Belajar Sampah ke Jepang, Tapi Lupa Realitas di Kota Mojokerto
-Baca Juga
Adegan di Tokyo
Helm putih terpasang rapi. Rompi keselamatan menutup mantel hitam musim dingin. Kamera merekam setiap langkah.
Di sebuah fasilitas industri milik JFE Engineering Corporation, salah satu raksasa engineering Jepang, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari tampak menyimak penjelasan tentang bagaimana sampah di Jepang diolah menjadi energi, bahan baku industri, dan sumber daya bernilai ekonomi.
Narasi yang dibangun sederhana, bahkan terdengar mulia:
sampah tidak lagi menjadi masalah, tetapi peluang.
Video dan foto kunjungan itu beredar cepat di media sosial. Komentar pun mengalir. Ada yang memuji visi global sang wali kota. Namun tak sedikit pula yang bertanya lirih: untuk siapa dan sejauh apa manfaatnya bagi Kota Mojokerto?
Realitas di Rumah Sendiri
Kota Mojokerto bukan Tokyo.
Ia hanya memiliki tiga kecamatan, wilayah yang relatif sempit, dengan APBD terbatas dan ketergantungan tinggi pada dana transfer pusat. Sistem pengelolaan sampahnya masih berkutat pada persoalan mendasar: keterlambatan angkut, tumpukan di TPS, dan rendahnya disiplin pemilahan dari rumah tangga.
Dalam beberapa waktu terakhir, kenaikan retribusi sampah justru memantik protes warga. Di sejumlah wilayah, layanan belum konsisten, tetapi tarif sudah naik lebih dulu.
“Bayarnya naik, tapi sampah masih sering telat diangkut,” keluh seorang warga di kawasan Prajurit Kulon.
Di sinilah jarak antara narasi global dan realitas lokal mulai terasa menganga.
Teknologi Tinggi, Sistem Rendah
JFE Engineering bukan perusahaan sembarangan.
Mereka mengelola fasilitas waste-to-energy, chemical recycling, dan industrial recycling berskala raksasa. Teknologi yang dipamerkan di Jepang beroperasi dengan prasyarat ketat:
pemilahan sampah sejak rumah,
disiplin warga yang tinggi,
sistem birokrasi presisi,
serta investasi ratusan miliar hingga triliunan rupiah.
Bagi kota kecil seperti Mojokerto, teknologi semacam ini bukan sekadar mahal, tetapi belum relevan secara struktural.
Tanpa sistem dasar yang kuat bank sampah aktif, TPS 3R yang berjalan, off-taker plastik yang jelas kunjungan ke pabrik secanggih apa pun berisiko berakhir sebagai wisata kebijakan: indah di foto, kabur di implementasi.
Pertanyaan Anggaran yang Menggantung
Di balik semua itu, muncul pertanyaan publik yang hingga kini belum terjawab secara terbuka:
Masuk pos anggaran apa perjalanan luar negeri ini?
Berapa total biaya yang digunakan?
Berapa orang yang ikut serta dan berapa hari kunjungan dilakukan?
Apakah sudah ada izin resmi dari Gubernur Jawa Timur dan Kementerian Dalam Negeri?
Dalam praktik pemerintahan daerah, perjalanan dinas luar negeri kepala daerah bukan urusan sepele. Ia harus disertai surat tugas, persetujuan berjenjang, serta pertanggungjawaban anggaran yang transparan.
Tanpa penjelasan rinci, publik berhak curiga: apakah manfaatnya sebanding dengan biaya yang dikeluarkan?
Politik Simbol dan Pencitraan
Tak bisa dipungkiri, kunjungan luar negeri selalu punya nilai simbolik.
Ia memperkuat citra kepemimpinan visioner, membuka jejaring internasional, dan menjadi modal narasi politik.
Namun sejarah kebijakan publik di banyak daerah menunjukkan pola yang berulang:
kunjungan studi, dokumentasi, seminar hasil, lalu menguap tanpa eksekusi nyata.
