis LSM muncul tanpa aba-aba.
Tidak membawa spanduk.
Tidak berorasi.
Tidak membawa mobil komando.
Justru karena senyap, suasananya menjadi lebih menggetarkan daripada demo besar.
KEHADIRAN YANG MEMBUAT WAKIL RAKYAT KEDER
“Iki sakjane ono opo, kok akeh LSM?”
Suara lirih itu keluar dari seorang pegawai Sekwan, nadanya setengah panik.
Biasanya hanya ada 1–2 wartawan.
Hari ini, 40 LSM lintas bendera duduk rapi di kursi tamu.
Seorang polisi penjaga pun mendesis pelan,
“Iki kok rasane kaya sidak bareng-bareng, rek…”
Dari kursi dewan, beberapa wajah berubah tegang.
Beberapa anggota DPRD mulai gelisah, main HP padahal sinyal sedang penuh.
Ada tekanan yang tak terlihat, tapi terasa.
JEJAK SUPERVISI KPK
Dua hari sebelumnya, SUPERVISI KPK mengguncang Mojokerto Raya.
Pemeriksaan maraton.
Wajah-wajah pucat.
Ketegangan di lorong-lorong.
Beberapa pejabat keluar ruangan sambil teriak kecil melepas syaraf yang “nyut-nyutan”.
Aromanya masih terasa.
Dan ketika 40 LSM datang ke Paripurna APBD 2026…
Banyak yang langsung paham:
Publik sedang membuka babak lanjutan.
Aktivis LSM berbisik:
“Kami hanya ingin tahu… sikap dewan pasca supervisi KPK.”
Kalimat pendek tapi berat.
REAKSI DEWAN: NGIBRIT DAN NGUMPET
Yang paling menarik bukan kedatangan LSM-nya.
Yang lebih menarik adalah reaksi para wakil rakyat.
Beberapa anggota DPRD tampak sering keluar masuk ruang sidang.
Ada yang jalan cepat ke lorong.
Ada yang masuk ruang rapat kecil.
Ada yang berpura-pura mengangkat telepon.
Sesampainya di ruangan lain, mereka menyalakan rokok, tarik napas panjang, lalu berkata lirih:
“Kok akeh LSM, yo…”
Nada keder yang tak bisa disembunyikan.
Beberapa anggota dewan bahkan menghindari kursi paripurna dan memilih “ngumpet” sementara LSM masih duduk memantau.
SIDANG BERJALAN, TAPI ATMOSFER BERUBAH
Susunan acara berjalan:
Pendapat akhir fraksi-fraksi
Laporan Banggar
Laporan Pansus VII
Pendapat akhir Bupati
Penetapan Raperda APBD 2026
Penandatanganan persetujuan bersama
Semua formal, semua rapi.
Tapi suasananya tidak.
Setiap fraksi membacakan pendapat dengan nada yang sedikit getaran.
Beberapa tangan dewan tampak gemetar kecil saat membalik halaman.
Beberapa lain melirik ke arah bangku tamu:
LSM masih duduk. Masih memperhatikan. Masih mencatat.
Tidak ada yang berani melawak.
Tidak ada interupsi bersahutan.
Semua berjalan rigid.
Seolah seluruh gedung diselimuti satu kalimat:
“Ati-ati, rek… wayahe diawasi.”
SUARA-SUARA PEGAWAI SEKRETARIAT
Seorang pegawai Sekwan sempat mondar-mandir membawa dokumen.
Wajahnya tegang, tapi ia berusaha tersenyum ke media.
Saat kembali ke ruangannya, ia bergumam:
“Alah, aku iki tegang sakjane… LSM akeh ngene iki jarang-jarang.”
Pegawai lain bahkan sempat memejamkan mata sebelum masuk ruangan sidang, seolah menyiapkan mental.
Tapi begitulah.
Hari itu bukan Paripurna biasa.
LSM: MENGAMATI TANPA SUARA
Yang hadir adalah perwakilan LSM dari berbagai spektrum:
antikorupsi
pemerhati APBD
pemantau kebijakan publik
aktivis hukum
aktivis desa
penggiat transparansi anggaran
Mereka duduk rapi.
Tidak ada yang ribut.
Tidak ada yang mencaci maki.
Justru ketenangan mereka itulah yang membuat efek psikologis.
Aktivis LSM berkata pelan:
“Kami tidak demo. Kami hanya mengawasi.”
Dan bagi pejabat,
kadang kata “diawasi” lebih menakutkan daripada kata “demo”.
PALU TERAKHIR, TEGANG MASIH MENINGGAL
Pukul mendekati senja, palu terakhir diketuk.
Sidang selesai.
LSM berdiri, saling bersalaman, lalu pulang perlahan.
Tidak ada keributan.
Tidak ada dorong-dorongan.
Tidak ada suara tinggi.
Namun jejaknya tertinggal.
Beberapa anggota dewan keluar dengan wajah lega seolah baru lolos dari tekanan darah tinggi.
Pegawai Sekwan menarik napas panjang:
“Syukurlah rampung. Aku wes ora kuat tegang e…pingin pipis ”
PARIPURNA INI BERAKHIR,
TAPI PENGAWASAN PUBLIK BARU DIMULAI.
Setelah dua hari supervisi KPK,
dan sore ini 40 orang LSM mengawasi sidang Paripurna APBD,
satu pesan besar muncul:
“Mojokerto sudah berubah.”
Era di mana sidang kantoran berjalan tanpa pengawasan masyarakat telah berlalu.
Kini publik hadir, mengawasi, mencatat, dan siap turun kapan saja.
Dan untuk dewan yang gelisah sambil ngumpet merokok,
mungkin inilah sinyal bahwa:
Ruang sidang bukan lagi ruang aman.
Rakyat sudah duduk di barisan kursi tamu.