Bagi sebagian pengamat, kunjungan ke Jepang ini lebih dekat pada investasi citra ketimbang investasi sistem.
Apa yang Sebenarnya Bisa Ditiru?
Jika Mojokerto ingin jujur pada dirinya sendiri, pelajaran dari Jepang tidak perlu mahal dan megah.
Yang bisa ditiru justru hal paling dasar:
Disiplin sistem, bukan mesin mahal
Pilot project kecil, bukan proyek mercusuar
Keberanian menegakkan aturan, bukan sekadar sosialisasi
Konsistensi anggaran, bukan lonjakan retribusi tanpa perbaikan layanan
Tanpa itu semua, mimpi mengubah sampah menjadi berkah hanya akan tinggal slogan.
Di Persimpangan Janji dan Kenyataan
Kunjungan Wali Kota Mojokerto ke Jepang bukanlah kesalahan.
Namun menjualnya sebagai solusi cepat bagi problem struktural kota kecil adalah ilusi berbahaya.
Sampah tidak berubah menjadi manfaat karena teknologi canggih semata.
Ia berubah karena sistem yang bekerja, warga yang disiplin, dan birokrasi yang profesional.
Dan di situlah Kota Mojokerto masih harus bercermin.
Pertanyaan paling jujur hari ini bukan tentang apa yang dilihat di Tokyo,
melainkan apa yang akan dikerjakan sepulangnya di Mojokerto.
Apakah kunjungan ini akan melahirkan kebijakan nyata,
atau sekadar menambah album dokumentasi perjalanan dinas?
Waktu dan transparansi akan menjawabnya.
“Belajar Sampah ke Jepang vs Realitas Kota Mojokerto”
TOKYO (IDEAL)
JFE Engineering Corporation
Skala: ratusan ton/hari
Investasi: ratusan miliar–triliunan
Sistem:
Pemilahan dari rumah
Disiplin warga tinggi
Industri daur ulang matang
Output:
Energi
Bahan baku plastik
Chemical feedstock
Teknologi tinggi
Sistem matang
Budaya disiplin
KOTA MOJOKERTO (FAKTA)
3 Kecamatan
APBD terbatas
Sampah:
Belum terpilah
Angkut sering telat
Warga:
Belum Semua Disiplin
Protes retribusi naik
Infrastruktur:
TPS 3R belum optimal
Bank sampah belum masif
Sistem rapuh
Budaya belum siap
Anggaran terbatas
ANGGARAN & TRANSPARANSI
Pos anggaran perjalanan dinas LN?
Jumlah peserta?
Lama kunjungan?
Total biaya?
Izin Gubernur & Mendagri?
Data belum dibuka ke publik!
RISIKO:
Wisata kebijakan
Pencitraan elit
Janji tanpa roadmap
Beban APBD
Kekecewaan publik
PERTANYAAN KEBIJAKAN UNTUK WALIKOTA MOJOKERTO:
ANGGARAN
Berapa total anggaran kunjungan ke Jepang ini dan masuk pos belanja apa dalam APBD Kota Mojokerto?
ROMBONGAN
Berapa orang yang ikut dalam kunjungan ini, dari unsur apa saja, dan apa dasar pemilihannya?
DURASI & OUTPUT
Berapa hari kunjungan dilakukan dan apa output tertulis yang dihasilkan (laporan, rekomendasi, MoU)?
IZIN RESMI
Apakah perjalanan dinas luar negeri ini telah mendapat persetujuan Gubernur Jawa Timur dan rekomendasi Kementerian Dalam Negeri? Bisa dibuka ke publik?
ROADMAP
Apa roadmap konkret pasca-kunjungan ini? Program apa yang akan dijalankan, kapan, dan dengan anggaran berapa?
PRIORITAS
Di tengah protes kenaikan retribusi dan masalah pengangkutan sampah, apakah perjalanan luar negeri ini lebih prioritas dibanding pembenahan sistem dasar?
AKUNTABILITAS
